Pedagang Tidak Jujur dalam Bus AKAP


Anda pernah naik bus umum yang keluar Tol Cikampek melalui jalur Pantura Jawa Barat. Mungkin bus jurusan Jakarta-Cirebon, Jakarta-Tegal, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Solo, Jakarta-Jogja, pokoke manawae lah yang melitas keluar Cikampek melalui Simpang Jomin. Setelah beberapa belokan, di kanan-kiri jalur bus yang kita lalui banyak toko penjaja oleh-oleh khas Priangan. Ada dodol garut, wajit, peuyeum, aneka kerupuk, dll.

Di daerah lintasan yang banyak toko oleh-oleh inilah biasanya ada satu atau dua orang yang menenteng karung. Mereka biasa menyetop bus untuk kemudian naik. Mereka bukan penumpang selazimnya yang memang ingin naik bus untuk menuju kota tujuan. Dan barang di dalam karung yang ditentengnyapun bukan barang bawaan biasa. Ya, mereka adalah pedagang asongan yang biasa menjajakan aneka makanan oleh-oleh untuk ditawarkan kepada para penumpang bus yang menuju kea rah timur tersebut.

Berbeda dengan pedagang asongan yang biasa menjajakan dagangannya, mereka menerapkan strategi khusus dalam menawarkan dagangannya. Dan mereka menumpang di dalam bus untuk jangka waktu yang cukup lama. Bisa dalam durasi antara 30-45 menit. Lalu bagaimana cara mereka berdagang?

Yang paling biasa pedagang asongan itu memang berpasangan. Satu orang bertindak selaku juru bicara untuk mempromosikan dagangan oleh-oleh yang dibawanya. Senantiasa dinyatakan bahwa oleh-oleh yang dibawanya merupakan oleh-oleh khas yang sangat cocok untuk camilan di perjalanan maupun untuk oleh-oleh sanak-saudara di tempat tujuan. Oleh-oleh tersebut juga diambil langsung dari produsen sehingga dipastikan harganya jauh lebih murah dibandingkan harga di toko oleh-oleh.

Sambil satu orang terus berpromosi, rekan satunya biasanya berkeliling untuk mengedarkan contoh makanan. Satu per satu penumpang ditawari untuk mencicipinya. Ada penumpang yang berkenan untuk mencicipi, namun kebanyakan bagi penumpang yang sudah terbiasa dan hapal dengan cara pedagang model asongan yang satu ini memilih untuk tidak mau mencicipi. Tentu penolakan itupun dilakukan dengan sopan, sekedar berucap terima kasih atau mungkin ungkapan “mboten mas”.

Setelah merata berkeliling, si rekan pedagang tadi kemudian sibuk memasukkan aneka oleh-oleh yang dikemas kecil ke dalam plastik kresek. Mereka segera membuka harga dasar. Untuk lima kemasan oleh-oleh aneka ragam maupun satu jenis ditawarkan dengan harga tertentu, misalnya Rp. 50.000,-. Kresek-kresek itupun segera diedarkan.

Pertama kali si rekan pedagang berteriak bahwa ada penumpang di baris bagian belakang yang ingin beli. Makai a bergegas membawa kresek berisi kemasan oleh-oleh ke barisan penumpang belakang. Kresek itupun kemudian langsung diletakkan di pangkuan salah satu penumpang, atau di sisi kursi yang lega. Sangat bisa dipastikan, meskipun di deretan penumpang belakang tidak ada yang berniat membeli, selalu saja dikatakan ada penumpang yang mau beli. Kepada penumpang yang diletaki kresek hitamnya ia sekedar beucap menawarkan dan minta permisi atau nitip sebentar.

Seiring waktu, si rekan tadi biasanya berpura-pura bahwa ada penumpang yang menawar. Jika sebelumnya satu kresek berisi lima kemasan oleh-oleh ada yang minta ditambah menjadi enam kemasan. Akhirnya dalam satu kresek berisi paket kemasan oleh-oleh enam buah. Selalu dinyatakan ada yang membeli. Kadang uang yang disamarkan sebagai uang bayaran oleh-oleh yang laku dikibas-kibaskan sebagai rejeki awal.

Tak seberapa lama ada lagi yang menawar, minta ditambahi lagi. Si pedagangpun bermurah hati. Ditambah lagi paket satu kreseknya. Dari enam jadi tujuh. Demikian seterusnya, hingga dari lima kemasan pada akhirnya menjadi sepuluh kemasan. Ada memang satu dua orang penumpang yang memang kemudian benar-benar membeli. Mungkin mereka memang sedang butuh buah tangan karena sebelumnya tidak sempat membeli oleh-oleh untuk sanak saudaranya di tempat tujuan. Namun sebagaimana pengamatan saya, kebanyakan dari penumpang tidak terayu untuk membeli.

Di detik-detik terakhir, seringkali para pedagang tersebut melancarkan bisikan paksaan.” Ayolah bos, dikasih murah nggak mau beli, “kira-kira ungkapan serupa itu. Bahkan kepada penumpang yang telah berkali-kali menolak denga tegas dan tidak berminat untuk membeli, sering kresek plastik tadi diletakkan paksa di atas pangkuan.

Fenomena cara ngasong pedagang oleh-oleh seperti di atas sudah sedemikian berlangsung lama. Meskipun tidak seramai dan sebanyak sepuluh-dua puluh tahun silam, tetapi praktik ini hingga kini masih mudah kita jumpai di pintu kleuar Tol Cikampek. Saya sendiri dan kebanyakan penumpang yang lain yang sudah hafal tentu sangat merasakan ketidaknyaman. Bagaimanapun jual-beli adalah soal kerelaan diantara si penjual dan pembeli. Tidak boleh ada paksaan dalam jual-beli. Dan melebihi soal kerelaan diantara kedua belah pihak, membeli juga soal kebutuhan seseorang yang memang ingin dipenuhi. Beli karena butuh. Bukan beli karena dipaksa.

Seiring dengan dibukanya jalur Tol Cipali yang langsung menghubungkan Jakarta hingga Brebes Timur pada saat ini, bus AKAP jurusan “jawa” dari Jakarta yang keluar di pintu Tol Cikampek dan menempuh jalur Pantura Jabar semakin berkurang. Tentu pangsa pasar bagi pedagang asongan “nakal” di atas juga mengalami penurunan. Jika memang rata-rata pedagang “nakal” tersebut menggunakan tricky intimidasi dan paksaan, alangkah baiknya jika seluruh penumpang berkompak untuk menolak membeli oleh-oleh dari mereka. Jika demikian yang terjadi, tentu lambat laut padagang asongan model begituan akan gigit jari dan perlahan akan hilang dengan sendirinya.

Mencari rejeki memang semakin tidak mudah. Tetapi bukan berarti bahwa segala cara harus dihalalkan untuk mendapatkan uang. Pedagang yang sopan, simpatik, dan jujur tentu lebih disukai banyak orang. Dan dari transaksi jual-beli yang terjadi pasti akan mengalir keberkahan. Berkah bagi penjualnya, berkah bagi pembelinya, berkah bagi kru busnya, dan berkah bagi alam semesta raya.

 Apakah Anda pernah memiliki pengalaman yang sama?

Ngisor Blimbing, 29 Januari 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s