Dongeng dari Festival Dongeng


Dongeng merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan dari anak kecil. Secara umum, alam pikiran seorang bocah sangat menyukai dongeng. Orang Jawa memiliki ungkapan bahwa dongeng dipaido keneng. Sebuah kisah dongeng dapat dipercaya ataupun sama sekali tidak perlu dipercaya. Hal ini sangat berkaitan dengan bentuk kisah dongeng yang pada umumnya merupakan cerita fiksi atau khayalan. Hanya saja, meskipun dongeng secara umum hanya cerita fiksi, namun di dalamnya termuat pesan-pesan pendidikan dan tuntunan yang sangat dalam bagi tumbuh kembang karakter dan pengetahuan seorang bocah.

Penanaman nilai-nilai kehidupan bagi anak-anak akan jauh lebih efektif dilakukan melalui dongeng dibandingkan apabila seorang anak dinasehati secara langsung. Semua anak Indonesia mungkin paham bahwa seorang anak harus senantiasa patuh dan taat kepada orang tua, dan tidak boleh durhaka kepada orang tua. Bercermin dari cerita Malin Kundang, si Anak Durhaka dari Sumatera Barat, anak-anak dapat dipahamkan mengenai nilai bakti kepada kedua orang tua tersebut. Tentu akan sangat jauh berbeda efeknya jika anak hanya diceramahi oleh orang tuanya, “Nak, kamu harus berbakti dan tidak boleh durhaka kepada ayah-bunda ya!”

Nilai persaudaraan dan kasih sayang diantara sesama saudara bisa jadi dapat dipetik dari kisah Bawang Merah Bawah Putih, atau Kleting Bersaudara pada kisah Ande Ande Lumut, atau bisa dari dongeng Putri Cinderella. Bagaimana dalam satu keluarga senantiasa ada anak yang taat dan penuh sifat welas asih. Sebaliknya, di dalam satu keluarga juga sangat dimungkinkan ada anak-anak yang nakal, bahkan jahat sifat serta perangainya. Namun bagaimanapun seorang yang bersifat mulia tersakiti, Tuhan senantiasa Maha Adil untuk memberikan buah dari setiap sifat dan perbuatan yang dilakukan. Yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan. Demikian halnya yang berbuat kejahatan akan terbalas dengan kejahatan pula. Tidak ada amalan manusia yang tertukar di bawah timbangan keadilannya Tuhan Yang Maha Adil.

Di samping kisah-kisah dongeng pendek, secara kultur budaya, khususnya di kalangan masyarakat Jawa bahkan mengenal kisah epos besar Ramayana dan Mahabarata. Antara dongeng dan kisah nyata, kedua epos tersebut menjadi pembelajaran yang sangat penting mengenai perseteruan abadi antara kebenaran dan kebatilan, antara kebajikan dan kejahatan, antara yang hak dan yang batil. Bahkan hingga di usia remaja, dewasa, bahkan orang tua tidak pernah merasa bosan untuk kembali mengulang-ulang kisah besar tersebut.

Dongeng memiliki kekuatan untuk menjalin kedekatan antara orang tua dan anak-anak. Sungguh beruntung anak-anak yang di masa kecilnya senantiasa mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan dongeng dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Entah dari kedua orang tuanya secara langsung, dari kakek-nenek, dari guru, dan lainnya. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan melalui dongeng akan tertanam lebih dalam di kedalaman sanubari seorang anak yang akan senantiasa abadi hingga ia beranjak dewasa dan menjadi manusia seutuhnya. Kepekaan perasaan, kerendah-hatian, kedalaman ras empati, sifat welas asih, akan terbawa hingga kelak si anak menginjak usia dewasa.

Dongeng pada masa awal perkembangannya merupakan bagian dari tradisi lisan suatu masyarakat yang sangat kuat. Seiring dengan kemajuan literasi dari sebuah masyarakat, dongeng kemudian dituliskan pada lembaran lontar, kertas, hingga tersusun menjadi buku dan kitab-kitab. Bersamaan dengan kemajuan teknologi informasi, dongeng semakin menyebar ke berbagai penjuru dunia melewati batas-batas teretorial dan geografis. Namun sayangnya dengan semakin banyaknya sumber dongeng yang bisa didongengkan kepada anak-anak, justru orang tua di masa kini pada umumnya semakin meninggalkan kebiasaan berdongeng untuk anak-anaknya.

Karena kesibukan, karena pekerjaan, intinya banyak orang tua yang merasa tidak memiliki waktu untuk berdongeng. Kondisi di atas akan lebih diperparah jika pola pikir dari orang tua di masa kini merasa tidak memerlukan lagi untuk berdongeng kepada anak-anaknya.

Dalam rangka menumbuhkembangkan kembali kesadaran berdongeng, sebenarnya telah banyak bermunculan komunitas dongeng maupun para pendongeng muda. Kegiatan semacam festival dongeng juga seringkali digelar untuk terus meningkatkan kebiasaan berdongeng.

Beberapa hari lalu, tepatnya 4-5 November 2017 berlangsung Festival Dongeng Internasional 2017 di Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Sebagaimana tajuk acaranya, tentu saja di dalam acara tersebut tidak hanya diperkenalkan dan dibahas dongeng-dongeng dari dalam negeri, tetapi dongeng dari berbagai negara juga diketengahkan. Tentu saja dihadirkan pula para pendongeng dan pemerhati dunia dongeng dair luar negeri.

Ada beragam sesi acara yang diadakan pada gelaran festival tersebut. Sesi dongeng untuk anak-anak tentu saja menjadi sajian utama yang digelar di berbagai panggung. Antusiasme anak-anak yang rata-rata didampingi oleh orang tua ataupun guru sekolahnya untuk menyimak dongeng-dongeng yang dikisahkan sungguh luar biasa. Hampir setiap saat sesi dongeng berlangsung, ratusan anak-anak duduk dengan rapid an penuh perhatian. Selain mendengarkan dongeng, di setiap akhir dongeng digelar kuis ataupun game yang memberikan kesempatan anak-anak tersebut mendapatkan hadiah kejutan. Tentu anak-anak dengan penuh semangat dan rasa percaya diri banyak yang berani tampil untuk menjawab ataupun melakukan permainan kecil di atas panggung.

Selain menikmati sajian dongeng, di berbagai lantai juga dipamerkan sejarah hal-ihwal berkenaan dengan kertas, buku, dan tradisi literasi secara umum. Di beberapa lantai juga terdapat stand-standa yang menyediakan berbagai sarana permainan maupun alat untuk mendukung proses berdongeng. Ada boneka-boneka lucu, wayang-wayangan, angkrek, pasel, buku dongeng, dan lain sebagainya. Di samping itu, berbagai ruang pustaka yang ada juga dibuka untuk memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat dan membaca koleksi pustaka yang ada di Perpusnas tersebut.

Kami sekeluarga yang di rumah sering mendongengkan kisah Mahesa Jenar, Api di Bukit Menoreh, kerajaan-kerajaan Nusantara, dongeng para nabi dan wali, kisah-kisah legenda, tentu sangat bersemangat untuk menyelami setiap sesi acara yang ada di festival dongeng tersebut. Dan tanpa terasa lebih dari setengah hari kami tenggelam di dalam keriuhan dunia dongeng.

Ngisor Blimbing, 6 November 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s