Prasasti Karya Nan Remeh Temeh


Hal terpenting peran menusia dalam rangka menjalankan tugasnya selaku titah dari Sang Maha Pencipta dalam rangka meng-khalifatullahi alam semesta adalah berkarya. Karya merupakan perwujudan dari rasa dan cipta yang dimiliki oleh setiap insan. Spirit inilah yang semestinya menjadikan manusia aktif, dinamis, kreatif, konstruktif, dan segala hal kebaikan lainnya dalam menjalani kehidupannya. Manusia yang berperan untuk hamemayu hayuning bawana. Turut memperindah, mempercantik, membangun, menumbuhkembangkan tatanan dunia yang harmonis nan seimbang.

Dengan spirit berkarya manusia akan terdorong untuk senantiasa belajar. Mempelajari batu, pohon, air, gunung, bintang-gemintang, bahkan dirinya sendiri dan setiap fenomena yang menyertai pergerakan roda waktu. Segala benda, segala makhluk, serta hal yang berkaitannya dengannya adalah sarana bagi manusia untuk berkarya. Jika hal ini menjadi kesadaran bersama dan menjadi pengamala bagi setiap individu, kelompok masyarakat, bahkan suatu bangsa dan negara, tentu saja mereka akan menjadi sekelompok manusia yang unggul, kreatif, merdeka, dan mandiri.

Suatu ketika saya terketuk sebuah pernyataan up-date status dari seorang rekan di media sosial yang tengah sibuk mengolah bilahan kayu. Mulai dari mendesain, mengukur, memotong, menatah, menyerut, merakit, ia kerjakan dengan penuh ketekunan dan segenap jiwa raganya. Ia sangat asyik, masyuk, ishyik, atau jika boleh kita meminjam kata khusyuk. Padahal ia bukanlah seorang tukang kayu. Tidak memiliki ketrampilan khusus dalam bidang pekerjaan pertukang-kayuan. Ia sekedar menyelami perasaan dan insting seorang tukang kayu. Ia sekedar menukang kayu, tetapi ia bukan seorang tukan kayu.

Maka dari serangkaikan proses menukang kayu tersebut, terciptalah sebuah karya berupa mini rak untuk menempatkan pernak-pernik benda mini yang biasa ditempelkan pada dinding ruang tamu sekedar sebagai penghias atau pemanis ruangan.

Tatkala ada teman lain yang menegurnya, “Lha kalau sekedar benda seperti itu, kenapa mesti repot-repot membuat sendiri? Kan bisa pesan atau beli jadi di tukang! Bahkan benda itu juga banyak dijual orang di pinggiran jalan. Nggak praktis amat sich!”

Pemikiran sebagaimana komentar di atas barangkali sudah menjadi pola pikir kebanyakan orang pada saat ini. Berpikir praktis dan pragmatis. Nggak perlu ribet, repot, susah, dan bercapek-capek badan. Hanya dengan uang sekedarnya kita bisa membeli, bahkan jika tidak ada di dalam negeri kitapun tinggal mengimpor dari luar negeri. Lebih irit dan hemat. Bukankah demikian?

Lalu apa jawaban dari seseorang yang sedang menukang kayu di atas? “ Saya tidak hanya sekedar telah membuat mini rak, saya sedang membuat prasasti prestasi dalam penggalan hidup saya, “ jawabnya penuh kemantapan hati.

Memang kita lebih praktis dan pragmatis tinggal beli, habis perkara. Soal mini rak tadi. Soal baju kita, handphone kita, beras kita, mobil kita, dan apapun yang kita butuhkan. Tetapi kita tidak akan pernah mendapatan kepuasan batin tersendiri yang akan senantiasa tercatat di dalam episode perjalanan hidup kita dengan karya-karya orang lain tersebut. Bahkan dalam konteks hubungan antar negara antar bangsa, bisa jadi kepraktisan dan kepramagtisan jalan hidup yang kita pilih akan menjerumuskan kita kepada sikap ataupun sifat menggantungkan kepada pihak lain. Dan di masa jaman now yang serba instan digital ini, ketergantungan kepada pihak lain, terlebih bangsa lain, sesungguhnya merupakan bentuk dari keterjajahan model baru yang mungkin tidak kita sadari.

Bagaimanapun sesuatu yang coba kita ciptakan sendiri, kita kreasikan, akan lebih tertanam dalam di dalam batin kita. Di kala setiap saat kita pandang, kita akan bertambah takjub bahwasanya Tuhan telah menciptakan tangan-tangan mungil nan tak berdaya dan tanpa perlu menjadi perfesional terlebih dahulu kita bisa berkarya. Di titik itulah betapa kita bersyukur dan semakin merasa lemah di hadapan-Nya. Kerendah-hatian tersebut seungguhnya akan menjadi modal keberkahan bagi setiap individu, kelompok masyarakat, hingga segenap anak bangsa dan negara untuk berkreasi dan berinovasi.

Saya tidak perlu bermuluk-muluk untuk menguraikan gagasan dari pemikiran saya kali ini. Saya sekedar ingin memperlihatkan salah satu contoh karya nyleneh nan unik yang tengah saya tancapkan sebagai prasati karya nan sangat berarti, meskipun mungkin dalam pandangan orang lain terlalu remeh temeh.

Adalah kebiasaan si Noni untuk turut mbonceng sepedaan di akhir pekan. Hal itu sudah berlangsung semenjak ia berusia satu tahun. Pada awalnya si mungil tersebut mbonceng sepeda di depan pada planthangan yang telah saya lengkapi dengan dudukan khas bocah yang sedikit telah saya adaptasi dan modifikasi sesuai kebutuhan. Berhubung si Noni bertambah besar, maka boncengan mungil tersebut semakin tidak muat di pantatnya. Mau tidak mau, si Noni harus mulai membonceng pada boncengan di bagasi belakang.

Berhubung sudah bolak-balik mengecek boncengan bocah di toko online namun tidak segera mendapatkan barang yang sesuai (ya sesuai rupa, sesuai harga apalagi), dan sangat kebetulan pada momen tersebut ada tragedi ember pecah di rumah. Tragedi tersebut anehnya justru mendatangkan inspirasi. Boro-boro menjadikan ember pecah tersebut sebagai pot kembang, apalagi ditukar gereh atau krupuk, ember pecah tersebut justru berubah menjadi kreasi boncengan bocah yang lumayan nyentrik untuk dipasang di bagasi sepeda.

Dengan menambahkan bantal empul di dalamnya, boncengan ember plastik tersebut  Nampak begitu nyaman di pantat si Noni. Walhasil, pada saat mengikuti Funbike dalam rangka HUT Kota Tangerang pekan lalu, boncengan ember tersebut menjadi sorotan banyak orang. Sebagian besar peserta lain memberikan komentar sebagai peserta terkreatif dalam Funbike kali ini dengan memanfaatkan benda yang sudah tidak berharga menjadi sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan. Mungkin aksi ini bisa digolongkan sebagai tindakan recycle.

Tak perlu malu dengan sesimple apapun karya yang pernah kita buat. Karya kita meskipun tak seberapa, tetapi karya tersebut merupakan prasasti sangat bernilai dalam hidup kita.

Ngisor Blimbing, 6 Februari 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Prasasti Karya Nan Remeh Temeh

  1. omjaylabs berkata:

    mantap

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s