Duka Keluarga Besar Kami


Dua sosok pada gambar foto ini adalah Biyung Tuwo Dalmi dan adiknya, Mbah Surti. Foto lawas tersebut diambil sekitar tahun 1985-an di atas Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Keduanya merupakan dua diantara anak-anak dari Simbah Buyut kami, Mbah Mangun dari Dusun Mangunan. Meskipun kakak-beradik, namun diantara kedua sosok tersebut berselang beberapa saudara-saudari yang lain. Seingat dan sepengetahuan saya, nama-nama putra-putri Mbah Mangun meliputi Mbah Sarinten, Biyung Tuwo Dalmi, Mbah Reso, Mbah Norjo, Mbah Kijo, Mbah Cokro, Mbah Rabinem, Mbah Sari, dan Mbah Surti. Dua bungsu yang terakhir terlahir sebagai sepasang kembar perempuan.

Biyung Tuwo Dalmi sendiri adalah nenek saya dari pihak ibu kandung. Pertengahan bulan November tepat satu tahun silam Beliau dipanggil kehadirat-Nya. Diantara mbah-mbah kami dari Mbah Buyut Mangun kemudian tinggal tersisa Mbah Kijo, Mbah Sari, dan Mbah Surti.

Dua tiga hari ini adalah hari kedukaan bagi keluarga besar kami. Rabu siang, adik dari Biyung Tuwo kami, Mbah Kijo mangkat untuk menghadap Sang Maha Pencipta. Rabu malam, menjelang tengah malam, Bulik Wanti yang merupakan anak dari Mbah Norjo juga dipanggil menghadap-Nya. Sedihnya lagi, di hari kemarin bertepatan dengan Kamis sekitar pukul 14.30 WIB, giliran Mbah Surti menyusul ke haribaan Gusti Alloh Yang Maha Pengasih.

Kenapa bareng-bareng tiga orang sekaligus? Semua tentu rahasia dan takdir dari Allah SWT. Meskipun mereka sebagai para sesepuh kinasih yang sangat menyanyangi kami dan senantiasi kami harapkan umur panjang dan kesehatannya, tetapi saat perpisahan itu tidak dapat lagi diundur ataupun ditolak. Sebagai makhluk Tuhan, titah sewantah jalma limrah, yang tidak terlepas dari khilaf dan dosa, kami harus ikhlas melepas kakek, bulik, dan nenek kami. Innalillahi wa inna ilia rajiún, segalanya berasal dari Allah dan segalanya akan kembali kepada-Nya jua.

Diantara saudara ataupun saudari dari Biyung Tuwo Dalmi, nenek yang paling memiliki kedekatan dengan keluarga kami semenjak kami kecil adalah Mbah Surti sebagaimana nampak pada foto yang sempat terabadikan tersebut. Mbah Surti sama-sama tinggal satu kampung dengan keluarga kami. Bahkan ketika kami masih kecil, Mbah Surtilah yang turut mengasuh dan ngemong kami-kami semua.

Tentu saja kebersamaan dengan Mbah Surti banyak menyisakan kisah-kisah nyata yang menjadi kenangan suka maupun duka, bahkan kelucuan dan keluguan-keluguan yang mengaharu-biru sepanjang waktu. Salah satu cerita yang pernah dituturkan Mbah Surti adalah pada saat mudanya ujung atau bersilaturahmi lebaran ke Karanggawang.

Lebaran, sebagaimana tradisi di daerah kami, adalah kesempatan untuk saling bersilaturahmi, saling maaf-memaafkan, dan menyambung kembali tali persaudaraan. Di era tahun 60-70an, karena dirasakan Hari Lebaran adalah hari yang sangat istimewa, maka pada kesempatan saling berkunjung tersebut orang-orang sengaja mengenakan busana terbaiknya, atau bahkan yang paling baru. Tentu saja sebagian para perempuan berbusana Jawa dengan baju kebaya, kain jarik, lengkap dengan sanggulnya. Demikian dengan Mbah Surti dan Mbah yang lain, maupun para keponakan perempuannya.

Konon pada saat ujung di Karanggawang itu sang tuan rumah memiliki sebatang pohon jeruk keprok yang sedang rimbun-rimbunnya berbuah jeruk yang bergelantungan. Tentu saja sebagai remaja-remaji dan diprovokatori para keponakan perempuan yang merengek-rengek meminta buah jeruk, Mbah Sari-Surti segera tanggap sasmita dan menyingsingkan lengan tangan. Setelah mendapatkan izin dan dipersilakan oleh tuan rumah, keduanya segera melengkapi diri dengan sebatang galah bambu. Sudah pasti maksud hati dengan galah bambu itu mereka dapat me-nyegrok jeruk-jeruk yang memang sudah matang di pohon tersebut.

Ndilalahnya, hari itu merupakan hari kurang beruntung bagi Mbah Sari-Surti. Kerimbunan daun dan buah jeruk yang ranum meniadakan kewaspadaan dan kehati-hatian keduanya. Setelah tepat berada di bawah pohon jeruk yang rimbun tersebut, keduanya segera me-nyegrok-kan galah bambunya ke tengah dahan dan dedauannya. Namun untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak. Bayangan mendapatkan buah jeruk yang ranum dan manis buyar seketika itu juga. Jangankan tepat nyengget buah jeruk, galah bamboo mereka justru mengenai gumpalan rumah tawon ndas yang sungguh besar.

Tentu saja mendapatkan smash-an galah bambu membuat gumpalan rumah tawon ndas itu segera pecah berantakan. Dan tentu saja dapat dipastikan, tawon-tawon yang bersarang di dalamnya segera naik pitam, mubal dan berhamburan terbang ke segala arah untuk menyerang balik orang-orang yang dianggap telah mengganggu ketentraman hidupnya. Sudah pasti dua kembar Mbah Sari-Surti sebagai tersangka utama yang nyengget omah tawon ndas itu segera dikejar dan diserang secara beruntung.

Secara reflek, tentu saja dua kembar Mbah Sari-Surti berusaha berlari dan menghindari serangan para tawon. Namun sungguh usaha keras mereka kurang membuahkan hasil. Gerombolan tawon yang sedang marah itupun menyerang dari segala arah. Cilakanya berlari dengan mengenakan kain jarik, baju kebaya, dan sanggul di kepala bukanlah persoalan mudah. Serangan itupun konon menyebabkan sanggul yang dikenakan dua kembar kita itu copot dan menggelinding di jalanan. Selain itu akibat yang paling menyakitkan adalah sengatan para tawon yang ngamuk itu.

Sebagai salah seorang cucu yang mendapatkan kisah yang lucu bercampur tragi situ, saat diceritakan saya hanya bisa tertawa terbahak dan ngece kedua simbah kembar kami itu. Rupa-rupanya kisah dioyak dan dientup tawon ala dua kembar Mbah Sari-Surti itu akan menjadi kenangan abadi yang akan kami catat dengan baik untuk kami wariskan kepada anak-cucu kelak di kemudian hari sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada simbah-simbah kami.

Kepada para almarhum dan almarhumah simbah serta bulik kami yang tengah berpulang ke haribaan-Nya, semoga segala amal ibadah di masa hidupnya diterima di sisi-Nya serta segala dosa dan kekhilafannya dimaafkan,sehingga mendapatkan tempat yang sebaik-baiknya di alam keabadian. Demikian hal keluarga besar kami yang ditinggalkan orang-orang yang kami kasihi tersebut diberikan kesabaran dan ketabahan untuk terus melanjutkan benih perjuangan yang dulu pernah ditanam para pendahulu kami tersebut.

Ngisor Blimbing, 3 November 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s