Bus Malam, Calo,dan Penumpang Telantar


Malam memang telah bergeser ke dini hari. Haripun telah berganti, dari Senin menjadi Selasa. Saya sangat ingat waktu itu sekira setengah satu dini hari. Bus malam yang saya naiki tengah berhenti di sebuah Pom Bensin menjalang Alas Roban. Tentu saja, waktu yang masih sangat tanggung itu sebagian penumpang bus tengah terlelap. Saya sendiri setengah bangun dan setengah tidur, seolah tergagap dari mimpi malam.

Foikarenakan tempat duduk yang saya tempati tepat berada di sisi depan pintu belakang, maka tatkala dengan sekonyong-koyong pintu tersebut dibuka dari luar saya setengah terpaksa berwaspada. Untunglah hal yang tidak kami inginkan benar-benar tidak terjadi. Yang terjadi adalah dua orang remaja tanggung yang bergegas naik ke dalam bus dari pintu belakang tersebut. Kebetulan dua kursi di depan saya kosong. Merekapun segera mengisinya.

Setengah berbisik salah seorang diantara penumpang baru tersebut bertanya kepada saya. “Bapak turun dimana?”tanyanya singkat. Dengan sedikit tergagap menerima pertanyaan demikian dikarenakan saya masih dalam posisi setengah sadar dan setengah tidur, saya menjawab cukup singkat pula, “Muntilan!”

Entah kenapa sayapun kemudian balik bertanya, “Lha mase berdua turun dimana?” Dengan lugu keduanya menjawab hamper serempak, “Kebumen!”

What? Kebumen? Tiba-tiba nalar saya justru tersentak. Antara percaya dengan pendengaran telingan saya sendiri dan rasa tidak percaya yang muncul secara reflek naluriah, sayapun kemudian mempertegas dengan pertanyaan, “Kebumen????”

Kamipun kemudian terlibat dalam sedikit perbincangan. Saya mencoba menjelaskan bahwa bus ini tidak melewati Kebumen, sebuah kota yang berada di Jalur Selatan Jawa Tengah. Sementara memang bus yang kami tumpangi melaju di sepanjang Pantura Jawa Barat – Jawa Tengah untuk kemudian berbelok ke selatan, melintasi Temanggung dan Secang menuju Magelang, Muntilan, Jogja, hingga Wonosari.

Setengah tidak percaya, dua pemuda di hadapan saya itu menadi bengong. Lha mereka ngotot mau ke Kebumen. Mereka mengantongi tiket dengan tujuan Kebumen.

Kamipun kemudian terlibat pembicaraan yang lebih panjang. Kedua remaja tanggung yang masih fresh graduate tersebut ceritanya baru pulang dari Jakarta menuju kampung halaman di daerah Prembun, Kebumen Timur. Mereka berangkat melalui Terminal Pulogebang. Konon ketika memasuki terminal “terbesar” di Asia Tenggara tersebut mereka langsung digiring dan diintimidasi oleh beberapa kawanan calo-calo nakal.

Ketika mereka menyatakan akan naik bus yang melewati daerah mereka dan telah biasa mereka tumpangi, beberapa calo yang mengelilingnya mengiyakan. Namun pada saat transaksi pembayaran, masing-masing orang diminta uang tiket sebesar Rp 255.000,-. Dengan terpaksa dikarenakan tidak berani untuk melawan, merekapun akhirnya memberikan uang sebagaimana permintaan calo-calo nakal tersebut. Memang mereka diberikan dua lembar tiket berwarna kuning dengan tulisan berbagai kota tujuan bus di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Cilakanya dengan penuh kepolosan dan ketakutannya, mereka berdua mau digiring memasuki sebuah bus. Buspun segera melaju, menyusur jalan keluar ibukota. Melaju kencang di jalanan tol sepanjang Jakarta-Cikampek-hingga Brebes Timur. Lebih gawat lagi, bus yang mereka tumpangi terus melaju di sepanjang Pantura Jawa Barat, hingga akhirnya sempat berhenti di Pom Bensin yang menyandingkannya dengan bus yang tengah saya tumpangi.

Di tengah lelap tidur dini hari, mereka dibangunkan kru bus dan disuruh pindah bus dengan segera. Dengan penuh kebingungan antara setengah sadar dan setengah tidur, mereka nurut saja. Mungkin mereka benar-benar menyangka bus sambungannya akan benar-benar membawa ke kampong halamannya. Cilaka tujuh belasnya, mereka bahkan sama sekali tidak ingat nama bus yang mereka tumpangi. Ibarat kata, mereka berdua digabur alias ditomprang oleh bus yang tida bertanggung jawab tersebut.

Saya sempat melihat tiket kuning kusam yang mereka bawa. Tidak ada nama bus armada yang jelas. Selembar kertas tersebut hanya mencantumkan data-data yang menurut saya tidak jelas dan tidak familiar sebagaimana tiket bus pada umumnya. Tertulis nama PT Maju Muda Mandiri sebagai bagian dari Cendana Grup. Jurusan Cirebon, Tegal, Semarang, Solo, Madiun, Blitar, Jember, Jombang, Ponorogo, Surabaya, Magelang, Jogja. Nah kan rute perjalanan trayeknya saja aneh?

Entah apa yang terjadi dengan dua remaja tersebut. Apakah mereka korban gendam, hipnotis, ajian jaran goyang atau semacam ilmu sihir? Saya tidak tahu pasti! Tapi yang jelas mereka berdua adalah remaja lugu yang menjadi korban ganasnya rimba ibukota. Mereka korban calo-calo bus malam yang tidak bertanggung jawab. Tidak terima sekedar menipu, memaksa, dan memalak, bahkan juga tega menelantarkan korban di pinggiran jalan. Akhirnya sayapun hanya bias menyarankan agar mereka turun saja di Magelang untuk melanjutkan perjalanan ke Prembun dengan bus jurusan Semarang-Purwokerta yang melewati Purworejo.

Tambah apes lagi, barang bawaan berupa salon kompo baru yang mereka tempatkan di bagasi bus terlupa dan tidak ikut terbawa serta. Jadilah sudah jatuh tertimpa tangga, terinjak-injak, terlempar-lempar, ……entah apa lagi. Bagi Anda semua, atau siapapun yang berkendaraan umum dari Terminal Bus Pologebang, kisah ini mudah-mudahan menjadi peringatan bersama untuk lebih berhati-hati. Pesanlah tiket di agen resmi dan hindari tawaran tiket oleh calo. Sebisa mungkin rencanakan perjalanan ke luar kota dengan penuh persiapan termasuk tiket perjalanan Anda. Dan yang paling penting jangan malu untuk bertanya kepada para petugas berseragam resmi, dan sampaikan dengan jelas jika memerlukan bantuan mereka. Semoga tidak ada lagi kejadian serupa.

Tepi Merapi, 7 November 2017

Foto Terminal Pulogebang dipinjam dari sini.

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Bus Malam, Calo,dan Penumpang Telantar

  1. Redmi 3s berkata:

    kalo di hipnotis sekiranya mereka bakal lebih apes mas, barang bawaan/dompet bisa raib diambil si calo. jadi kemungkinan besar itu calo preman kayanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s