Mistik Air Panas Guci dan Para Putri Selir


Tegal merupakan wilayah kadipaten yang membentang dari sisi utara Gunung Slamet hingga pesisir Pantai Utara. Tak mengherankan jika daerah ini memiliki tujuan wisata alam yang beragam dari alam berlatar pegunungan, sungai, danau, hingga pantai. Berbicara ikon wisata yang dimiliki Kabupaten Tegal di lereng Gunung Slamet, setiap orang hampir dipastikan menyebut nama tujuan wisata yang sama. Pemandian air panas Guci, demikian nama destinasi yang akan kita bicarakan.

Adalah sebuah kewajaran apabila aktivitas sebuah gunung berapi menimbulkan beberapa fenomena vulkanologi. Salah satu fenomena tersebut adalah munculnya sumber mata air yang mengeluarkan air dengan suhu hangat hingga panas. Keberadaan magma di perut bumi, celah bebatuan geologis yang menghubungkan magma tersebut dengan permukaan atas seringkali menjadi jalur yang dilalui air maupun gas. Seiring interaksi air dengan lingkungan geologis bersuhu tinggi, maka air yang mengalir itupun membawa panas hingga keluar saat menjadi mata air. Mata air inilah yang selanjutnya diistilahkan sebagai geyser. Fenomena inilah yang juga terjadi di wilayah yang disebut sebagai Guci di lereng Gunung Slamet.

Di beberapa negara subtropis, seperti daerah di wilayah selatan Kyusu, Jepang, yang memiliki banyak sumber mata air panas, wilayah tersebut kemudian terkenal sebagai daerah tujuan wisata hotsprings. Air panas yang keluar secara alamiah dari perut bumi tersebut kemudian disalurkan dan ditampung menjadi wahana pemandian air hangat yang banyak mengundang orang untuk mendatanginya. Di samping keberadaan pemandian air hangat, hotsprings itupun berkembang menjadi ratusan resort dan hotel yang menawarkan paket menginap plus sensasi mandi air hangat alamiah. Hal ini sangat serupa dengan Guci.

Selain sekedar sensasi menikmati berendam dan mandi dengan air yang hangat secara alamiah, konon air hangat yang mengandung banyak mineral alam juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit hingga membuat kulit menjadi halus, putih, dan kencang. Dengan keyakinan tersebut membuat orang yang sering bersentuhan dengan air hangat tersebut menjadi lebih beraura, bahkan awet muda. Keberadaan sumber mata air hangat di wilayah Guci bukan setahun dua tahun ini saja diketahui orang. Air panas Guci sudah kondang kaloka, terkenal seantero Nusantara semenjak beberapa abad silam.

Adalah masa selepas kejayaan pemerintahan Kanjeng Sultan Agung di Mataram yang sempat nggecak perang ke Tanah Betawi pada abad 17, para penerus tahta Mataram selanjutnya senantiasa memiliki hubungan yang erat dengan jalur Pantai Utara Jawa. Hubungan itu termasuk kaitannya dengan keberadaan para cem-ceman (mohon maaf, wanita simpanan), ataupun para selir. Serupa dengan kisah legenda Rara Mendut dari Pati hingga Rara Oyi dari Surabaya, tidak sedikit para tokoh dan pejabat Mataram setelah masa itu memiliki selir dari wilayah Pantai Utara, termasuk Tegal. Konon keberadaan makam Sunan Tegalarum (Kanjeng Susuhunan Amangkurat Agung) yang mangkat semasa pelarian menuju Batavia di wilayah Tegal juga tidak terlepas dari kisah klasik para selir ataupun pengawal pribadinya yang keseluruhannya wanita berjumlah 30 yang terkenal dengan julukan trisatya kenya.

Merupakan sebuah kisah rahasia umum, jika diantara para selir-selir raja, penguasa, pejabat, ataupun kerabat darah keraton satu sama lain ingin senantiasa mendapat perhatian yang lebih dari para tuannya. Terjadilah persaingan satu sama lain. Satu sama lain senantiasa ingin tampil lebih cantik, lebih muda, lebih lenjeh, lebih menarik, yang pada intinya menjadi kesayangan yang lebih disayang daripada yang lain. Maka tidak ayal lagi pemandian air panas di Guci menjadi salah satu solusi untuk ngalap berkah kecantikan para putri selir tersebut. Semenjak itulah Guci tersohor sebagai tempat kungkum para selir untuk keawetan kecantikan dan keremajaannya.

Tidak sekedar mandi air panas sebagaimana kita mandi air panas yang kita jerang, prosesi mandi para selir tersebut tentu disertai dengan laku ritual khusus. Di samping sendang yang khusus, tentu keberadaan kembang tujuh rupa beserta berbagai rempah-rempah untuk perawatan kulit dan seluruh badan tidak ketinggalan. Demikian halnya soal waktu pelaksanaan kungkum juga dipilih pada malam-malam khusus yang dianggap sakral dan wingit. Konon malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon menjadi pilihannya. Hal ini paling khusus dilakukan di petilasan yang disebut sebagai Pancuran Tiga Belas.

Jaman bergeser, masa berganti. Setelah masa kerajaan, para ningrat, para putri  dan selir berganti, peran dan fungsi peandian air panas di Guci juga mengalami pergeseran. Meskipun kepercayaan tentang khasiat air panas Guci untuk keremajaan dan kecantikan masih tetap diyakini banyak orang, tetapi di masa selepas negara kita merdeka, Guci lebi terbuka untuk kalangan masyarakat yang lebih luas. Namun demikian, subyek para putri dan selir tergantikan pertama kali oleh para perempuan yang kebanyakan berprofesi sebagai penghibur. Ada yang sinden, penyanyi, artis, hingga (maaf) wanita tuna susila. Sebut saja kesemuanya sebagai para wanita modern.

Pada beberapa masa silam, keberadaan para wanita modern yang sengaja ngalap berkah dengan ritual kungkum di pemandian Guci sudah menjadi rahasia umum. Meskipun tempat untuk melakukan hal itu dikhususkan dan tidak sembarang orang dapat mengaksesnya, namun “ketertutupan” itu justru mengundang rasa penasaran kalangan remaja dan pemuda untuk mencuri-curi pandang. Di kala itu, pada malam-malam tertentu terjadilah fenomena puluhan hingga ratusan para remaja tanggung itu membanjiri kawasan Guci. Mereka konon ingin menirukan laku Joko Tarub yang mengintip para bidadari ketika asyik bercengkerama di air telaga.

Hal tersebut tentu saja mengundang keprihatinan tersendiri bagi kalangan masyarakat secara umum. Semenjak itulah pemerintah setempat melakukan penataan-penataan dan penertiban kawasan pemandian air hangat yang ada di Guci. Tidak semata-mata tempat pemandian yang dikhususkan untuk melayani kalangan yang masih percaya dengan ritual-ritual khusus, Guci lebih dikembangkan secara terbuka sebagai wahana wisata keluarga. Bahkan beberapa diantaranya mengkhususkan sebagai wahana yang ramah anak dan ramah keluarga.

Demikianlah salah satu sisi cerita mengenai pemandian air panas yang ada di kawasan Guci, di lereng Gunung Slamet yang menjadi ikon wisata alamnya Kabupaten Tegal. Sampeyan tidak percaya dengan cerita saya, silakan datang sendiri ke Guci dan tanyakan kepada penduduk setempat mengenai asal-usul dan kisah klasik yang menyelimuti kawasan Guci.

Ngisor Blimbing, 8 Januari 2017

Sumber foto dari pringsewuresto.co.idcakrawalatour.com;

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s