Pandu Swarga – Pandawa Mensurgakan Orang Tua


Meskipun senja menjelang malam, wilayah Tangerang dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup deras, namun bintang gemintang kemudian menyibak awan mencerahkan malam. Selepas tengah malam, badan yang sejatinya masih menyisakan setengah lebih rasa lelah dan kantuk melangkah untuk mangayubagyo pagelaran wayang semalam suntuk oleh Dalang Kondang dari wilayah Surakarta Hadiningrat, Ki Anom Suroto.

Memasuki sebuah lapangan di tepian jalan raya yang menjadi tempat perhelatan wayang tersebut, nampak kerumukan ribuan warga yang antusias menyaksikan salah satu kesenian warisan yang sudah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO tersebut. Rupa-rupanya, sesi pagelaran tengah memasuki episode goro-goro dimana empat punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong tampil di muka kelir pertunjukan. Gorogoro inilah episode paling favorit bagi semua penikmat dan pandemen pertunjukan wayang kulit.

Di samping gegojekan dan keceriaan dialog para punakawan yang cerdas, bernas dan sarat dengan kritik serta tuntunan hidup, episode gorogoro biasanya senantiasa hadir dengan menampilkan para bintang tamu dagelan maupun pesinden khusus. Sungguh beruntung pada malam itu rombongan Ki Dalang Anom Suroto, datang bersama Marwoto Kawer dari Yogyakarta, Sumarbagyo “Gareng Ngesti Pandowo” Semarang, dan Sinden Eka Suranti dari Kebumen.

Sebagai dua pendagel dari kutub kebudayaan yang berbeda, namun pada malam itu Marwoto dan Gareng Bagyo tampil secara spontan dengan berbagai banyolan cerdas yang tidak ayal mengundang gelak tawa penonton yang hadir.

Di awal sesi Gareng membuat pembedaan antara pertunjukan wayang dalam rangka tasyakuran atau tirakatan. Pertunjukan wayang kulit dalam rangka tasyakuran itu dilaksanakan dalam rangka mensyukuri karunia nikmat dari Yang Maha Kuasa dan dilakukannya setelah sebuah peristiwa terjadi berlalu. Adapun untuk tujuan tirakatan berdoa dan memohon keselamatan, kesuksesan untuk hal yang akan dilakukan alias belum terjadi.

Salah satu tema dagelan pada sesi selanjutnya membahas soal kencing sembarangan. Marwoto bertanya lugas, “Reng, kowe ngerti ora kepiye carane mbedakake ngarep karo mburine uwit?

Hayyyah! Lha ya po ana bedane? Ya ora ono wit kok nduwe ngarep ro mburi!” jawab Gareng sambil melotot.

Ya iso wae!” Marwoto ketus menyahut. “Seperti HUT Kota Tangsel ke 9 kali ini. Pemerintah akan semakin jaya jika didukung oleh sumber daya manusia dan cerdas dan mumpuni. Kowe diwenehi akal kudu pinter. Ojo mung mbedake ngarep uwit karo mburi uwit wae ora bisa, “ seloroh  Marwoto panjang lebar.

Lha ancene beda njuk apa? “Gareng Nampak pasrah dan menagih jawaban.

Ya nek sisih mburi wit ki sing biasane ambune pesing. Mergane pesing akeh wong sing pipis di mburine wit. Ya po ora? Nek nguyuh mesti ning mburi uwit to?” kelakar Marwoto menjawab. Menyimak obrolan dua dagelan itupun, seketika pecah gelak tawa dari hadirin.

Ada lagi pengalaman Gareng yang juga lucu soal kencing sembarangan. Pada saat istirahat dalam suatu perjalanan, ia tidak dapat menemukan toilet. Akhirnya ia nekad kencing di samping sebuah mobil truk yang juga sedang diparkir istirahat. Tiba-tiba saja truk tersebut bergerak dan berjalan semakin cepat. Demi agar tidak terlihat orang-orang di sisi balik bak truk, Gareng memilih lari mengikuti gerakan truk dan tentu saja masih sambil kencing. Dapat dipastikan si Gareng menjadi kocrat-kacrit tidak karuan.

