Candi Cetho, Candi Tertinggi di Lereng Gunung Lawu


Cetho artinya jelas, terang benderang, wela-wela ketok mata. Ibarat pepatah becik ketitik, ala ketara. Yang benar dan hak kelihatan kebenaran dan hekekatnya. Yang salah dan batil kelihatan kesalahan dan kebatilannya. Ketika manusia moksa untuk meninggalkan hakekat kedununiawiannya, maka ia akan mencapai dalan padhang, jalan terang, untuk menuju hekekat kehidupan ialah Tuhan Semesta Seru Sekalian Alam.

Kata cetho, kemudian terwakili sebagai kompleks sebuah candi bercorak Hindu sangat mewakili hakekat peristiwa moksa. Moksa, berpisahnya jiwa dari raga seseorang untuk mencapai alam kelanggengan, alam abadi di swargaloka. Di Candi Cetho inilah diyakini banyak orang sebagai petilasan terakhir Sang Maharaja Wilwatikta terakhir Prabu Brawijaya V dan beberapa pengikut setianya moksa untuk mencapai nirwana.

Ketika Keraton Majapahit mengalami puncak masa kritis oleh serangan Girindrawardhana dari Kediri, Sang Prabu dengan diiringkan pengawal pribadi dan beberapa abdi setianya meninggalkan istana untuk menyelamatkan diri. Masa-masa dalam pelarian adalah masa yang sangat sulit bagi Sang Prabu. Sekian tahun berjalan, berkelana, mendaki gunung,menuruni lembah dan jurang, serta menyeberangi sungai dan hutan belantara, tibalah rombongan pelarian itu di kaki Gunung Lawu.

Melalui bisikan dari para dewata, diwahyukannlah Sang Prabu untuk berdiam dan menetap di lereng Gunung Lawu sisi sebelah barat. Sekian purnama hidup di kesunyian hutan belantara mendorong Sang Prabu untuk lebih banyak bertapa brata. Menjalani hidup sebagai seorang wiku adalah jalan hidup terakhir yang dipilihnya. Dalam laku ritual dan semadi sebagai wiku itulah Sang Prabu mencapai pencerahan bagaimana hakekat hidup yang sejati. Ketika pusat pemerintahan bergeser ke Glagahwangi dalam genggaman Pangeran Jimbun, salah seorang putranya, Sang Prabu pernah diajak untuk turun ke tengah khalayak serta dibujuk untuk masuk agama Islam, konon ia memilih untuk tetap tinggal di lereng Lawu dan taat kukuh dalam agama yang diyakininya.

Candi Cetho memiliki sengkalan welut wiku anahut ikumimi, 1397 Saka (1475 M). Angka sengkalan tahun itulah yang kemudian diyakini oleh para ahli purbakala sebagai tahun berdirinya Candi Cetho. Kompleks Candi Cetho berlokasi di sisi barat lereng Gunung Lawu, tepatnya berada di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Candi yang berada pada ketinggian 1496 di atas permukaan laut ini merupakan situs candi yang paling tinggi yang kita kenal selama ini. Menilik masa berdirinya candi, Candi Cetho diyakini sebagai tonggak terakhir situs candi peninggalan Kerajaan Majapahit.

Kompleks Candi Cetho berukuran panjang 190 m dan lebar 30 m, membentang dari sebuah gerbang utama di sisi bawah terus secara strata naik ke sisi lereng bagian atas. Candi bercorak Hindu ini menerapkan pola penataan area kompleks candi yang terbagi ke dalam teras-teras bertingkat. Keberadaan teras-teras ini diyakini merupakan adopsi dari konsep pundan berundak sebagaimana telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Nusantara jauh sebelum era jaman prasejarah.

Terdapat 13 teras bertingkat yang menggambarkan perjalanan spiritual seorang manusia menuju alam nirwana. Masing-masing tingkat teras, dibatasi pagar batu keliling dengan masing-masing teras terhubung gerbang gapura bentar.

