Nestapa Lara Gadis-gadis Amangkurat


Susuhunan Amangkurat Agung tercatat dalam sejarah Dinasti Mataramam Islam sebagai pengganti Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusuma. Sangat berbeda dengan pendahulunya yang dikenal sebagai narendra gung binatara yang cakap dalam banyak hal dan sangat heroik dalam menentang keberadaan Kompeni Belanda di Nusantara, Amangkurat justru menorehkan catatan kelam dalam masa pemerintahanannya.

Tidak saja atas kebijakan dan arah pemerintahannya yang justru berkawan dan bekerja sama dengan Kompeni Belanda yang dulu dimusuhi dan memusuhi ayahandanya serta segenap kawula Mataram, ataupun kekejamanannya terhadap siapapun pihak yang dianggap membahayakan tahtanya, Amangkurat memiliki perangai rendahan perihal perempuan. Tak terhitung berapa anak gadis merdeka kawula Mataram, bahkan beberepa diantaranya merupakan perempuan yang sudah bersuami, menjadi gadis atau perempuan rampasan. Mereka kebanyakan diperam dan dijadikan cem-ceman, serta segelintir dintaranya dijadikan selir-selir bagi kepuasan nafsu Sang Amangkurat.

Kegilaan Amangkurat terhadap perempuan merupakan titik awal kehancuran Dinasti Mataram yang dengan susah payah dirintis dan diperjuangkan oleh para pendahulunya, seperti Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati. Beberapa karya roman atau novel klasik berlatar masa kekuasaan Amangkurat Agung mengangkat kisah-kisah duka lara nan nestapa sekaligus menjijikan perilaku sang raja dan para andahannya yang gelap mata dalam memperturutkan syahwat kebinatangannya. Tiliknya tetralogi novel karya Rama YB Mangunwijaya, mulai dari Rara Mendut, Lusi Lindri, dan Gendhuk Duku. Satu lagi Gadis-gadis Amangkurat (cinta yang menikam) besutan RH Widada. Novel terakhir inilah yang menjadi teman saya dalam menyelami penghujung Tahun 2017 sekaligus menyongsong Tahun Baru 2017.

Adalah sepeninggal Kanjeng Ratu Wetan, permaisuri kinasihnya, Amangkurat terperosok dalam kegelapan jiwa yang teramat kelam. Gairah dan semangat hidupnya serasa padam seiring kepergian perempuan yang dipuja dan diyakininya sebagai peneguh wahyu keraton atas kedudukannya di tahta Mataram. Hari-hari dilaluinya dengan bermuram durja. Segala urusan pemerintahan dilalaikannya. Pendek kata ia merasa mati tidak hidupun tidak. Ia benar-benar dalam kehampaan dan keputusasaan.

Hal itu semakin diperparah dengan gairah kelelakiannya yang padam. Tak satupun selir-selir dan perempuan simpanannya dapat menghibur rasa gundah gulananya. Dunia gelap dan seolah-olah telah kiamat bagi Sang Amangkurat.

Tidak saja bagi Amangkurat, kepergian Kanjeng Ratu Wetan juga menorehkan kepedihan yang teramat mendalam bagi sebagian kawula Mataram. Seiring pengukuburan jenazah Sang Ratu yang tidak mendapatkan hak dan kelayakan untuk dikebumikan di Pasarean Imogiri, puluhan bahkan ratusan perempuan lain yang tidak berdosa telah menjadi korban kesewenangan Baginda Amangkurat. Mendapati Kanjeng Ratu Wetan meninggal dalam kondisi yang mengenaskan, Sang Raja bercuriga bahwa kematiannya permaisurinya akibat diracun oleh para abdi di keputrennya. Semua abdi tersebut kemudian dihukum kurung dalam penjara bambu di belakang halaman keputren. Mereka disiksa, ditelanjangi, tidak diberikan makan-minum, dibiarkan kepanasan di siang hari dan menggigil kedinginan di malam hari hingga ajal tiba. Maka pada hari penguburan jenazah Kanjeng Ratu Wetan beriring di belakangnya mayat-mayat para abdi dalem yang tidak berdosa itu diberangkatka menuju ke Gunung Kelir, bukan ke Pasarean Imogiri.

Secara telanjang mata sejatinya kawula Mataram sangat paham dengan duduk persoalan penyebab kematian Kanjeng Ratu Wetan. Bagaimanapun ia dimuliakan sebagai permaisuri Sang Amangkurat, namun ia adalah perempuan rampasan yang sebelumnya telah bersuami. Adalah dalang kondang bernama Ki Dalem suami pertama dari Kanjeng Ratu. Nyimas Truntum, nama asli Kanjeng Ratu Wetan, rupanya hingga akhir hayatnya tidak pernah bisa berpaling dari kesucian cintanya sebagai istri Ki Dalem. Ki Dalem sendiri yang berusaha mati-matian untuk mempertahankan istrinya kemudian tewas di tangan regu algojo Mataram yang bengis.