Ada lagi kisah rahasia Pak Dalang yang beberapa kali kencing sembarangan di belakang patung. Suatu ketika ia terpaksa kencing di belakang patung polisi di pinggir jalan. Di tengah kencing yang belum tuntas separuhnya, si patung tiba-tiba bergerak dan berteriak marah. Rupa-rupanya, yang dikencingi dari belakang tadi bukannya sebuah patung tetapi justru seorang polisi beneran. Cilaka mencit memang Pak Dalang yang akhirnya dimaki-maki oleh sang polisi.

Sesi goro-goro dini hari itu memang penuh kejenakaan yang sungguh luar biasa. Banyak banyolan dan candaan yang terlempar spontan, bernas nan cerdas. Hadirin Nampak sangat menikmati dan tertawa berkali-kali. Ada kelucuan mengenai aturan rambu lalu lintas yang tidak tuntas kalimatnya. Mengenai tlethong alias tahi kerbau. Tentang istri yang pintar mencari uang, dan lain sebagainya. Tidak hanya melulu berisi dagelan, sesi goro-goro juga diselang-selingi beberapa tembang nasehat yang diuraikan makna tuntunan di balik tembang-tembang tersebut. Ada tembang sluku-sluku bathok juga  turi-turi putih.

Menjelang pukul tiga dini hari, alur pertunjukan wayang kembali ke jalur pakem lakon yang diangkat, yaitu Werkudara Gugat atau Pandu Swarga. Al kisah, selepas memenangkan perang agung Baratayuda, Pandawa merasa sia-sia hidupnya dikarenakan kedua orang tuanya yaitu Prabu Pandu dan Ibu Dewi Madrim ditempatkan di neraka atas keputusan para dewa di Kahyangan. Pandawa menuntut keadilan kepada para pimpinan dewa agar keduanya diampuni dan ditempatkan di surga.

Menerima permintaan para Pandawa yang diucapkan oleh Bima, para dewa justru menolak. Mereka bahkan selanjutnya menghukum Bima dan Pandawa lainnya yang dianggap telah menggugat keputusan para dewa. Pandawa harus dijeburkan ke dalam Kawah Candradimuka.

Bima yang gagah perkasa bahkan tanpa dipaksa sukarela untuk masuk ke dalam Kawah Candradimuka. Ia tidak merasa takut dengan apapun, termasuk ancaman para dewa. Ia berkeyakinan jika dirinya benar dalam membela kebenaran, tidak ada satupun yang dapat melukainya. Dan ajaibnya, Kyai Semar sebagai Kakak Batara Guru yang mengetahui ulah pokal para dewa di Kahyangan, langsung mengentuti Kawah Candradimuka. Dikarenakan Pandawa memang tidak bersalah, maka kawah itupun mendingin. Kobaran magmanya menjadi sejuk laksana air segar. Dan ketika Pandawa masuk ke dalamnya, mereka justru merasakan kesegaran yang sungguh luar biasa.

Melihat para Pandawa tidak tewas ketika nyemplung ke Kawah Candradimuka, dan justru merasa segar dan berlipat-lipat kekuatannya. Para dewa memprovokasi para buta dan raksasa untuk memerangi Pandawa. Melihat taktik licik para dewa, para putra Pandawa seperti Abimanyu menyingsingkan lengan untuk menghalau para raksasa tersebut. 

Akhir kisah, para Pandawa berhasil menumpas para raksasa. Juga atas desakan dari Kyai Semar Badranaya, akhirnya Betara Guru memutuskan untuk mengampuni dosa Pandu Dan Dewi Madrim serta kemudian menempatkannya di surga sebagaimana tuntutan para putra Pandawa.

Tanpa terasa, tepat pukul empat pagi pagelaran wayang kulit itupun usai. Segenap kru dan nayaga diserbu oleh para pononton yang ingin sekedar bersalaman ataupun bertegur sapa ala kadarnya. Sungguh dini hari tersebut saya mendapatkan banyak pengetahuan hidup baru, sekaligus energi yang luar biasa untuk menjalani kewajiban hidup di waktu-waktu selanjutnya. Sugeng pinanggih ing pagelaran ringgit wacucal ing sanes wekdal. Nuwun.

Ngisor Blimbing, 28 Oktober 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s