Grojogan Sewu dan Tawangmangu Masa Kini


Sebagaimana halnya Yogyakarta yang memiliki hubungan spiritual mistik dengan Gunung Merapi, maka demikian halnya Surakarta dengan Gunung Lawu. Jika di lereng Merapi ada tempat tetirah berhawa sejuk dengan pesona pemandangan khas alam gunungnya bernama Kaliurang, maka di lereng Lawu ada kawasan Tawangmangu. Tawangmangu merupakan tempat wisata sekaligus peristirahatan semenjak jaman kolonial semasa dengan kejayaan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta.

Secara tekstur topografi, sebuah gunung biasanya memiliki banyak sumber mata air.  Kemiringan struktur lereng gunung yang tajam kemudian mengalirkan air dari mata air tersebut ke dalam celah-celah sungai-sungai berdinding tinggi nan terjal. Pergerakan lempeng struktur batuan lereng gunung karena gerakan akibat aktivitas gempa vulkanik maupun pergeseran tektonik kemudian banyak menghadirkan patahan tajam yang apabila bersilangan dengan arah aliran sungai akan menghadirkan sebuah air terjun, Grojogan Sewu merupakan air terjun tertinggi dan paling terkenal di lereng Gunung Lawu.

Nama Grojogan Sewu berasal dari gabungan dua kata dalam Bahasa Jawa. Grojogan memiliki arti air terjun. Adapun sewu memiliki kesamaan dengan seribu. Meskipun kemudian tidak diartikan sebagai keberadaan seribu air terjun di Grojogan Sewu, kata sewu konon melambangkan ketinggian jatuhan air terjun setinggi seribu pecak, alias seribu kaki. Dalam satuan meter ketinggian Grojogan Sewu dinyatakan setinggi 81 meter.

Sebagaimana kebanyakan air terjun di daerah lain, untuk dapat mendekati titik jatuhan air terjun pengunjung biasanya harus menuruni tebing hingga mencapai lembah dimana ujung bawah air terjun berada. Dengan tarif tiket Rp 7.500.00, pengunjung dapat memasuki area hutan rakyat dimana Grojogan Sewu berada.

Untuk mencapai lembah Grojogan Sewu pengunjung dapat menyusuri anak tangga yang konon berjumlah 1.250 dari pintu masuk loket hingga ke bawah. Bagi pengunjung yang tidak terbiasa dengan jalan kaki menapaki traking yang cukup curam, tidak perlu khawatir. Di kanan-kiri pintu loket banyak penyedia jasa layanan angkut kuda. Pengunjung dapat menyewa kuda untuk turun sekaligus naiknya nanti. Tarif naik kuda di kawasan ini cukup terjangkau harganya.

Bagi pengunjung yang terbiasa dengan aktivitas jongging, tentu saja menuruni lembah Grojigan Sewu akan lebih menantang jika ditapaki satu per satu ribuan anak tangga yang ada. Di samping sekaligus menghirup udara segar nan sejuk sepuas-puasnya, perjalanan turun juga menghadirkan eksotika pemandangan di tebing sisi kanan-kiri yang dipagari berbagai jenis pepohonan khas hutan hujan tropis, seperti pinus, cemara, mahoni, akasia, sengon, sonokeling, nyamplung, dan lain sebagainya.

 

Kerimbunan tebing lembah yang rapat dengan pepohonan menjadi rumah yang sangat nyaman bagi berbagai jenis burung. Tidak mengherankan jika dalam perjalanan turun kita akan diiringi suara ceh-ocehan alias kemeriahan kicau berbagai jenis burung yang tengah bercanda  ria dengan sesamanya. Di samping itu, di kawasan hutan tebing Grojogan Sewu juga menjadi sarang dan habitat yang sangat sesuai bagi puluhan atau ratusan kawanan monyet khas Gunung Lawu. Jangan khawatir, monyet di Lawu termasuk jenis monyet yang jinak dan tidak menganggu pengunjung.

Sampai di ujung bawah anak tangga, pengunjung akan segera disuguhi suasana lebah yang teduh di bawah bayang-bayang pepohonan. Ada berbagai fasilitas dan wahana yang dapat dinikmati pengunjung. Bahkan bagi pengunjung yang ingin kekeceh, main air, sekaligus menikmati dinginnya air Gunung Lawu, tersedia wahana kolam renang dengan beberapa alat permainan yang akan memanjakan anak-anak. Untuk dapat menikmati wahaa air tersebut, pengunjung hanya dikenakan tarif Rp. 5.000,00. Bayangkan, super murah bukan?

Untuk mencapai titik jatuhan air terjun, pengunjung tinggal menyusuri jalur setapak yang mengarah ke ujung lembah di sisi kanan. Hati-hati ketika melewati turunan anak tangga terakhir. Di titik tersebut biasanya puluhan kawanan monyet sering bersenda gurau dengan sesamanya sambil melompat-berlarian di tengah jalanan anak tangga.

Demikian anak tangga terakhir ditapaki sampailah pengunjung di titik dasar lembah yang merupakan sebuah batang aliran sungai. Sepanjang jalur sungai dipenuhi ribuan batuan gunung berwarna hitam keabu-abuan. Dengan turun dan menapaki atau melompati satu per satu batuan yang ada sampailah pengunjung tepat di bawah jatuhan air terjun Grojogan Sewu.

Jatuhan air yang begitu tinggi dengan terpaan angina lembah nan sejuk membawa butiran lembut uap air yang semakin menyejukkan suasana. Pada kondisi siang hari dengan bias sinar matahari yang cemerlang, butiran uap air tersebut akan menghadirkan pelangi warna-warni nan mempesona. Konon menurut penuturan masyarakat setempat, pelangi tersebut diyakini sebagai penghubung dunia dengan kahyangan yang sering dipergunakan oleh para bidadari untuk turun ke bumi. Ya para bidadari tersebut mandi di telaga tepat di bawah jatuhan air terjun Grojogan Sewu.

Sekian lama tidak menyambangi Grojogan Sewu di kawasan Tawangmangu, ada nuansa kenangan yang kembali hadir tatkala beberapa waktu silam sempat mengunjunginya bersama rombongan kawan-kawan pemuda-pemudi satu kampong halaman. Kali ini kehadiran kami di Grojogan Sewu hanya dalam rombongan kecil keluarga kecil kami. Kunjungan tersebut Nampak sangat berarti dan meninggalkan rasa bahagia yang mendalam. Puji syukur kahatur Gusti Allah Kang Hakarya Jagad, betapa indah alam ciptaan-Mu.

Ngisor Blimbing, 10 Desember 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s