Nyekik Hape lan Minggah Montor Mabur


“Nyuwun kawigatosipun. Para penumpang Lion Air ingkang nomer penerbangan JT607 tujuan Balikpapan. Kasumanggakaken minggah montor mabur mios pintu nomer tiga.  Para penumpang kasumanggakaken nyekik hape lan mriksa malih bagasi panjenengan. Matur nuwun.”

Pengumuman berbahasa Jawa sebagaimana tulisan di atas mungkin pernah Anda dengar tatkala menunggu atau akan memulai penerbangan dari Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Selazimnya pengumuman persiapan penerbangan di berbagai bandara yang ada di tanah air menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Mungkin baru di Terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta yang ditambah dengan Bahasa Mandarin. Tetapi pengumuman di bandara dengan bahasa Jawa, saya baru menemukannya di Yogyakarta.

Jujur, meskipun saya asli sebagai orang Jawa, pada saat pertama kali mendengar pengumuman tersebut ada sedikit perasaan aneh. Mungkin karena sebelumnya belum pernah mendengar ungkapan Bahasa Jawa dipergunakan sebagai pengumuman resmi di bandara dan lebih terbiasa mendengarnya dalam ungkapan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Namun sejurus kemudian, muncul sebuah perasaan bangga dan merasakan sebuah keluarbiasaan. Bayangkan, ada kata-kata minggah montor mabur. Montor mabur, coba? Seberapa lama kita tidak pernah lagi mengucapkan ataupun mendengar istilah montor mabur. Montor mabur alias kendaraan yang dapat terbang, alias pesawat. Sungguh sebuah romantika yang sangat mendalam bagi sebagian orang.

Bahasa Jawa adalah bahasa ibu bagi masyarakat Jawa, terlebih lagi bagi masyarakat Yogyakarta. Kota Budaya yang menjadi salah satu jantung sekaligus ibukota kebudayaan Jawa ini tentu tidak ingin melupakan begitu saja bahasa ibunya tadi. Dalam tata pergaulan sehari-hari, pada umumnya masyarakat Jojga (nama sebutan lain dari Yogyakarta) masih intensif menggunakan bahasa Jawa. Baik pada tataran bahasa ngoko, madya, karma, maupun krama inggil.

Namun seiring dengan kemajua teknologi maupun perubahan pola pikir kalangan masyarakat terdidik, tidak jarang bahasa daerah justru semakin ditinggalkan. Ada anggapan bahwasanya bahasa daerah itu tidak ada gunanya. Bahasa daerah ketinggalan jaman, kuno, anti kemodernan, tidak praktis dan efektif. Bahasa daerah juga tidak menunjang karir seseorang di masa depan. Daripada bersusah-susah mempelajari dan menerapkan bahasa Jawa lebih baik anak-anak semenjak dini diajarkan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, ataupun Bahasa Arab. Tentu anggapan seperti ini mengundang keprihatinan kita bersama. Bagaimana bahasa daerah yang menjadi salah satu keragaman budaya yang kita miliki akan lestari jika anak bangsa justru semakin meminggirkannya?

Kembali kepada pengumuman berbahasa Jawa yang ngumandhang di Bandara Adi Sutjipto sebagaimana dikutip di awal tulisan ini, tentu hal itu harus kita lihat secara positif sebagai salah satu bentuk dan upaya untuk melestarikan Bahasa Jawa. Sebagai penghubung ke kota-kota lain di dalam negeri, bandara tersebut tentu setiap harinya menerima kedatangan sekaligus melepas kepergian ribuan orang. Ribuan penumpang yang datang dan pergi tersebut diharapkan meskipun dalam penggalan kalimat yang tidak panjang dapat turut mengingat kembali, terlebih lagi memahami, mengapresiasi, bahkan mungkin menghapalnya sebagai bentuk kecil penghargaan anak bangsa terhadap kekayaan bahasa yang dimiliki bangsanya sendiri.

Bandara Adi Sutjipto sebagai bandara bertaraf internasional sekaligus merupakan pintu gerbang Indonesia dengan luar negeri. Keberadaan Yogyakarta sebagai salah satu destinasi wisata utama di tanah air menjadikan bandara menjadi titik kedatangan dan keberangkatan para wisatawan asing dari berbagai negara. Bahasa daerah yang seolah memiliki tingkatan atau kasta terendah seakan menjadi terangkat sejajar dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang menjadi pengangtar pengumuman di bandara internasional. Mungkin juga ke depannya tidak sedikit turis asing yang akan menghafalkan kalimat dalam Bahasa Jawa yang berkumandang saat ia akan meninggalkan Kota Budaya Yogyakarta.

Terlepas dari niat baik dari pihak terkait untuk mengangkat pamor Bahasa Jawa, sebagai salah seorang anak bangsa Jawa yang semenjak kecil diperkenalkan dan menggunakan bahasa daerah yang memiliki penutur paling banyak di tanah air ini, ada beberapa penggal kalimat yang seolah terasa mengganjal. Coba Panjenengan cermati dengan seksama, ada kata-kata “nyekik” hapé. Kalau kita sepadankan makna kata tersebut dengan pola kalimat pengumuman yang sama dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, kata tersebut semakna dengan kata “menonaktifkan peralatan komunikasi”.

Kata nyekik sepadan dengan kata mencekik dalam Bahasa Indonesianya. Dalam konteks mencekik leher seseorang akan dapat membuat korban tidak dapat bernafas dan selanjutnya dapat menemuhi ajal, alias mati. Dengan demikian kata nyekik atau mencekik berkonteks makna dengan kata mematikan. Karena mencekik biasanya dilakukan dengan sebuah kesengajaan, maka konotasi maknanya menjadi sadis atau kejam. Hal ini menjadikan kata-kata nyekik seolah sedikit tabu untuk diucapkan, dan selanjutnya menjadi jarang pula dipergunakan. Bahkan untuk konteks mematikan hape, dalam ungkapan ngoko ya mateni hapé.

Mungkin daripada mengambil frase kata nyekik hapé, akan lebih elok jika “kasuwun mejahi sakwetawis wekdal alat komunikasinipun. Bagaimana menurut Panjenengan?”

Ngisor Blimbing, 26 Oktober 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s