Melintasi gerbang bentar pertama, pengunjung dapat menyaksikan pelataran teras candi dengan hamparan rumput hijau yang terbelah oleh jalur jalan setapak di tengahnya yang terhubung langsung ke gerbang menuju teras ke dua. Teras kedua merupakan teras pelataran candi yang paling luas. Di halaman teras inilah terdapat susunan batu yang membentuk perwujudan garuda dan kura-kura. Perwujudan susunan batu tersebut menjadi penghubung arca phallus (lingga, kelamin laki-laki) yang bersentuhan dengan arca berbentuk yoni (kelamin perempuan).

Melintasi setiap gerbang bentar untuk menaiki teras demi teras menghantar setiap pengunjung untuk meyelami sebuah lelaku atau perjalan ritual yang sangat mendalam. Manusia pada hakekatkan adalah makhluk suci. Namun kehadiran manusia di dunia telah menjebak dirinya untuk menuruti hawa nafsu yang bertentangan dengan ajaran luhur. Manusia menjadi kotor dalam gelimang dosa. Untuk dapat hidup dengan tentram, manusia harus bersih dari noda dosa tersebut. Ia harus menetapi sebuah laku ritual untuk pensucian diri. Dunia nan fana harus dikesampingkan hingga ia menemukan hekekat kesejatian hidup yang sesungguhnya. Laku inilah yang tergambarkan dalam perjalanan dari teras paling bawah hingga puncak teras.

Sangat berbeda dengan kompleks Candi Hindu pada umumnya yang tersusun atas bangunan candi induk maupun candi perwara yang mengelilinginya, pada kompleks Candi Cetho sama sekali tidak ada bangunan candi perwara. Ketika pengunjung memuncaki perjalanan dari teras pertama dan pencapai teras puncak justru di puncak teras ini terdapat sebuah bangunan batu berbentuk piramida terpotong sehingga puncaknya berbentuk datar. Sekilas bangunan piramida terpotong ini sangat mirip dengan bentuk situs-situs piramida yang dibanguan bangsa Maya-Inca di benua Amerika. Entah apakah memang ada hubungan sejarah atau nilai filosofis diantara keduanya, hingga saat ini misteri tersebut belum terungkap.

Sebagai sebuah candi yang berada di lereng gunung yang sangat tinggi, keseluruhan kompleks Candi Cetho berada pada kemiringan lereng Gunung Lawu yang sangat curam. Untuk mencapai lokasi candi, kendaraan roda empat berukuran minibus ke atas tidak akan sampai hingga lokasi candi. Di samping kemiringan jalanan yang sangat curam (30-40 derajat), ruas jalanan yang ada tidak terlalu lebar dan pada salah satu sisinya berupa jurang atau tebing yang menganga. Para pengunjung berkendaraan bus biasanya diparkir di Terminal Kemuning untuk kemudian diangkut dengan kendaraan kecil hingga lokasi candi. Untuk mengunjungi candi, pengunjung hanya dikenakan tariff  tiket sebesar Rp. 7.000,- untuk pengunjung lokal atau dalam negeri.

Candi Cetho sebagai tempat pemujaan agama Hindu hingga saat ini masih difungsikan sebagai tempat peribadahan. Oleh karena itu setiap pengunjung harus menghormatikan dan menjaga tingkah laku ketika mengunjunginya. Keanggunan Candi Cetho selain berbalut nilai sejarah yang sangat panjang juga menghadirkan sisi mistik yang sangat dalam. Keberadaannya di lereng gunung yang sangat tinggi menghadirkan hawa sejuk yang menentramkan setiap orang. Pada waktu-waktu tertentu di saat matahari tertutup mendung, puncak Gunung Lawu menurunkan kabut putih yang akan turun menyelimuti kompleks Candi Cetho. Dalam suasana demikian, sungguh ada nuansa yang sangat berbeda, antara sunyi, senyap, sejuk, dingin, beserta desir angin sejuk yang membawa jiwa kepada suasana kosong, damai, dan kemudian tentram. Manunggaling seorang kawula dan Tuhannya.

Ngisor Blimbing, 2 Desember 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Candi Cetho, Candi Tertinggi di Lereng Gunung Lawu

  1. mcrokhim berkata:

    Keren sekali Candi Cetho ini. Ingin rasanya main dan belajar ke sana langsung…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s