ALUMNI CAH DE: SOSOK#D28


Mendengar pertama kali nama teman saya sewaktu di bangku SMP 1 Muntilan yang satu ini, memang ada yang benar-benar terasa aneh. Namanya cukup unik. Sederhana namun sungguh menggelitik. Dan pastinya di luar kelaziman. Jika ada teman yang mengambil nama ikan, seperti Nila, itu biasa. Kata benda. Atau katakanlah nama edi,ning, tentrem, slamet, sugeng, arum, itu kata sifat. Puspa, melati, mawar, menik, mayang, yang ini nama-nama bunga alias kata benda pula. Tetapi khusus teman kami yang satu ini anehnya justru diambilkan dari kata kerja. Anda semua bisa menebak?

Mungkin kala itulah untuk pertama kalinya saya mendengar dan menemukan sebuah nama yang merupakan “kata kerja”. Apa iya? Nama orang kok kata kerja? Sebentar Lur, jangan dianggap saya sedang guyonan lho ya. Ini sungguhan, nama seseorang berasal dari kata kerja. Namanya adalah Sita. Ya kan? Percaya kan? Namanya Sita, kata kerja kan? Lengkapnya Sita Mutiara. Sita lho ya! Bukan Siti lho!  Nama Siti kebetulan ada juga di kelas kami. Dan baru akhir-akhir ini ketika saya nggothak-nggathuke nama-nama teman sekelas yang mirip-mirip nama kembarang, setelah nama Irwan dan Erwin, saya baru teringat ada nama Sita dan Siti.

Di samping menyandang nama dengan kata kerja, Sita teman kita juga memiliki fakta keunikan lain berkenaan setiap hari ia suka di-Demo. Nah, tuh kan komplit. Bahkan bos, bupati atau presiden sekalipun tidak pernah mau setiap hari di-demo kan?

Baik, kembali ke Sita Mutiara. Teman perempuan yang satu ini termasuk yang selama menimba ilmu di bangku SMP menjadi teman sekelas dari mulai kelas 1 hingga kelas 3. Saya masih sangat ingat urutan nomor absennya. Di kelas 1D ia mendapatkan nomor absen 06, sedangkan di kelas 2D dan 3D ia diurutan 28. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa nomor induk yang disandangnya adalah 6525. Kok bisa ngarang begitu Nda? Jika Sedulur semua tidak percaya, silakan tanyakan langsung kepada yang bersangkutan.

Kata sita yang merupakan kata kerja memang tidak begitu lazim dipakai sebagai nama orang. Kata sita, biasanya identik dengan dunia perkreditan, perbankan, pegadaian. Itulah kenapa nama Sita saya anggap memiliki keunikan tersendiri. Nah kalau kebetulan ada teman yang sedang jalan bersama dengan Sita dan kemudian ditanya, “Kamu barengan siapa jalannya?” Maka dijawablah pertanyaan itu, “Ro Sita.” Nah itu juga nama salah seorang teman SMP di kelas yang berbeda dengan kelas kami. Ini bukan kebetulan, tetapi itulah beberapa keunikan nama Sita.

Menurut kesaksian Sdr Sarip yang semenjak masuk SD sudah menjadi teman sealmamaternya, semenjak kecil Sita dikenal sebagai anak imut. Meskipun tidak ingin menyamakannya sengan semut imut, tetapi teman kami ini dikenal dengan pakulitane yang khas hitam manis. Jadilah si Sarip ngekek mendendangkan tembang si Hitam Manis yang ia contek dari dagelannya Sandirono dan Sandirene dari grup kethoprak Wahyu Budoyo Kediri yang dulu tenar sekali di TVRI.

Namanya juga si Hitam Manis, tentu banyak semut-semut yang ingin mendekat. Tentu di masa itu untuk berlaku nyemut-nyemut PeDeKaTe semacam jaman now masih pada malu-malu dan bergerak di bawah tanah. Sekarang giliran sudah pada berumur dan berkumpul kembali di grup WA baru pada berani nguda rasa terang-terangan. Saya sendiri sekedar menjadi penyimak setia dari testimoni-testimoni yang berseliweran di treet grup WA kami tersebut.

Jaman memang terus bergulir. Tiga tahun belajar bersama merenda masa depan di jaman SMP tentu menyisakan banyak kisah dan kenangan yang terus terbawa hingga kini. Saya masih ingat betul, dalam pelajaran PKK dikarenakan nomor absen kami dekatan, kami sering tergabung dalam satu kelompok. Mulai dari kelas belajar berbagai macam model tusuk jahitan, seperti tusuk jelujur, tikam jejak, mawar, dan entah apa lainnya, ia senantiasa dapat mengerjakannya dengan rapih. Ia juga sosok yang menurut saya sangat identik dengan istilah bisban, flannel, ruler, obras, opo neh hayo? Demikian halnya ketika belajar tentang teknik mblau dan kelantang, bahkan mbraso. Ada lagi kosa kata pigeon, cusson baby yang bagi kami para cowok tentu asing dan rikuh untuk menghapalkannya.

Pernah pula kami mendapat tugas untuk menyajikan menu makanan lengkap, empat sehat lima sempurna. Mulai dari memasak nasi, sayur, lauk kami kerjakan bersama-sama dengan peralatan masak yang kami bawa masing-masing. Ada pula tatanan sajian buah-buah yang harus tertata cantik nan menarik. Tentu saja tidak boleh ketinggalan kelengkapannya dengan susu kental nan segar. Di kelompok kami itulah pernanan Sita, saya ingat cukup capcipcuss kalau soal-soal kerumahtanggaan seperti itu.

