Salah Asuhan Jaman Now


Apa yang terbayang jika Anda mendengar nama Hanafi? Bagaimana dengan Corie? Rapiah, Amak Mariyam, Sutan Batuah, Sutan Rajalelo? Bagaimana jika nama-nama tersebut dikaitkan dengan nama Abdoel Moeis? Sudah nyambung? Jika tanpa diperlukan tambahan clue-clue lebih lanjut untuk menebak konteks tema pembahasan kali ini, mungkin Anda memang termasuk generasi old. Setidaknya Anda pernah belajar atau membaca hal ihwal sastra Indonesia lama, khususnya pada Angkatan Balai Poestaka.

Bagaimana dengan anak jaman now? Mungkin juga mereka masih mendapatkan materi mengenai generasi lama sastra Indonesia, sehingga langsung klik dengan nama-nama semacam Hanafi, Cory, Rapiah dan lainnya yang telah saya sebutkan sebelumnya. Tapi mungkin juga ada kids generasi now yang kini sedang demen-demennya menyimak tayangan sinetron berjudul Salah Asuhan di salah satu stasiun televise swasta kita.

Ya, berbicara mengenai sastra Indonesia Angkatan Balai Poestaka yang berkibar pada decade tahun 1920-an adalah berbicara tentang catatan sastra kita seabad silam. Saya sendiri sedikit bersinggungan mempelajari sastra Indonesia klasik ketika duduk di bangku SMP lebih dari 25 tahun silam. Melalui pelajaran Bahasa Indonesia, kami ketika itu diperkenalkan dengan Angkatan Balai Poestaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan ’45, dan  ada pula Angkatan ’66.

Khusus pada decade perkembangan sastra modern di tanah air pada masa Angkatan Balai Poestaka, sastrawan dan penyair kala itu banyak didominasi dari Ranah Minang. Sebut saja nama-nama seperti Abdoel Moeis, Marah Rusli, AA Navis, Tulis Sutan Sati, dlsb. Adapun karya sastra prosa yang tenar periode itu disebut sebagai roman. Pada masa itulah terbit roman semacam Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, Salah Pilih, dan masih banyak yang lainnya.

Berbicara mengenai roman Salah Asuhan karya Abdoel Moeis yang kini dikemas menjadi tayangan sinetron, ada beberapa hal yang berubah dari versi naskah roman asli yang dulu sekali pernah saya baca. Kisah klasiknya sebenarnya tidak berubah, yaitu seputar adat istiadat dan perjodohan yang diatur oleh orang tua. Namun dari segi setting ataupun alur cerita, dalam sinetron Salah Asuhan ada beberapa perubahan atau pengembangan yang dilakukan oleh para sineas.

Pertama terkait setting tempat. Jika pada roman aslinya kisah perjalanan Hanafi banyak dihabiskan di Solok, maka Hanafi masa kini lebih digambarkan sebagai seorang pemuda yang mengejar karir di ibukota Jakarta. Jika Hanafi dulu sekolahnya pada sekolahan Belanda yang ada di Batavia, maka Hanafi masa kini menempuh studi tinggi hingga ke negeri Amerika.

Dari sisi konflik utama yang diangkat, berkenaan dengan sastra roman di era Angkatan Balai Poestaka memang banyak mengangkat tema mengenai konflik adat. Konflik tersebut bias seputar konflik pad internal adat-istiadat pada suatu suku bangsa hingga pertentangan antara adat local dengan budaya asing. Antara barat dan timur. Hal inilah yang digambarkan secara nyata di dalam roman asli tulisan Abdoel Moeis tersebut.

Hanafi yang notabene pemuda asli Minang, atas jasa baik Sutan Batuah dapat melanjutkan jenjang pendidikan tinggi di sekolah Belanda yang ada di Batavia. Persentuhan dan pergumulannya dengan orang-orang Belanda telah mengubahnya menjadi orang yang memuja-muja budaya barat dan sebaliknya merendahkan budayanya sendiri. Adat dan istiadat kampong dianggapnya sebagai hal yang kuno dan ketinggalam jaman. Pandangannya terhadap adat menjadi semakin suram ketika ia mengetahui perjodohannya dengan Rapiah yang telah diatur.

Hanafi yang telah terbentuk oleh karakter modern, budaya barat, tentu saja menolak mentah-mentah perjodohannya. Tidak terhenti hingga di situ, ia semakin mengacuhkan ibunya yang telah bersusah payah membiayai sekolahnya.

Berbeda dengan Salah Asuhan jaman now, tema utama justru bergeser kepada keruwetan kisah cinta Hanafi, Corie, dan juga Rapiah. Mengemas kisah klasik untuk disajikan ke khalayak generasi jaman now memang musti memerlukan sebuah ide-ide pengembangan untuk menyesuaikan konteks jaman. Apresiasi tinggi harus kita sematkan kepada para sineas yang telah berusaha mengemas Salah Asuhan jaman old menjadi Salah Asuhan jaman now untuk generasi jaman now yang tentu saja berbeda cara pandangnya dengan generasi old, para pendahulu mereka.

Ngisor Blimbing, 25 Januari 2018

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s