Taman Gesang Yang Merana


Kita semua tentu sepakat dan tidak perlu berdebat untuk mengatakan Mbah Gesang sebagai sosok yang sangat merepresentasikan local genius-nya Kota Solo sebagai The Spirit of Java. Melalui lirik langgam Bengawan Solo yang pelan mendayu-dayu laksana aliran Kali Bengawan Solo di musim kemarau, ia benar-benar telah menghinotis anak manusia. Gambaran Solo seakan terkumandang sangat nyata lewat lagu berirama keroncong tersebut. Di samping digemari di seantero Nusantara, konon lagu tersebut sangat tenar di Negeri Matahari Terbit, Jepang.

Atas hubungan sejarah di masa Perang Dunia II dimana negeri kita sempat dijajah Bangsa Jepang, banyak tokoh-tokoh tentara maupun pejabat sipil Jepang yang kala itu berada di negeri kita gandrung dengan kelembutan nada dan lirik tembang Bengawan Solo karya Mbah Gesang. Kenangan indah tersebut terbawa hingga ke alam modern saat ini. Tidak sedikit para veteran Jepang yang hingga kini masih hidup sangat lanyah menembangkan lagunya Mbah Gesang.

Hubungan itu tidak terhenti hanya kepada kekaguman. Bahkan ada sekelompok penggemar Mbah Gesang di Jepang menghimpun diri untuk mengumpulkan dana yang didedikasikan untuk sang maestro. Salah satu wujud dana tersebut adalah sebuah taman untuk menghormati jasa dan karya besar dari Mbah Gesang. Taman tersebut berada tepat di tepi Bengawan Solo dan menjadi satu bagian dari Taman Jurug. Taman Gesang dibangun atas jasa baik perhimpunan dana Gesang di Jepang, demikian tulisan yang terpampang di atas gerbang masuk area taman.

Membayangkan sebuah taman, tentu saja kita membayangkan sebuah area yang penuh dengan bunga-bunga dan tanaman hias. Penuh dengan pepohonan nan rindang yang membawa hawa sejuk dan teduh. Taman adalah symbol keindahan. Bahkan kita membayangkan surge kelak di alam akhirat juga dipenuhi dengan taman-taman indah yang membawa kedamaian abadi. Taman merupakan tempat berteduh bagi raga sekaligus jiwa manusia yang lelah didera kerasnya roda kehidupan. Taman menjadi tempat sejenak untuk menenangkan pikiran sekaligus menyegarkan hati dan batin.

Akan halnya Taman Gesang di pinggir Kali Bengawan Solo tentu itikad dan niat awalnya di  samping untuk mengenang karya dan jasa Mbah Gesang serta guna senantiasa mengingatkan generasi muda, tentu juga dimaksudkan sebagai tempat untuk olah jiwa melalui keroncong. Di samping ditata secara asri dan apik sebagai sebuah taman, Taman Gesang juga didesain dengan beberapa panggung terbuka dimana di sana diharapkan akan muncul para maestro muda penerus karya Mbah Gesang. Panggung tersebut. diharapkan bias menjadi tempat dan wahana bibit-bibit muda untuk bersemai dalam melestarikan music keroncong pada khususnya, maupun budaya Jawa secara umum.

Lain rencana rupanya tidak senantiasa sama pada kenyataannya. Taman Gesang dengan segala niat dan itikad baiknya kini justru Nampak terbengkalai dan tidak terurus sama sekali. Bagian atap gapura pintu masuk yang dulu gagah nan indah, kini telah runtuh atapnya hingga tinggal menyisakan kerangka di sisi tepiannya semata. Panggung terbuka yang semestinya bersih dan teduh, kini tidak lagi beratap dan benar-benar terbuka menantang langit. Jadilah patung Mbah Gesang kesepian. Sungguh kami hanya bias ngelus dada saking prihatinnya menyaksikan kenyataan yang sungguh tidak elok tersebut.

Akankah Taman Gesang yang merana juga ditambahi dengan semakin lunturnya penghargaan akan jasa dan karya sang maestro Bengawan Solo? Akan generasi masa kini lebih memilih untuk mendendangkan lagu koplo daripada lagu Bengawan Solo? Mudah-mudahan ada pihak-pihak yang peduli untuk merawat dan melestarikan karya-karya local genius-nya Mbah Gesang. Termasuk juga mempertahankan dan melestarikan Taman Gesang yang sedang kita perbincangkan kali ini.

Tepi Merapi, 28 November 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s