Kepedihan dan kedukaan Kanjeng Ratu Wetan tidak bisa pudar bahkan dari demi hari semakin menggunung. Diantara rasa dendam, marah, tidak berdaya, putus asa, perlahan dan pasti pesona kecantikannya pudar dan ia jatuh sakit. Dari demi hari kondisi kesehatannya semakin memprihatinkan hingga ia menemui ajalnya.

Kepergianya Kanjeng Ratu Wetan, hilangnya keperkasaan Sang Raja, dan kecemasan akan lengsernya wahyu keraton menjadikan Amangkurat semakin gelap mata. Atas nasehat beberapa orang kepercayaannya, ia kemudian menebarkan para telik sandi dan gandek untuk berburu para kembang di seantero jagad Mataram. Kelelakian Sang Raja harus dikembalikan jika wakyu keraton dan dampar tahta tidak ingin berpindah kepada orang lain. Dan bagi para punggawa dan hulubalang titah tersebut adalah nilai perjuangan dan pengabdian untuk mendukung tetap tegaknya tahta Mataram, meskipun sejatinya mereka hanya menurutkan jiwa penjilat untuk tetap nunut mulya dan mukti sebagai pejabat yang menginjak-injak martabat kawula alit Mataram.

Adalah Sunti merupakan keponakan dari Kanjeng Ratu Wetan. Semenjak menginjak remaja ia disamarkan dan disembunyi oleh kaum kerabat Ratu Wetan.Dalam sebuah rombongan pengamen keliling yang dipimpim Ki Panjak ia didaulat menjadi waranggana. Demi menghindari dari pengamatan telik sandi utusan Sang Amangkurat, rombongan pengamen tersebut sengaja menumpang hidup di Dukuh Kundhen yang tidak seberapa jauh dari Keraton Pleret. Mereka ditampung oleh Ki Dukuh dala kesederhanaan.

Ki Dukuh sendiri memiliki sejarah kelam terkait kematian Warsi, anak gadis sulungnya, yang turut ditangkap, dipersalahkan, disiksa, dibuang, dan akhirnya tewas sebagai kebiadaban Amangkurat Agung pada saat kematian Kanjeng Ratu Wetan. Ia juga memiliki anak lelaki bernama Jalu.

Singkat cerita antara Sunti dan Jalu terjalin hubungan asmara yang tulus nan suci. Hubungan mereka berjalan dengan alami dan baik-baik saja. Bahkan diantara Ki Panjak dan Ki Dukuh juga bersepakat semenjak awal untuk menjodohkan keduanya.

Beberapa tahun berjalan, keadaan berubah menjadi malapetaka ketika para telik sandi dan gandek Mataram mencium keberadaan keponakan Kanjeng Ratu Wetan di Dukuh Kundhen. Bagaimanapun dalam perkembangannya selepas memasuki usia remaja, Sunti semakin memperlihatkan mekarnya kembang idaman. Sebagai keponakan Ratu Wetan, kecantikannya dalam beberapa segi memiliki kemiripan dengan bibinya. Tentu saja berita keberadaan Sunti menimbulkan harapan dan kegairahan sendiri bagi Sang Amangkurat untuk kembali memangku perempuan idaman yang memiliki kemiripan dengan permaisurinya dulu. Segal acara akan dilakukannya untuk mendapatkan Sunti. Ia adalah raja, penguasa Mataram yang titahnya harus dituruti.

Tentu saja menerima titah dari Sang Amangkurat untuk menyerahkan Sunti tidak menyurutkan orang-orang di Kundhen untuk melaksanakannya. Bagaimanapun mereka merasa sebagai manusia yang tidak bisa diinjak-injak oleh kelaliman, sekalipun itu oleh penguasa Mataram dihormatinya. Sunti akan tetap dipertahankan sekalipun nyawa sebagai taruhannya.

Bagaimana selanjutnya nasib Dukuh Kundhen? Bagaimana kisah pelarian Sunti? Bagaimana kelanjutan hubungan Sunti dengan Jalu? Apakah jalinan asmara mereka akan berlainan cerita dengan Rara Mendut dan Pranacitra? Sekalipun Anda sudah bisa menebaknya, namun akan lebih seru untuk menyimaknya secara langsung dari buku karya RH Widada yang kelahiran Pleret di bekas kedhaton Sang Amangkurat Agung. Selamat membaca.

Ngisor Blimbing, 2 Januari 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s