Kaya Bukan Pilihan Simbah Ini


Bagi semua orang di jaman hedonisme ini, hidup kaya merupakan sebuah tujuan hidup yang utama. Orang susah payah belajar, sekolah, dan kuliah buat apa kalau akhirnya tidak kaya? Orang bekerja keras, jadi petani, pedagang, tukang becak, pegawai pemerintah, karyawan kantoran, birokrat, politisi, kalau tidak bias kaya buat apa? Kaya seolah telah menjadi cita-cita bagi semua orang. Bahkan tidak sedikit dari manusia yang berprinsip untuk bias muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.

Lha emangnya kaya itu tidak boleh po? Memangnya menjadi orang kaya itu dilarang? Tentu saja tidak! Mau jadi orang tidak berpunya maupun orang kaya raya tokh dua-duanya memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi orang yang baik. Kaya dengan harta yang berkah dan bermanfaat bagi sesama, tentu baik. Biarpun miskin selama menjadi orang yang jujur, rajin berusaha, giat bekerja dan beribadah, tentu iapun orang baik. Tetapi sayangnya di jaman yang semakin edan ini, semakin banyak orang bercita-cita menjadi kaya tetapi tidak mau berusaha. Ingin kaya tetapi menghalalkan segala cara. Di sinilah letak penyakit jiwa akut yang kemudian menjadi destruktif bagi kemaslahatan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Lha emangnya ada orang jaman sekarang yang tidak mau menjadi kaya? Adalah! Mbah Warno salah satu contohnya. Ia adalah sosok manusia yang pernah saya gambarkan sebagai manusia ono dino ono upo.

Mbah Warno sosok sepuh yang telah melampaui usia 80 tahun ini sungguh sangat bersyukur diberikan keberkahan umur panjang. Ia berkaca kepada teman-teman seumurannya yang kebanyakan sudah meninggal. Banyak diantaranya yang meninggal di usia paruh baya. Karena sakit inilah, sakit itulah. Karena sebab ini, sebab itu dan lain sebagainya. Fenomena tidak panjangnya umur itu kemudian disimpulkan oleh Mbah Warno sangat berkaitan erat dengan keberkahan hidup yang tidak lepas dari rejeki yang halal.

Tidak sedikit diantara teman-temannya yang berprinsip hidup harus kaya. Yang penting sugih. Nggak urusan dengan bagaimana caranya menjadi kaya itu. Ya, ada yang memburu pesugihan ke Goa Langse. Ada yang berlaku korup atau tidak jujur, menipu orang, dan tindakan tercela lainnya. Bagi Mbah Warno menjadi kaya dengan jalan seperti itu tidaklah benar. Ia yakin harta yang dihasilkan dari cara yang tidak baik akan membawa petaka dan kesengsaraan hidup. Manusia yang kaya belum tentu bisa merasakan rasa bahagia. Kaya dengan cara yang salah hanya akan membawa ketidaktentraman hati dan jiwa seseorang.

Mbah WArno sering berujar kepada anak dan cucunya, “Kalau dirinya hanya ingin kaya seperti teman-temannya, sudah sedari dulu ia bias menjadi kaya. Tetapi hidup yang benar, yang taat kepada Gusti Allah itu harus ditegakkan sesuai dengan aturan-Nya. Ada paugeran agama yang menegaskan boleh tidaknya sebuah usaha. Halal atau haramnya sebuah ikhtiar mencari harta. Inilah yang semakin ditinggalkan dan dilupakan orang. Nek ngono ya wis, monggo kerso.”

Tepi Merapi, 24 Februari 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s