Taman Jurug Tepi Bengawan Solo


Bengawan Solo dengan ketenangan aliran airnya paling pas dinikmati dari tepiannya di sekitar Taman Jurug. Taman Jurug yang  berada di pinggiran sisi timur Kota Solo memang tepat berada di tepian Bengawan Solo. Selayaknya taman rekreasi yang lain, Taman Jurug memang menjadi tempat bagi masyarakat Surakarta dan sekitarnya untuk menikmati suasana kerindangan dan kesejukan sebuah taman kota. Dalam perkembangan beberapa koleksi satwa juga ditempatkan di taman tersebut, sehingga Taman Jurug juga mendapat julukan sebagai Kebun Binatang  Surakarta.

Berbincang mengenai Taman Jurug, ada sebuah tembang yang mengisahkan keasyikan Taman Jurug. Selayaknya sebuah taman yang seringkali lebih menjadi ajang bagi kaum muda dan mudi untuk beranjangsana, bersenda-gurau, bahkan menyelami dunia asmara. Ungkapan keindahan Taman Jurug yang tepat berada di tepian aliran Bengawan Solo dipadu dengan semangat muda-mudi untuk mengikat janji sehidup-semati. Jadilah sebuah ungkapan lirik yang benar-benar jangkep alias lengkap, mencakup sisi dimensi dunia fisik maupun alam kebatinan anak manusia.

Ning Kuto Solo, muda lan mudi, ing Taman Jurug ing pinggir Bengawan Solo;

Muda lan mudi, awan lan bengi, dha suka-suka nanging ojo ngiket janji;

Cahyaning bulan nrajang pucuking cemara, angin kang teka sasat nggowo gendhing tresna;

Banyu bengawan sinorot cahyaning bulan, lir sewu dian alerap nggugah kenangan;

Ngersake nopo, mung sarwa ana;

Ning Taman Jurug taman endah Kuto Solo;

Papan kreasi, muda lan mudi, sing tuwo-tuwo welinge ojo nganti lali.

Setelah pada kesempatan terakhir mampir ke Taman Jurug lebih dari 15 tahun silam, bulan kemarin berkesempatan kembali menyambangi Taman Jurug. Pada kunjungan terakhir silam, Taman Jurug merupakan taman yang senantiasa ramai dengan pengunjung. Terlebih pada akhir pekan maupun hari libur, taman tersebut menjelma menjadi lautan manusia. Bahkan pada kesempatan tertentu, secara rutin di taman tersebut dipentaskan music dangdut ataupun campur sari secara rutin.

Melalui pengeras suara yang ditempat hampir pada setiap sudut taman, lagu Taman Jurug sebagaimana lirik di atas itulah yang menjadi background sound Taman Jurug. Pertama mendengar pada waktu itu, terasa ada kesan lucu. Bahkan lirik lagu yang serba memuji keberadaan Taman Jurug menyirat sesuatu yang terlalu mengada-ada. Namun pada kesempatan lain waktu dan mendengar serta menyimak lirik tembang Taman Jurug, serasa ada suatu memori yang menerawang jauh seolah-olah Taman Jurug hadir di depan mata. Itulah mungkin kekuatan ungkapan suatu lagu.

Taman Jurug pada kesempatan kunjungan di masa silam terasa benar-benar sebagai sebuah taman yang luas nan asri. Segala hal Nampak tertata dengan rapi sehingga membangkitkan keindahan yang sungguh mempesona. Keindahan itu selanjutnya mampu menghadirkan kesan kesejukan, kerindangan, dan pada akhirnya membawa rasa rileks maupun santai bagi setiap pengunjungnya. Akhirnya ketentraman dan kedamaian dalam batin hadir menghilangkan segala beban permasalahan hidup yang menggelayut di pikiran.

Lain Taman Jurug di masa lalu, lain pula Taman Jurug pada hari ini. Taman yang dulu terasa luas, asri, rindang dan nyaman, kini justru terkesan tua, kurang tertata, bahkan di beberapa sudut menghadirkan kesan kekumuhan. Apa pasalnya bisa terjadi demikian?

Dari gerbang pintu utama, pengunjung dapat langsung menangkap kreasi lampu lampion dalam beberapa macam bentuk. Ada naga raksasa, bunga-bunga aneka ragam, jamur, kumbang-kumbangan, serangga-seranggaan, serta banyak bentu yang lain. Namun saying sungguh saying, kebanyakan diantara hiasan lampion tersebut dalam kondisi rusak. Bahkan di sebuah sudut taman terdapat tumpukan ratusan lampion berbagai ukuran dan berbagai bentuk yang tertumpuk tanpa terurus.

Di sisi kiri dari arah jalur pintu masuk kita disuguhkan tempat pemeliharaan beberapa ekor gajah. Di sampingnya bahkan saat ini juga ditawarkan wisata berkendara binatang berukuran besar tersebut. Namun lagi-lagi, dari sisi bangunan kandang terkesan tidak terawat dan pada beberapa sudut menampakan kerusakan yang belum mendapat sentuhan perbaikan. Terlebih soal kebersihannya. Mohon maaf untuk hal yang satu ini.

Berkeliling ke sisi-sisi yang lain, kami menjumpai beberapa aktivitas perbaikan ataupun renovasi beberapa sudut taman. Danau besar yang biasa dipergunakan untuk wahana berbagai permainan air, saat itu sama sekali kering. Yang nampak hanyalah lautan lumpur yang mengendap. Di tengah-tengahnya sebuah bighoe sedang mengaduk-aduk lumpur untuk menggali kembali kedalaman danau yang sudah sangat dangkal tersebut.

Tepat di sisi tepian Bengawan Solo ada Taman Gesang. Sama seperti sudut taman yang lain, bahkan di Taman Gesang memperlihatkan beberapa sisa-sisa bangunan seolah di tempat tersebut pernah terjadi gempa bumi yang dahsyat. Tinggalah patung Mbah Gesang kesepian seorang diri.

Bagaimana dengan area kebun binatang Taman Jurug. Di samping dari waktu ke waktu koleksi satwa yang ada di Taman tersebut tidak mengalami perkembangan yang berarti, kembali perihal kelayakan infrastruktur fisik, bangunan, termasuk soal kebersihannya. Semuanya mengesankan ketidakterurusan yang teramat serius. Kami tentu tidak paham dengan apa yang sedang terjadi dengan Taman Jurug. Namun sebagai pengunjung yang pernah menyambangi taman tersebut untuk beberapa kali, tentu kami berharap ada perbaikan pengelolaan yang signifikan untuk mempertahankan bahkan mempercantik Taman Jurug. Semoga.

Ngisor Blimbing, 4 Desember 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s