Nostalgia Kuncung Bawuk


 

 

Jauh sebelum, atau hamper bersamaan dengan kehadiran film boneka si Unyil di TVRI pada era 80-an, TVRI Jogja sudah memiliki film boneka sejenis yang bertajuk Kuncung Bawuk. Sebagaimana si Unyil yang diambil dari salah seorang peran bocah yang ada, demikian halnya Kuncung Bawuk yang diambil dari nama dua kakak beradik, si Kuncung dan si Bawuk. Kedua film tersebut sama-sama film bocah yang menggali kehidupan sehari-hari dari sebuah keluarga sederhana. Satu hal yang paling membedakan kedua film tersebut adalah penggunaan Bahasa Jawa dalam serial Kuncung Bawuk.

Dengan mengambil setting masyarakat pinggiran yang sehari-hari berbahasa Jawa, tayangan Kuncung Bawuk menampilkan kisah sehari-hari yang dialami oleh sebuah kecil nan sederhana. Sebagai tokoh sentral, tentu saja si kakak beradik Kuncung dan Bawuk. Di samping itu, ada tokoh Bapak dan Simbok yang merupakan inti dari keluarga Kuncung Bawuk. Meski mengangkat cerita sehari-hari yang ringan, namun Kuncung dan Bawuk selalu menghadirkan kelucuan-kelucuan bahkan kekonyolan yang sanggup mengundang gelak tawa bagi siapapun yang menontonnya.

Adalah si Kuncung, bocah tanggung sekitar kelas 4-5 SD itu senantiasa tampil dengan lagak lagu sok tahu dan serba kemlinthi. Suatu hari si Kuncung baru mulai belajar Bahasa Inggris di sekolahannya. Kebetulan Pak Guru menceritakan betapa pentingnya menguasai Bahasa Inggris dikarenakan sebagai daerah tujuan wisata, Jogja banyak didatangi turis mancanegara.

Sebagaimana murid pencak silat yang baru belajar satu dua jurus, Kuncungpun kemlinthi dan segera unjuk kemampuan kepada Simboknya yang kebetulan seorang penjual lotek (semacam sayur segar bersambal mirip pecel). Dengan setengah teriak Kuncung menyapa Mboknya, “Hello Simbok. What is your name?”

Sambil ngulek cabe dan gula jawa, Simbok jadi mlongo. “Welha, kowe ki ngomong opo to Cung?” Di satu sisi ia tentu turut bangga melihat anaknya mulai cas-cis-cus berbahasa Inggris. Namun di sisi lain ia bingung harus menjawab atau menanggapi sapaan anaknya seperti apa. Ia yang hanya lulusan SR di masa lalu tentu saja tidak pernah mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris.

Lho-lho, malah mlongo to Mbok! Ditakoni anake ki ya njawab. Bahasa Inggris kuwi penting lho Mbak. Awake dhewe kudu iso omong ngangga Bahasa Iggris,” Kuncung merespon Simboknya yang tidak menjawab sapaannya.

Simboknya menimpali, “Penting ya penting Cung! Ning kuwi lak kanggone bocah sekolahan koyo awakmu kuwi. Nek kanggone Simbok ya cukup Basa Jawa wae.”

Ya ora ngono to Mbok. Saiki koyo daerah dhewe ki dadi tujuane wong-wong Landa sing pada plesiran lho Mbok. Lha nek ngko ono Landa teka njuk meh tuku loteke Simbok, Simbok lak dadi iso omong-omongan to Mbok!”

Lha iya nek ono Landa teka mrene lha ya teko awakmu wae sing nyauri pitakoe to Cung!”jawab Simbok dengan lugu.

Kuncung langsung memotong, “Lha nek umpamane aku pas sekolah njuk kepiye Mbok? Pokoke Simbok kudu latihan Bahasa Inggris. Ora susah kok Mbok. Gampang wis to! Simbok mengko tak ajari wis.” Kuncung terus ngotot membujuk Simboknya.

Kaya pitakonku mau lho Mbok. “Nek ditakoni hello ya geri teko dijawab hello mister. Terus nek ditakoni, what is your name? Jawab wae, my name is Simbok. Artine nama saya Simbok. Njuk nek Landane takon, what it this? Karo ngacungi loteke Simbok, Simbok geri njawab this is lotek. Gampang to Mbok!”

Ndilalahnya si Bawuk pulang dari bermain dan mendengar kata-kata my name is Simbok. Ia langsung minta diajari Bahasa Inggris oleh kakaknya. Ketika pertanyaan Bawuk nerocos banyak kata, Kuncung menjadi kewalahan untuk memberikan jawaban. Maklum, memang kata-kata yang dikuasai olehnya hingga hari itu baru sampai pada kata-kata hello mister dan my name is Simbok.

Nama Kuncung dan Bawuk sendiri sebagai judul dari film anak-anak tersebut,  keduanya merupakan kata dalam Bahasa Jawa yang cukup populer dan banyak dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Kuncung adalah jenis potongan rambut yang menyisakan sebagian rambut di sisi tengah atas hingga ke poni ke depan pelipis, sementara di bagian pinggir tipis atau bahkan sama sekali plontos. Jenis potongan rambut sangat sederhana bin ndesit ini banyak dilakukan untuk anak atau bocah laki-laki. Dari sini pulalah kemudian muncul sebutan cung atau kuncung untuk anak laki-laki.

Adapun kata bawuk merupakan kata yang merujuk sebagai sebutan untuk bocah perempuan. Wuk sendiri sebenarnya merupakan kependekan dari kata g*wuk. Dengan demikian kata cung dan wuk sangat sering dipergunakan di tengah masyarakat pada era sebelumnya 80-an. Kini kedua kata sebutan tersebut sudah nyaris tidak pernah terdengar, bahkan pada kalangan masyarakat di pedesaan Jawa sekalipun.

Lebih daripada sebagai sebuah hiburan atau tontonan anak-anak, banyolan dan kenakalan bocah ala Kuncung dan Bawuk sejatinya menyimpan pesan yang mendalam. Kehidupan sehari-hari di rumah Kuncung diangkat sebagai nasehat-nasehat yang memberikan kesan tidak menggurui namun sangat berarti. Dengan kemasan percakaan dalam Bahasa Jawa, tayangan tersebut sengaja diproduksi untuk menjadi panutan masyarakat Jawa dalam menerapkan tata Bahasa Jawa, unggah-ungguh, serta sopan santun antara yang muda kepada yang lebih tua.

Kini di tengah tayangan film anak-anak produksi luar negeri, TVRI Jogja kembali mengemas tayangan Kuncung Bawuk untuk dipersembahkan kepada masyarakat yang lebih luas. Tidak hanya dapat dinikmati di layar televise keluarga, tayangan Kuncung Bawuk telah banyak diunggah ke jagad youtube. Dengan demikian cakupan siarannya dapat menjangkau kalangan yang jauh lebih luas bahkan tidak mengenal batas geografi dan negara lagi. Dan tatkala serial Kuncung Bawuk kami perkenalkan kepada anak-anak di rumah, ternyata mereka sangat menyenanginya. Ada gelak tawa diantara kami ketika menyaksikan aksi dan banyolan-banyolan nakal nan ngeyel ala si Kuncung. Penasaran? Monggo dinikmati kembali serial Kuncung Bawuk TVRI Jogja (memang istimewa).

Tepi Merapi, 1 November 2017

Foto diedit dari youtuube.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s