Rumah Masa Depan Gerbong Tua di Stasiun Purwakarta


Manusia meninggal dimakamkan di tanah pekuburan. Plesetan dari sebuah judul film seri di TVRI di masa jayanya, tanah pekuburan ataupun pemakaman mendapat julukan rumah masa depan. Entah setujua atau tidak, namun faktanya bahwa idiom rumah masa depan yang dipersamakan dengan kuburan sudah menjadi kesepahaman bersama. Tanpa perlu disepakati pada kongres Bahasa Indonesia, rumah masa depan ya tidak salah jika diartikan sebagai kuburan. Demikian kira-kira.

Jika manusia meninggal dikubur, bagaimana dengan makhluk yang bernama gerbong kereta api? Masak ya gerbong yang super panjang itu dikubur pula sebagaimana manusia? Kita tentu sangat sulit untuk bisa membayangkan jika ada kuburan gerbong kereta api. Mungkin akan timbul banyak pertanyaan, seperti apa prosesi penguburannya? Seberapa panjang galian liang lahatnya? Seberapa luas tanah pemakaman untuk puluhan, ratusan, bahkan ribuan almarhum wa almarhummah gerbong-gerbong di suatu negara? Terus bagaimana dengan batu nisannya?

Stop! Jangan dilanjut ya! Jelas pertanyaan-pertanyaan ngayal tersebut berasal dari pikiran yang ngawur. Atau bahkan ngelindur ya Lur? Tetapi boleh percaya boleh tidak, saya tidak sedang ndobos bin ngapusi. Aneh tetapi hal tersebut sungguh sebuah kenyataan. Aneh bin ajaib mungkin istilahnya.

Jika Anda sekali-kali sekedar naik kereta api dan melintas, atau bahkan turun di Stasiun Purwakarta, Anda dapat menemukan sebuah area yang masih berada di kawasan stasiun yang dikhususkan untuk menumpuk rosokan para mantan gerbong-gerbong kereta api. Tidak hanya belasan, mungkin puluhan hingga ratusan ada jumlahnya. Para mantan gerbong tersebut mangkrok saja di sisi peron stasiun yang masih aktif dioperasikan. Tidaklah salah dan berlebihan jika orang yang melihatnya kemudian mengistilahkan area tempat rosokan gerbong kereta tersebut disebut sebagai kuburan gerbong kereta api.

Gerbong kereta tua segera berubah status menjadi mantan alias almarhum-almarhummah bisa jadi disebabkan beberapa hal. Ada yang memang sudah melampaui batasan umur pakainya. Ada yang rusak karena suatu kecelakaan hebat. Ada yang rusak karena didera sakit karatan yang akut. Tuh kan mirip banget dengan sebab-sebab manusia meninggal.

Berbeda dengan jenazah manusia yang dikebumikan alias dikubur, gerbong tua sebenarnya masih menyimpan nilai ekonomis yang lumayan. Jika mayat manusia sekedar menjadi makanan cacing dan binatang tanah lainnya, siapa yang mau menelan mentah-mentah logam besi dan baja yang banyak mendominasi tubuh gerbong kereta tersebut. Paling-paling seiring dengan waktu, justru tubuh mereka digerogoti oleh kerak dan karat. Perubahan cuaca dari panas ke dingin, dari kering ke basah justru akan semakin mempercepat proses pelapukan mereka. Namun demikian proses tersebut akan sedemikan lama dan panjang jika dibandingkan dengan hancurnya jasad manusia.

Sebagai tubuh dan badan logam, cukup dikilokan ke pabrik peleburan besi-baja saja gerbong tersebut dapat cair menjadi uang. Sebagai akibat dari cepatnya laju eksploitasi bahan galian tambang berupa mineral logam di berbagai penjuru dunia, mau tidak mau menyebabkan semakin menipisnya cadangan mineral logam yang tersisa. Di sisi lain, berbagai peralatan yang terbuat dari logam juga seringkali tidak berguna jika telah melampaui usia pakainya. Hal inilah yang menyebabkan produksi produk logam olahan untuk berbagai kebutuhan dunia industri di masa kini berasal dari peleburan barang-barang logam bekas. Istilahnya logam-logam bekas tersebut di-recycle atau didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali. Langkah tersebut dipandang lebih manusiawi dan ramah terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Lalu kenapa para mantan gerbong kereta api justru hanya ditumpuk dan nganggur di “rumah  masa depan” sebagaimana yang ada di Stasiun Purwakarta? Bisa jadi langkah tersebut dilakukan sekedar sambil mengumpulkan gerbong-gerbong kereta bekas untuk di masa depannya masuk ke peleburan logam bekas. Namun dari sudut pandang lain, keberadaan gerbong-gerbong kereta api bekas yang ditata, disusun, ditempatkan pada satu sisi sebuah stasiun juga dapat menjadi daya tarik tersendiri. Saya yang diawal tahun kemarin sempat turun di Stasiun Purwakarta menjadi salah seorang yang menikmati daya tarik tersebut.

Warna-warni gerbong bekas sungguh unik nan nyentrik. Ada gerbong yang polos, bahkan sudah penuh dengan tebaran warna coklat karat-karat yang mengganas. Ada gerbong yang masih menampilkan gambar-gambar ngejreng iklan-iklan berbagai produk barang. Ada gerbong yang penuh dengan lukisan kembang-kembang beraneka ragam. Dan masih banyak lagi coraknya.

Di tengah era eksistensi dunia media sosial saat ini, keberadaan “pemakaman” gerbong kereta api bisa menjadi spot atraktif untuk berselfie ria. Dan hal inilah yang selintas pengamatan saya terjadi di Stasiun Purwakarta. Hampir setiap penumpang kereta yang baru pertama kali menyambangi stasiun yang satu ini menyempat waktu sejenak untuk nampang dan mejeng di depan tumpukan gerbong-gerbong kereta tua. Tentu saja momentum tersebut diabadikan dalam jepretan foto yang kemudian diunggah melalui akun media sosial masing-masing.

Di samping di Stasiun Purwakarta, rumah masa depan gerbong tua sejenis sebenarnya ada di beberapa lokasi. Salah satunya berada di jalur rel kereta api Pantura Jawa Barat yang menghubungkan Stasiun Cikampek dan Stasiun Cirebon. Tidak banyak yang menyadari keberadaannya, tetapi bagi Anda yang merasa penasaran pasti suatu saat akan mengamatinya secara lebih teliti lagi.

Monggo berkereta api. Tut…..tut….tut….

Ngisor Blimbing, 19 Februari 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Rumah Masa Depan Gerbong Tua di Stasiun Purwakarta

  1. rumahpintar256 berkata:

    Coba dimanfaatkan mungkin lebih bagus, 👌👍
    Dibikin kan restaurant atau cafe dari gerbong atau rumah..😁😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s