Bus Kota dan Mahasiswa Jogja


Permasalahan transportasi public di perkotaan masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang pelik. Konon hal tersebut dikarenakan peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat yang kini rata-rata sudah mampu memiliki kendaraan pribadi sendiri, meskipun sekedar kendaraan roda dua dan didapatkan melalui kredit alias hutang. Jalanan semakin padat dengan kendaraan. Akhirnya kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan yang lumrah di berbagai kota besar di tanah air.

Seiring dengan kisah transisi bus kota atau angkot menjadi busway-nya Transjakarta di ibukota Jakarta, maka di berbagai kota besar lainnya muncul gagasan untuk menciptakan trans-lokalnya masing-masing. Semarang memiliki TransSemarang. Bandung dengan TransBandung-nya. Surabaya mempunyai TransSurabaya. Termasuk Jogjakarta dengan TransJogja-nya.

Khusus di Kota Pelajar Jogjakarta, setidaknya pada era sebelum dua puluh tahun silam, buskota adalah kendaraan umum andalan warga Jogja. Anak-anak pelajar pulang-pergi ke sekolah naik bus kota. Para mahasiswa hilir-mudik ke kampus juga kebanyakan naik bus kota. Para pedagang dan bakul juga beraktivitas sehari-hari diantar jemput oleh bus kota. Demikian halnya para pekerja, ataupun masyarakat umum yang bepergian. Bus kota menjadi pilihan transportasi umum karena tarif yang terjangkau dan relatif dapat diandalkan karena kepadatan lalu lintas yang relatif belum menimbulka kemacetan.

Dominasi UGM dengan Kampus Bulaksumur-nya yang memiliki ribuan mahasiswa, menjadikan hampir setiap jalur bus yang ada melewati Kampus Biru tersebut. Bahkan di kalangan para kru bus kota, yang dimaksud dengan istilah “Kampus” hanyalah Kampus UGM Bulaksumur. Seolah tidak ada julukan kampus untuk perguruan tinggi yang lain. Untuk kampus perguruan tinggi lain, penyebutan kampusnya harus komplit semisal Kampus IKIP, Kampus IAIN, Kampus STIEKERS, Kampus UPN, dll.

Kini jaman telah mengalami pergeseran. Menghitung jumlah mahasiswa di kampus-kampus yang ada di Kota Pelajar bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Sebuah pemandangan yang sudah sedemikian amat sangat langka. Jika dulu para mahasiswa perantau yang indekos di berbagai sudut kota Jogja pulang-pergi kuliah naik sepeda ataupun bus kota bahkan jalan kaki, kini sebagian besar diantaranya bersepeda motor bahkan berkendaraan roda empat. Kantong-kantong tempat parkir ataupun halaman kampus seolah sudah tidak lagi mampu menampungnya sebagai tempat parkir.

Dulu katakanlah ketika pulang dari perkuliahan dan menunggu bus kota di pinggir jalanan lingkungan kampus, kita bisa menjumpai banyak mahasisw lain yang sama-sama menunggu bus ataupun baru turun dari bus, kini tidak ada lagi mahasiswa yang berpanas dan berdebu menunggu bus kota. Mahasiswa yang naik atau turun dari bus kota di lingkungan kampus sangat bisa dihitung dengan jari tangan. Mahasiswa memenuhi bus kota bahkan hingga bergelantungan sebagaimana masa lalu adalah sebuah keniscayaan jaman.

Fenomena apakah yang sedang terjadi? Benarkah kampus sekarang lebih banyak diisi oleh mahasiswa dari kalangan masyarakat berada? Ataukah memang kepemilikan kendaraan pribadi adalah sebuah ukuran yang wajar di masa kini? Ataukah tingkat kesadaran mahasiswa untuk menggunakan moda transportasi publik dalam rangka turut mengurangi kemacetan, menghemat bahan bakar minyak secara massal, dan menekan angka polusi udara akibat asap kendaraan bermotor patut dipertanyakan?

Akan halnya Kota Pelajar Jogjakarta dengan TransJogjanya, sekian lama beroperasi nampaknya belum begitu berarti untuk terus memperbaiki layanannya. Selang waktu antar bus yang masih relatif lama, benar-benar menguji kesabaran para penumpang untuk menunggu dengan jemu. Bahkan untuk jalur bus yang sama bisa berselang hingga 30 menit. Jarak antar halte bus yang sedemikian jauh menjadikan penumpang tidak fleksibel untuk naik dan turun di suatu tempat. Jalur layanan bus yang berputar-putar sedemikian jauh menjadikan waktu tempuh ke suatu lokasi yang seharusnya dekat justru menjadi bertambah lama.

Murah sih memang murah. Nyaman sih dengan AC-nya yang dingin memang menyejukkan di tengah suasana terik siang yang panas. Tetapi, meskipun murah, sejuk, dan nyaman jika waktu tempuh lebih lama, berapa penumpang yang masih bertahan setia dengannya? Hal demikian tentu sangat mempengaruhi anemo masyarakat untuk berkendara dengan TransJogja, terlebih bagi kalangan mahasiswanya. Kira-kira hanyalah para penumpang yang tidak berpacu dengan waktu, masih mau menggunakan bus kota. Maka jangan heran ketika kita naik TransJogja, penumpang seperjalanan dengan kita didominasi orang tua dan sangat sedikit dijumpai kalangan pelajar ataupun mahasiswa.

Jika demikian yang terjadi seolah-olah problematika transportasi publik kita semakin terjebak ke dalam suasana lingkaran setan yang sedemikian sulit untuk diurai. Kendaraan yang sedikit menjadikan selang waktu antar bus menjadi panjang, masyarakat menjadi semakin enggan. Jalur yang memutar-mutar menjadikan waktu tempuh juga semakin lama. Titik antar halte yang berjauhan dan tidak berada pada titik yang strategis juga semakin merepotkan penumpang. Hal itu semua membuat anemo masyarakat untuk setia terhadap sarana transportasi umum semakin menurun.

Jika anemo menurun, jumlah penumpang menurun, armada buspun tidak akan bertambah dan berkembang bahkan mengalami penurunan atau perampingan. Maka tidak mengherankan jika beberapa halte penting kini justru sudah semakin mangkrak dan tersia-siakan. Halte yang dulunya dijaga oleh petugas, kini mulai sama sekali tidak ada petugasnya.

Mungkin hanya ada dua kondisi yang bisa menjadikan lingkaran setan di atas bisa diurai. Pertama pemerintah berperan proaktif untuk meningkatkan anggaran sarana dan prasarana transportasi publik, bahkan jika perlu meningkatkan subsidi serta insentif. Kedua, masyarakat terlebih kalangan pelajar dan mahasiswanya secara proaktif meningkatkan kesadaran untuk kembali berkendaraan umum. Semua demi terciptanya transportasi umum yang baik demi kelancaran bersama. Bagaimana Mas Bro dan Mbak Sis warga Jogja? Jangan hanya mengeluh setiap hari tentang semakin macetnya Jogja tanpa melakukan langkah-langkah kecil secara bersama-sama untuk mengurangi kontribusi kita terhadap kondisi kemacetan yang terjadi. Monggo kita renungkan bersama.

Ngisor Blimbing, 30 Oktober 2017

Sumber Foto dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s