Seruling Gading Mbah Ismar


Menikmati nomor tembang bawaan Kiai Kanjeng di masa dua puluh tahun silam, saya sangat terhanyut dengan Tuhan Aku Berguru Kepadamu. Bukan semata-mata nomor tersebut berupa karya musikalisasi puisi yang apik bin nyamik, tetapi yang membuat jiwa dan batin pendengarnya hanyut, nglangut, dan khusyuk adalah alunan intro seruling yang membukanya. Dalam beberapa penampilan seruling yang ditiup berupa seruling bambu biasa. Namun dalam beberapa penampilan yang sempat ditayangkan di tivi, kadang juga mempergunakan fluite modern. Apalah arti bambu dan besi tanpa sosok yang meniupkan ruh dari alunan seruling tersebut. Dan sosok itu adalah Mbah Is, atau lengkapnya bernama Mbah Ismarwanto.

Dari sisi prainan alias raut muka maupun penampilannya, sosok yang satu ini nampak sekali kesederhanaannya. Di samping sederhana dalam pakaian, sosoknya yang sudah sepuh juga menampilkan pribadi yang seolah pendiam namun sangat murah senyum. Sebagaimana lengkingan nada seruling yang hanya sekali-kali lewat dalam sebuah aransemen tembang namun memiliki karakter yang kuat nan menghanyutnya, demikian halnya dengan solah bawa serta pembawaan tutur kata dan sikap dari Mbah Is itu sendiri. Hal ini tentu tidak berlebihan karena secara rata-rata Mbah Is termasuk deretan personil paling senior dari segi umur. Ya bisa dibilang dialah sosok sesepuh yang paling sepuh diantara personil Kiai Kanjeng.

Seumumnya seruling bambu terbuat dari jenis bamboo yang berwarna kuning gading. Orang biasa menyebutnya sebagai bambu gading. Perihal Mbah Is dengan seruling gadingnya ini, terus terang pada setiap penampilannya dalam mengiringkan musik-musik Kiai Kanjeng membuat saya berangan-angan tentang sosok pendekar bernama Seruling Gading. Tokoh yang dihidupkan dalam dongeng karangan Ko Ping Ho itu seolah-olah benar-benar mangejawantah dalam diri dan sosok Mbah Is. Ya gerak tubuhnya. Ya tutur sapanya. Ya kelembutan tiupan serulingnya. Terutama kekuatan di balik alunan seruling yang menyentuh hingga ke lubuk jiwa.

Dalam cerita itu dikisahkan tentang sosok pemuda dari lereng Gunung Lawu bernama Permadi. Ia yatim piatu semenjak usia belia. Kedua orang tuanya menjadi korban pengkhianatan pendekar sesat yang menjadi antek Kompeni Belanda dan memusuhi Kanjeng Sultan Agung di Mataram. Ia kemudian berguru kepada Resi Tejo Wening di Puncak Argodumilah. Dari gurunya inilah ia mewarisi pusaka seruling gading yang kemudian menjadi julukannya di rimba persilatan. Sebagaimana amanat kedua orang tuanya sebelum meninggal dan juga titah dari gurunya, ia curahkan segala jiwa raganya untuk turut mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Dan siapa yang menyangsikan sikap dan sifat Seruling Gading ini tidak ada pada sosok Mbah Is kita?

Kalau terkait nama Ismar dari Ismaryanto tentu mengingatkan kita semua kepada tokoh Semar sebagai sesepuh para panakawan. Meskipun sejatinya ia seorang dewa namun ia justru menyamarkan diri sebagai manusia biasa. Tidak menjadi raja, ksatria, resi, ataupun pendeta. Tetapi ia justru memilih menjadi seorang pamomong alias batur. Batur bukanlah pembantu, jongos, ataupun asisten sebagaimana diistilahkan di masa sekarang. Batur adalah embat-embatane atur. Batur adalah sosok orang yang senantiasa dikeluhkesahi oleh para bendoronya. Senantiasa mendengarkan segala keresahan dari orang lain untuk sekedar mengurangi rasa ketegangan pikir maupun justru meminta nasehat dan panduan hidup darinya. Itulah sosok batur, sepele di mata manusia namun mulia di mata Tuhan.

Sederhana dan kesederhanaan bagi Mbah Is sendiri. Hidup apa adanya tanpa pernah dibuat-buat. Sebagian orang mengenalnya sebagai tukang klithik di salah satu pasar barang bekas di Jogja. Di sela-sela waktu senggang apabila Mbah Ismar sedang tidak mengiringkan perjalanan Kiai Kanjeng, hari-harinya yang biasa diisi dengan jualan barang bekas itu. Seringnya tampil di atas panggung, bahkan dengan kepiawaiannya meniupkan seruling gadingnya ia sudah menjadi maestro yang linuwih namun tidak menjadikannya lupa ataupun sengaja melupakan asal-usul kehidupannya sehari-hari. Ia jalani semua itu dengan penuh kepercayaan diri. Dengan penuh kebersahajaan, tanpa malu ataupun menutup-nutupi sesuatu dari pandangan orang lain.

Kemarin sedikit terlambat mendengar kabar kepergianmu, Mbah Is. Seolah tidak percaya dengan kabar itu, namun inilah kenyataan. Kita semua sangat ingat betul pernyataan Cak Nun di pembuka tahun ini bahwasanya setelah kepergian Mas Yon Koes Plus, di tahun ini akan banyak sosok-sosok orang baik, orang berjasa, orang luar biasa yang dipanggil menghadap-Nya. Darmanto Jatman, Advent Bangun, Sujud Kendang, Gareng Rakasiwi, dan kali ini Mbah Is.

Sugeng tindak Mbah Ismarwanto. Mugi tansah manggih tentrem ing kasedan jati. Gusti Allah, Kanjeng Nabi Muhammad, Kanjeng Sunan Kalijaga, Mas Zaenal, Pak Ndut, Bang Andi Priok, Mbah Surip, dan siapapun para insan sejati kekasih Allah tentu menyambutmu dengan penuh suka cita di alam sana. Selamat jalan. Hilang satu pasti tumbuh seribu.

Tepi Merapi, 27 Februari 2018

Foto Pak Is dipinjam dari sini dan Pendekar Seruling Gading dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s