Dikejar Semar-Petruk Jelang Taman Jurug


Apa yang Sampeyan rasakan ketika berkendara di jalan raya tiba-tiba saja ada yang mengejar dan meneriaki untuk berhenti? Kaget? Deg-degan? Marah? Takut? Atau mungkin malah penasaran dengan maksud dan tujuan sang pengejar kita?

Hari itu selepas pagi. Ketika menyusur ujung Jalan Juanda di Kota Surakarta, tiba-tiba ada dua motor menyalip. Satu orang diantara penumpangnya berteriak. Saya sedikit kaget dengan tampang dan blegernya. Mukanya bercat putih dari campuran gamping. Bibirnya njlethet dan terkesan ndlower tak selayaknya bibir orang normal. Sasat mata saya tidak akan pernah dengar sosok suburnya, terlebih ukuran bokongnya yang hangudubilah itu. Tidak lain saya sangat yakin. Dialah sosok Kiai Semar, tetua panakawan yang menjadi pengasuh para Pangeran Pandawa Lima. Jadi Kiai Semar mudhun kembali ke marcapada?

Tentu saja saya setengah tidak percaya mengalami perjumpaan dengan Kiai yang samar-samar itu. Samar ing wujud, samar ing wicara, samar dalam perilaku, samar ing sasmita, samar dalam segala-galanya. Samar dalam ismar. Keyakinan saya semakin tidak tergoyahkan dikarenakan Kiai Semar saat itu diantar oleh Kang Petruk. Si Kantong Bolong yang pernah menggemparkan kahyangan dalam episode Petruk Dadi Ratu itu tentu saja tampil dengan rambut kucir panjang yang nantang langit itu.

Lalu apa pasalnya Kiai Semar dan Kang Petruk menghentikan laju kendaraan kami? Bahkan setelah jelas kata-kata yang diteriakkannya, justru Kiai Semar dari kendaraan yang membawanya menawarkan kepada kami, “Hayo mandeg dhisik! Hayo meh foto dhisik piye? Foto dhisik….Foto dhisik!”

Lho-lho……e lha dalah! Jebulnya kami diminta berhenti untuk sejenak berfoto bersama dengan sosok Kiai Semar dan Kang Petruk dari Klampis Ireng itu. Tentu saja kami tak kuasa untuk menolaknya. Kamipun akhirnya menepikan kendaraan kami di pinggiran jalan yang cukup leluasa dan aman. Kamipun diperkenankan untuk mengabadikan perjumpaan kami dengan dua tokoh panakawan tersebut dalam sebuah bingkai berisi foto-foto para tokoh yang juga pernah tenar lewat serial Ria Jenaka di TVRI tersebut.

Seharian itu memang jadwalnya hari keluarga. Sepanjang pagi, siang, hingga seterusnya, waktu memang kami dedikasikan untuk bersama keluarga. Pagi selepas menikmati suasana Car Free Day di jalur Slamet Riyadi Kota Surakarta, kami agendakan untuk beranjangsana ke Taman Jurug. Sebuah taman hiburan rakyat yang menyatu dengan koleksi beberapa satwa sehingga sering disebut juga sebagai kebun binatangnya wong Solo, alias Solo Zoo.

Perihal duo Semar-Petruk yang selepas kesempatan berfoto bersama itu lenyap ditelan jembatan di atas Kali Bengawan Solo arah Karanganyar tersebut hingga kini masih mengundang seribu satu misteri dan pertanyaan yang tiada menemukan jawabnya. Siapakah sosok-sosok mereka sejatinya? Dan apakah pesan tersirat dan maha rahasia dari perjumpaan kami yang sekedar sak kedheping mata tersebut? Kami tidak kuasa mengungkapnya dan biarlah kelak Tuhan sendiri yang membukakan tabir-Nya kepada kami.

Ketelan, 26 November 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s