Keramaian Pasar Malam Sekatenan


Bulan Rabiuláwal sebagai bulan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad diistilah oleh masyarakat Jawa sebagai Bulan Maulud. Sebagai sebuah tradisi dan budaya, hari kelahiran Muhammad pada 12 Maulud senantiasa diperingati sebagai Hari Raya Mauludan. Sebagai puncak dari peringatan tersebut adalah diselenggarakannya Grebeg Maulud, khususnya di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat maupun Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat.

Grebek merupakan simbolisasi persembahan keluarga istana kepada rakyat dan abdi dalemnya. Pada puncaknya nanti, diaraklah dua gunungan utama berupa berbagai hasil bumi untuk dibagi-bagikan kepada seluruh masyarakat yang hadir di alun-alun kota kerajaan. Banyak kalangan masyarakat yang turut ngalap berkah memperebutkan uba rampe gunungan. Sebagian dari mereka percaya bahwa jika mereka berhasil mendapatkan salah satu hasil bumi yang dipersembahkan oleh keraton maka akan menerima keberkahan dan kelancaran hidup.

Kelahiran dan selanjutnya kehadiran Kanjeng Nabi Muhammad adalah kegembiraan alam semesta. Terlebih khsusu, bagi para ummat penganutnya, sosok Muhammad adalah teladan hidup sepanjang masa yang bahkan kelak akan dinantikan pertolongan serta syafaatnya. Kegembiraan menyambut Nabi dan hari kelahirannya inilah yang pada awalnya menginisiasi keratin untuk menghelat pasar malam di alun-alun semenjak satu bulan sebelum puncak perinagatan Maulud Nabi.

Mauludan dalam budaya Jawa sering dipersamakan dengan istilah Sekaten. Dengan demikian pasar malam yang digelar menjelang Mauludanpun biasa disebut sebagai Pasar Sekaten. Pasar Sekaten dari waktu ke waktu tentu saja terus mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan roda jaman. Pasar Sekaten di masa kini tentu sudah sangat jauh berbeda penampakanan dibandingkan sepuluh, dua puluh, lima puluh, atau tentu saja serratus tahun silam. Kini Pasar Sekaten banyak menghadirkan beragam wahana permainan khususnya bagi anak-anak.

Beberapa wahana yang masih terus bertahan dan seringkali hanya dapat kita jumpau di Pasar Malam Sekaten atau yang sejenis, diantaranya tong stand, kora-kora, roll coaster, rumah hantu, dan lainnya. Sudah pernah menikmati keramaian Pasar Sekaten? Jika apa pernah kita seolah senantiasa dibawa arus untuk senantiasa mengenang, bahkan menapaki kembali keseruan berkunjung ke pasar malam. Jika belum pernah, lha kebangeten temen Sampeyan itu mas bro dan mbak sis? Monggo disempatkan, ke Jogja atau ke Solo di bulan-bulan ini.

Tepi Merapi, 10 November 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s