Dongeng “Kancil Raentuk Njaluk Timun”


Kancil nyolong timun, alias Kancil mencuri timun. Generasi masa lalu mungkin sebagian besar pernah didongengi kisah Kancil Mencuri Timun. Entah dari ayah-ibu, kakek-nenek, para guru, dari buku, sandiwara radio atau darimanapun. Bagaimana dengan anak-anak generasi jaman now? Apakah mereka juga masih mau tekun menyimak dongeng klasik tersebut?

Pertanyaan yang saya sampaikan di atas bukanlah sebuah pertanyaan yang mengada-ada. Bagaimanapun logika dan kreativitas anak jaman now tentu berbeda dengan generasi sebelumnya. Perubahan telah banyak terjadi. Era yang lebih terbuka, sumber informasi yang lebih beragam, juga kebebasan ekspresi anak sekarang yang lebih terbuka dan kritis dengan segala hal yang didengar, dibaca, dilihat, dan dirasakannya.

Adalah si Noni buah hati kami. Dalam perjalanan umurnya yang menjelang empat tahun memang sedang semangat-semangatnya menyerap berbagai dongeng. Kisah putri kerajaan, para pangeran, para raja dan permaisuri, kisah para hewan, termasuk kisah pak tani dan si kancil.

Alkisah, mulailah saya berdongeng sambal membuka-buka sebuah buku bergambar yang membabar kisah si Kancil dan Pak Tani. Dalam halaman-halaman awal digambarkanlah sawah ladang Pak Tani yang ditanami ketimun berantakan dan porak-poranda. Ketimun yang ranum dan siap dipanen, sebagian telah raib dan tinggal menyisakan ceceran sisa-sisa timun yang tidak termakan. Siapa lagi yang berulah kalau bukan si Kancil yang nakal. Sudah pasti seketika itu juga Pak Tani sangat marah. Hatinya geram. Ia sangat mendendam kepada si Kancil.

Keesokan harinya Pak Tani ingin menangkap si Kancil. Ia mulai memasang berbagai jebakan. Ada orang-orangan sawah yang telah dilumuri dengan getah nangka yang sangat lengket. Kalau nantinya si Kancil memegang atau menyentuh orang-orang tersebut, tentu tangan dan kakinya akan lengket. Ia tidak akan dapat bergerak lagi dan pada saat itulah ia dengan sangat mudah ditangkap hidup-hidup.

Ada juga jebakan lain yang dipersiapkan. Sebuah lubang besar menganga di sudut pematang sawah. Lubang tersebut cukup lebar dan dalam. Di permukaan atasnya dipasangi ranting-ranting kecil untuk selanjutnya ditutup dengan dedauan. Si Kancil yang suka melompat dan melesat saat datang dan pergi ke sawah akan terperosok ketika kakinya menginjak hamparan dedauan di atas lubang jebakan tersebut.

Mendengar uraian dongeng mengenai rencana Pak Tani yang akan menjebak si Kancil, tiba-tiba si Noni protes, “Pak Tani, nakal! Kancil itu temanku. Aku yang suka membelikan timun di pasar dan memberinya makan. Kancil tidak nakal. Ia hanya ingin meminta timun di sawah Pak Tani. MIng njaluk timun kok ora entuk! Pak Tani pelit! Pak Tani nakal!’

Wuaduh, jagad dewa batara. Jaman memang telah terbalik. Yang nakal menjadi baik. Yang baik menjadi nakal. Si Kancil yang merusak tanaman Pak Tani, alasannya hanya ingin meminta timun. Pak Tani yang hanya ingin mempertahankan haknya malah dikatakan pelit dan nakal. Pak Tani yang dimarahi temannya si Kancil.

Imajinasi anak sekarang memang sungguh berbeda dan bahkan mungkin telah terbalik dengan cara berpikir generasi bapak-ibunya. Akhirnya sang pendongeng harus segera banting setir dan membelokkan alur cerita. Hubungan antara Petani dan si Kancil bukanlah dikotomi dua kutub dari dua pihak yang saling bermusuhan. Bagaimanapun menurut titah yang digariskan Sang Maha Kuasa, setiap makhluk diberikan peran dan tugas masing-masing dalam rangka mendukung tata keseimbangan dan kesetimbangan alam semesta raya. Dalam konteks inilah kita harus melakukan re-intepretasi terhadap dongeng-dongeng dari masa kecil kita untuk disesuaian dengan perkembangan dan kebutuhan generasi anak jaman now.

Lor Kedhaton, 20 November 2017

Gambar kancil dipinjam dari sini.

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s