Jaman Now Jaman Kekinian Jaman Serba Instan


Ada banyak fakta dan fenomena yang sangat menarik ketika menyimak diskusi Kenduri Cinta Edisi Januari 2018 ini yang mengusung tema Amenangi Jaman Now. Jaman now, bukan lagi jaman old. Jaman now merupakan jargon yang sangat dibanggakan oleh generasi anak-anak, remaja, pemuda, atau siapapun yang merasa sebagai bagian dari generasi modern yang melek IT saat ini. Generasi now direkayasa sedemikian untuk berhadapan secara face to face dengan generasi old.

Generasi kekinian, generasi jaman now, merasa malu sebagian diantaranya merasa malu jika dikaitkan dengan masa lalu. Masa yang menurut mereka merupakan masa kuno, masa tradisional, masa jahiliyah. Masa lalu yang sudah berlalu. Generasi baru ini tidak mau tahu dengan serba hal yang berbau masa lalu. Mereka seolah-olah merasa terlahir ceprot begitu saja tanpa memiliki akar sejarah yang sebenarnya teramat sangatlah panjang.

Dalam pola pikir, pola tutur, hingga pola tindak, generasi jaman now memilih idiom segalanya serba instan. Dapat dipikir cepat. Dapat diucap dan diungkapkan dengan cepat pula. Dapat dilakukan dengan serba cepat. Hingga semuanya cepat menguap dan lenyap. Dan tidak perlu ada ruang di hati, pikiran, jiwa dan raga mereka untuk mengenangkannya, terlebih mengendapkannya. Ada ketersambungan sejarah, masa lalu, masa kini dan masa depan yang sengaja disegmentasi, diputus-putus, dan dihilangkan eksistenisnya.

Contohnya sederhananya soal game atau permainan. Generasi sekarang inginnya permainan yang serba praktis dan pragmatis. Yang paling penting bisa menyenangkan. Yang paling utama mudah dilakukan. Yang nomor satu adalah tidak ribet dan merepotkan. Intinya permainan adalah kesenangan. Happy fun istilah gaulnya. Bandingkan dengan dolanan para bocah di masa lalu!

Di panggung Amenangi Jaman Now, tiga personil Kiai Kanjeng memperagakan permainan tradisional “jamuran”. Permainan dari para leluhur tersebut disamping asyik dimainkan oleh anak-anak, juga mengandung nilai tutur dan tuntunan yang sangatlah mendalam, tetapi permainan tetap dilakukan dalam suatu keceriaan bersama. Melalui undian hompipah dan pingsut, seorang anak ditentukan untuk berjaga. Ia berdiri di tengah lingkaran yang terbentuk dari tangan-tangan temannya yang saling bergandengan melingkar.

Dimulai dengan mendendangkan tembang. Jamuran ya gege thok. Jamur apa, ya gege thok. Jamur gajah mendidih sak ara-ara. Sira mbedhek jamur apa? Si jaga langsung berteriak lantang. Misalkan ia meneriakkan, “jamur kethek menek”. Maka dengan segera teman-teman yang lainnya harus memperagakan seekor monyet yang sedang memanjat. Entah memanjat pohon, dinding, tiang listrik atau apapun. Ketika mendengar instruksi dari si jaga, setiap pemain harus berpikir cerdas dan cepat. Ia harus paham gaya seperti apa yang harus dimainkannya. Bagaimana seekor monyet ketika memanjat. Dimana ia harus memanjat. Gayanya seperti apa. Semuanya merupakan dasar ilmu dan pengetahuan yang harus dipahami bersama. Seorang pemain yang tidak paham mungkin hanya akan bengong terdiam manakala si jaga menginstruksikannya untuk melakukan sesuatu.

Anak jaman now, generasi jaman now tidak terbiasa melakukan sesuatu dengan memeras otak, berpikir mendalam, meluas, membumi, dan tentu saja menyeluruh. Ibarat mengobati rasa lapar di perut, mereka cukup berpikir tentang makanan yang siap saji di depan mata. Mereka lupa, bahkan tidak mau dan mampu untuk memikirkan mengenai bahwa sebelum menjadi nasi, benda tersebut sebelumnya adalah beras, gabah, padi, benih, bajak, garu, luku, dan tentu saja para petani berpeluh keringat.

Dalam kesempatan yang sama Mbah Geol menambahkan, “Ibarat orang yang merentang busur utuk memanah, generasi jaman now hanya menarik tali busur sakuprit, sedikit saja, ke belakang. Dan bila hal demikian yang dilakukan, maka ketika anak panah di lepas ia tidak dapat melesat cepat dan mencapai jarak yang jauh. Berbeda apabila tali busur itu direntang, ditarik lebih jauh, lebih kuat, lebih keras, maka ketika anak panah dilepas ia akan melesat secepat kilat menembus  dan meretas jarak yang jauh menuju sasaran yang diinginkan.”

Diidentikkan dengan manusia yang berpikir, bertutur, bertindak dengan dilandasi pemikiran yang mendalam, dengan berkaca kepada sejarah dan jejak pengetahuan para pendahulu, maka pikiran, ucapan, serta tindakan yang bersangkutan akan lebih bermakna, berbobot, dan memiliki nilai hakiki. Dengan demikian hidup-pun akan lebih bermakna. Hidup yang tentu saja lebih hidup. Hidup yang menghidup kehidupan.

Kita bisa simak dan cermati ungkapan, celotehan, up-date status para generasi now di media sosial umpamanya. Sebagian diantara generasi now tidak pernah berpikir terlebih dahulu sebelum mengunggah sebuah status. Pilihan kata, ungkapan kalimat dan lain sebagainya tidak pernah diindahkan lagi. Ungkapan kasar, ungkapan tidak pantas,ungkapan dangkal adalah fenomena sehari-hari di jaman now. Tidak ada lagi ukuran kesopanan, etika, moralitas, tata krama, unggah-ungguh, kesantunan.

Jaman now, jaman kekinian, jaman instan. Semua serba bergerak terlalu cepat sehingga tidak memberikan kesempatan bagi manusia generasi now untuk merenung dan bertafakur. Semua inginnya serba cepat, serba mudah, serba praktis, serba pragmatis. Monggo kita bayangkan, kehidupan model apakah yang akan dicapai dengan segala hal yang berlandaskan keinstanan? Hidup yang serba di-simplifikasi, hidup yang dangkal, cethek, hidup yang semakin tidak bermakna.Kita menjalani hidup laksana robot yang hanya berpikir, berucap, bertindak sebagaimana program yang ditanamkan kepadanya. Kita menjadi manusia yang kehilangan independensinya, kehilangan kreativitasnya, kehilangan keistimewaannya, bahkan yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah menjadi manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Manusia terjerumus pada titik kritis dalam masa hidupnya yang sangat krisis.

Jaman now adalah jaman yang penuh tantangan. Terserah pilihan apa yang akan kita ambil. Semua berkonsekuensi terhadap fase perjalanan hidup kita selanjutnya. Mari kita renungkan bersama.

Tepi Merapi, 15 Januari 2018

Sumber foto dari FB Mas Bobiet Kiai Kanjeng

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s