Puncaknya ketika di kelas 3 ada peringatan Hari Kartini, digelarlah berbagai lomba. Untuk lomba rias mbak dan mas, nggulung stagen, serta kalau tidak salah masak mie goreng. Ada pula lomba menggambar sosok wajah Ibu Kita Kartini. Nah saya kira disamping teman-teman yang lain, peranan Sita boleh dibilang cukup dominan untuk beberapa jenis cabang lomba. Mungkin teman-teman yang lain lebih ingat detailnya daripada saya.

Ada pula satu kisah yang pastinya sangat membekas di hati teman kita yang satu ini. Saat itu di bangku kelas 1 di awal semester ke dua. Di masa itu spirit anak perempuan di sekolahan umum (baca: negeri), mulai menggeliat ghirah untuk berjilbab. Seingat saya, Sita termasuk salah seorang memiliki kesadaran baru tersebut. Entah apa sebabnya, salah seorang guru menegurnya. Ia menegur dengan memaparkan aturan maupun anjuran dari Kemendikbud. Pokoknya meskipun tidak keras dan tidak semua siswa di kelas kami mendengarnya, teguran tersebut cukup panjang lebar dan mak jlebbbb. Seketika itu wajah teman kita ini murung, bahkan meneteskan air mata. Ia segera berlari keluar kelas dan setelah itu saya tidak tahu pasti apa yang terjadi kemudian.

Satu hal lain yang tidak boleh terlewatkan. Sita, teman kita ini, tergolong siswa yang sering menghabiskan kapur di kelas dibandingkan teman-teman yang lainnya. Pasalnya setiap kali guru berhalangan masuk kelas, tidak dapat mengajar, dan pelajaran kosong, seringkali Sitalah yang menulis di depan kelas. Satu, bahkan dua papan tulis di sisi kanan dan kiri penuh dengan tulisannya. Bahkan seringkali jika sudah penuh hingga ujung bawah, tulisannya dihapus di sisi atas, dan Sita mulai menulis lagi baris per baris dari atas. Rapi sih. Dan teman-teman yang lain hening, kadang diselingi canda-tawa, menyalin tulisan Sita di buku masing-masing. Tentu saja hal itu tidak begitu aneh, karena Sita tercatat beberapa kali kedhapuk menjadi sekretaris  kelas.

Selepas lulusan SMP di pertengahan tahun 1993, Sita dengan beberapa kloter teman yang lain masih berkesempatan menjadi teman satu sekolahan, bahkan satu kelas. Hingga menginjak masa perkuliahan, Sita melanjutkan studi di ibukota Provinsi Jawa Tengah. Tidak jelas prodi atau jurusannya di bidang ada,  yang jelas sebagian besar diantara teman-teman satu kelas di masa SMP memang tidak lagi saling bertemu, bahkan sekedar berkomunikasi tak langsung.

Satu ketika di pagi hari pada sebuah bus kota di lintasan Tol Jakarta-Merak. Di tengah hiruk-pikuknya suasana pagi yang senantiasa macet, sekonyong-konyong saya melihat sosok Sita teman saya SMP. Karena meski satu bus namun kami terpaut deretan penumpang yang berdiri berdesakan di tengah lorong, tentu saja saya tidak dapat memastikannya dari dekat, terlebih lagi menyapanya. Antara yakin dan tidak, akhirnya saya tidak terlalu memikirkannya. Ah, mungkin hanya wajah yang serupa saja. Saya kemudian mengabaikannya.

Tak seberapa berselang lama, suatu ketika saat saya berselancar di media sosial, kembali menemukan penampakan rupa teman yang sedang kita bicarakan ini. Melalui profil dan beberapa foto yang tertampil, yakinlah saya bahwa sosok tersebut memang Sita teman SMP kita. Tegur sapapun dimulai. Bahkan dalam beberapa kesempatan kami terlibat obrolan chatting. Pada saat saya tanyakan dimana tempat tinggalnya saat itu, dijawablah bahwa ia tinggal di Taman Royal, seputaran Poris Tangerang. Welha, jagad dewabatara! Lha lak cedhik banget.

Ketika saya candain bahwa nama tempat tinggalnya mengingatkan kepada makanan rondho royal, ia sempat heran. Saudari Sita yang dulu paling jago soal ke-PKK-an di kelompok kami ternyata belum kenal dengan rondho royal, sejenis makanan terbuat dari tape ketela yang dilumuri tepung dan digoreng itu. Yo wislah, aku rapopo!

Tetapi soal bakat ke-PKK-an bagi Sita sepertinya sudah menjadi bagian hidupnya lahir dan batin, bahkan jiwa dan raganya. Di samping saat ini ia menggeluti kreasi di dunia advertising, ia masih sangat menyempatkan diri untuk uthak-uthik dan umag-umeg dengan kreasi karya-karya tas modisnya. Mungkin katuranggan yag satu ini sangat berkaitan dengan namanya yang berasal dari kata kerja itu ya. Moga semakin kreatif njih Mbakyu…..

Ada yang mau melengkapi ceritanya? Lha monggo sedoyo.

Ngisor Blimbing, 26 Januari 2016

Sumber foto-foto dari FB Sita Mutiara

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke ALUMNI CAH DE: SOSOK#D28

  1. Sepertinya tulisan ini pun sudah ter-sita ya mas 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s