Jumat Rekonsiliasi


Tiada kata yang lebih indah daripada saling memaafkan ketika ada dua pihak yang saling memendam masalah. Terlepas daripada siapa yang khilaf dan salah, apabila kedua belah pihak telah sama-sama saling ikhlas, maka jalan menuju kepada perdamaian diantara keduanya pasti segera datang. Hal semacam ini saya alami sendiri di hari yang sungguh baik, Hari Jumat pada saat detik-detik menjelang Jumatan di rumah Allah.

Sebenarnya bagi saya sendiri, permasalahan yang timbul diantara kami sungguh jelas duduk persoalannya. Saya sendiri bukanlah tipe orang yang mencari permusuhan ataupun musuh. Dia yang seorang apatur pemerintah dan bertugas melayani masyarakat lalai memegang sumpah jabatannya, sehingga pada saat melayani warga tergiur untuk mendapatkan, bahkan memungut uang jasa secara berlebihan. Saya sempat mengkonfirmasi dan menanyakan perihal uang jasa yang berlebihan tersebut dan dijawabkan dengan bertele-tele, bahkan terkesan ingin mengindar ketika kami mintakan perinciannya seperti apa.

Sebagaimana ajaran agama yang saya yakini dan senantiasa dinasehatkan oleh para kaum ulama dan para ustadz, apabila kita menyaksikan kemunkaran di hadapan mata kita maka lakukanlah perbaikan dengan tangan kita, dengan mulut kita, atau setidaknya dengan doa di dalam hati kita.

Saya selaku warga masyarakat yang ingin turut berpastisipasi dalam mewujudkan sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Saya kemudian membuat laporan atau surat aduan. Surat tersebut langsung saya tujukan kepada Walikota sebagai pimpinan tertinggi di lingkungan pemerintah daerah setempat. Surat tersebut juga saya tembuskan kepada lurah, camat, dan dinas yang terkait langsung.

Menanggapi surat pelaporan yang kami ajukan, singkat cerita si oknum pegawai tersebut kemudian mendapatkan teguran keras dan diperintahkan untuk mengembalikan uang jasa yang telah dipungutnya kepada kami. Secara prinsip kami sendiri menyerahkan prosedural penanganan aduan kami sebagaimana ketentuan yang ada. Perihal uang yang telah terlepas dari kami, kami tidak ingin mempermasalahkan lebih jauh.

Sang oknum terlapor sempat menghubungi kami setelah mendapatkan teguran keras dari atasannya. Intinya ia ingin bertemu, bersilaturahmi, meminta maaf, sekaligus mengembalikan uang yang telah dipungutnya. Namun demikian karena satu dan lain hal, pertemuan tersebut tidak dapat terlaksana. Akhirnya kami putus komunikasi dan sama-sama mengambangkan diri terhadap permasalahan tersebut. Saya pribadi merasa tidak memiliki beban dan nothing to loose atas laporan aduan yang telah kami ajukan.

Mungkin dari terlapor merasa ada beban. Dalam beberapa kali perenunganpun timbul rasa iba dari kami. Hingga akhirnya kami dipertemuan di waktu istimewa, di tempat yang mulia, dan di hari yang sungguh-sungguh baik. Ketika saya memasuki sebuah masjid untuk menunaikan sholat Jumat, saya selintas melihat sosok terlapor tengah berjalan memasuki pintu masjid dari arah yang berlawanan. Dia sama sekali tidak sadar ataupun melihat kehadiran saya. Ia masuk ke masjid beberapa langkah di depan saya.

Dengan sedikit ragu, saya mempercepat langkah kaki. Saya kejar dia. Setelah saya berdiri sedikit dekat di sebelahnya, saya segera raih tangannya, menjabat tangannya dan menghentikan langkah kakinya. Sejenak ia sangat terkejut dan memandangi saya. Mungkin sedikit perlu mengingat, akhirnya ia sadar dengan siapa ia berhadapan. Sebelum ia sempat berucap, saya terlebih dahulu mengatakan bahwa persoalan yang kemarin kita anggap sudah selesai. Saya tidak bermaksud apa-apa kecuali hanya saling mengingatkan untuk menjalani hidup secara semestinya.

Ia nampak sedikit berkaca. Ada berkas penyesalan yang dalam di lensa matanya. Ia kemudian dengan sedikit terbata menyampaikan maaf dan rasa penyesalannya. Ia sadar diri dan telah berintrospeksi diri atas laporan aduan yang saya sampaikan. Sebagai sesama muslim, sekali lagi ia minta maaf.  Sudah begitu saja. Semoga ia menjadi lega dan plong, dan yang pasti benar-benar memperbaiki diri di masa depannya yang masih panjang.

Ngisor Blimbing, 18 November 2017

Foto dipinjam dari Kompasiana

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s