Rejeki Takkan Kemana


Slametan, kenduri, ataupun bancakan masih mentradisi di lingkungan tempat tinggal kami. Semalam atas undangan dari salah seorang tetangga, saya dan si Ponang mengikuti acara selamatan di rumah salah satu warga. Ketika pulang, masing-masing dari kami diberilah berkatan alias paket bancakan. Berhubung salah seorang tetangga yang lain tidak berkesempatan turut hadir, maka setiba di rumah si Ponang saya suruh memberikan berkatan bagiannya kepada tetangga tersebut. Tidak berselang hingga sepuluh menit ada seseorang mengetuk pintu. Lha dalah, lha kok dari shohibul slametan mengirimkan lagi satu paket berkatan. Seolah Tuhan memang sedang bercanda, melepas satu untuk berbagi kok langsung diganti barang yang sama. Kontan lagi tanpa ditunda-tunda.

Sebagaimana jodoh dan maut, rejeki memang di tangan Tuhan. Meskipun manusia wajib berikhtiar, namun hasil akhir tetap ditangan-Nya. Soal kejadian berbagi bancakan berbalas bancakan ini, terus terang kami jadi berpikir dan merenung. Mungkin sebelum kami berangkat ke acara slametan tetangga kami tersebut, para malaikat memang sudah menulis keputusan bahwa dikarenakan yang berangkat dua orang maka masing-masing akan membawa berkatan satu-satu. Namun demikian sebagai orang yang masih paham tentang unggah-ungguh, tata krama dan sopan-santun, kami sadar betul bahwa tidak selayaknya kami ndobel paket bancakan. Maka sedari awal saya weling, wanti-wanti, berpesan sangat serius kepada si Ponang agar nantinya ketika pulang tidak usah turut membawa jatah bancakan. Biarlah orang lain atau keluarga yang lain lebih banyak lagi yang kebagian.

Akan tetapi rencana rupanya tinggallah sebagai rencana juga. Dikarenakan paket berkatan yang disiapkan tuan rumah tersisa banyak, maka semua kepala yang hadir termasuk para bocah dijatah satu paket bancakan. Di samping itu satu sama lain juga diingatkan untuk turut membawakan tetangga kanan-kiri yang tidak hadir pada slametan tersebut. Ya, wislah nggak apa-apa. Tokh hal demikian sudah menjadi keikhlasan dan keridloan yang punya hajat. Kitapun sekedar manut.

Jaman memang telah banyak berubah. Di masa lalu, berkatan adalah sebuah berkah tersendiri bagi sebuah rumah tangga. Berkatan adalah rejeki besar. Di tengah kondisi keluarga kampung yang pada umumnya berekonomi serba pas-pasan, makan enak adalah sebuah keistimewaan tersendiri. Boleh dibilang sangat jarang sebuah keluarga mampu mengkonsumsi seperangkat nasi lengkap dengan berbagai sayur dan lauk-pauknya. Kenduri dengan nasi berkatannya adalah rejeki nomplok yang menumbuhkan kegembiraan tersendiri.

Jaman kini adalah jaman kemakmuran. Perihal makan, hampir setiap warga sudah dapat makan dengan layak. Sehari makan tiga kali adalah hal yang umum. Dengan demikian sudut pandang masyarakat mengenai berkatan dari sebuah acara kenduri juga sudah mengalami pergeseran. Perihal kegembiraan dan keberkahannya kami yakin masih sama dan tidak berubah dari waktu ke waktu. Namun secara praktis yang terjadi terhadap paket berkatannya itu sendiri sudah bergeser. Dikarenakan orang sudah berkecukupan dengan makanan, seringkali mekanan berkatan menjadi tidak termakan oleh peserta acara slametan. Berkatan hanya sekedar dibawa pulang ke rumah, namun jangankan dimakan seringkali makanan tersebut bahkan tidak tersentuh.

Nah di samping ingin menanamkan jiwa berbagi kepada sesama ketika kita berkelimpahan makanan, hikmah terpenting ketika si Ponang saya minta untuk memberikan jatah berkatannya kepada tetangga kami yang tidak berkesempatan mengikuti acara slametan adalah menghindari kemubadziran makanan yang tidak termakan atau tidak tersentuh tadi.

Namun demikian adalah titah dan ketetapan Tuhan bahwa setiap makhluk, setiap manusia telah digariskan untuk mendapatkan jatah rejekinya masing-masing pada suatu momen tertentu. Jika si Ponang malam tadi sudah digariskan untuk menerima rejeki satu paket berkatan, mau dioper-operkan kemanapun paket berkatan jatahnya maka pada akhirnya juga akan kembali paket berkatan yang serupa kepada kami.

Perihal kejadian ini saya jadi teringat sebuah dongengan dari Pak Kyai di kampung halaman semasa kecil dulu. Dikisahkan bahwa Kanjeng Rasulullah pernah menerima suatu kiriman kambing gulai dari salah satu keluarga sahabat. Seketika itu Kanjeng Rasul teirngat kepada sahabat lain yang pernah bercerita sangat ingin menikmati sajian gulai kambing namun tidak pernah kesampaian karena ketidak-mampuannya. Maka gulai kambing itupun tidak jadi disantap Kanjeng Rasul, tetapi malah dikirimkan kepada sahabat yang lain tersebut.

Rupanya pada saat yang sama si sahabat yang diberi gulai kambing tersebut juga tengah mendapatkan kiriman gulai kambing dari sebuah perhelatan akikah salah seorang tetangganya. Demi menghormati kiriman pemberian dari Kanjeng Rasul tentu saja ia tidak menolak pemberian Kanjeng Rasul. Namun setelah diterima, gulai kambing tersebut ia kirimkan kembali kepada tetangga yang lain.

Alkisah tetangga yang  terakhir ini ternyata tengah sakit dan berpantang menyantap gulai kambing. Ia teringat kepada Kanjeng Rasul. Alangkah indahnya jika gulai kambing ini kami kirimkan saja kepada keluarga Kanjeng Rasul. Akhirnya paket gulai kambing itupun benar-benar kembali ke rumah Kanjeng Rasul. Ia hanya berkeliling ke beberapa rumah untuk kemudian kembali ke rumah awal dimana ia singgah pertama kalinya.

Dari segi substansi makanan gulai kambing tidak ada yang mengalami perubahan. Ya aromanya. Ya cita rasanya. Ya kegurihan dagingnya. Akan tetapi dalam satu siklus lingkaran perjalanan saling kirim-mengirim tadi adalah sebuah lingkaran keberkahan yang sungguh luar biasa dan tidak ternilai keindahannya. Itulah wujud sebuah hubungan persaudaraan, kebertetanggaan, kemasyarakatan yang diliputi rasa welas asih berbalut kemuliaan budi pekerti serta akhlak yang dijiwai keimanan dan ketaqwaan Islam yang sebenar-benarnya. Tanpa ada kepalsuan, tanpa ada pamrih duniawi, semua dilandaskan semata-mata demi meraih keridloan dari Sang Maha Pengasih dan Penyanyang.

Rejeki memang tidak akan pernah tertukar. Rejeki takkan pernah kemana. Hanyalah kewajiban bagi manusia untuk senantiasa berusaha dan bekerja. Perihal hasilnya, kembalikanlah kepada Tuhan Yang Maha Kaya.

Ngisor Blimbing, 20 Februari 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s