Puisi Refleksi Akhir Tahun Gus Mus


Tahun Baru Kawan merupakan sebuah puisi karya KH Mustofa Bisri atau yang lebih tenar dengan sebutan Gus Mus. Puisi tersebut ditulis beberapa tahun silam. Meskipun konteks puisinya ditulis dalam rangka Tahun Baru Islam (baca Hijriyyah), namun resonansi dan refleksinya juga sangat sesuai untuk menyambut sebuah era atau babak baru kehidupan, sebagaimana kedatangan Tahun Baru Masehi.

Pergantian atau peralihan tahun merupakan titik yang sangat cocok bagi setiap insan manusia untuk kembali merenung dengan mendalam mengenai penggal perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Suka dan duka dating silih berganti. Hikmah kehidupan senantiasa tertebar bersamaan dengan suka duka tersebut. Pencapaian tujuan hidup adalah sebuah proses yang senantiasa berjalan dengan dinamis. Masa akhir tahun adalah masa untuk mengevaluasi langkah diri selama ini.

Dengan evaluasi, dengan refleksi, kita akan menggali, mengidentifikasi, memaknai setiap hikmah sebagai bekal untuk memperbaiki diri. Adalah yang baik harus senantiasa dipertahankan dan ditingkatkan. Adalah yang tidak baik, maka sepatutnyalah untuk tidak kita ulangi di masa yang akan datang. Dengan cermin baik dan buruk dari perjalan kehidupan di masa silam, kita akan semakin dewasa dan bijaksana untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi di masa-masa yang akan datang.

Berikut selengkapnya puisi karya Gus Mus yang saya maksudkan.

SELAMAT TAHUN BARU KAWAN

Kawan sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan,sebelum kita dihisabNya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah,mukminin,muttaqin,
kholifah Alloh,umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi.
Hanya budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa ,kita khusyuk didepan masa
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersamaNya
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius Memohon enak hidup didunia dan bahagia disurga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istiraht,tanpa menggeser acara buat syahwat,ketika datang rasa lapar atau haus,

Kita manggut manggut ..oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia sia,
Kalaupun terkeluarkan,harapanpun tanpa ukuran Upaya upaya Tuhan menggantinya lipat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri,mencari pengalaman spiritual dan material,membuang uang kecil dan dosa besar

Lalu pulang membawa label suci Asli made in saudi “HAJI”
Kawan lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersamaNya,
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia khalifahnya,

Kawan tak terasa kita semakin pintar,mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih,
kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan,
kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan,
memukul,mencaci demi pendidikan,
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian Pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan,seniman,mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah nabi.
Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana
menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

(A. Mustofa Bisri, Antologi Puisi Tadarus).

Sumber puisi dan foto Gus Mus dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s