Sholawat Dalam Pesawat


Ah, tentu saja kita yakin bahwa langit tersusun atas tujuh lapis. Selanjutnya yakinkan juga bahwasanya Tuhan bertahta dan bersinggasana pada ars yang terletak di atas tujuh lapis langit tersebut. Maka bagi kita sebagai orang awam, mungkin pada saat mengangkasa naik pesawat terbang pada ketinggian jelajah 30.000 kaki merupakan saat yang paling dekat secara fisik dengan tahta dan singgasana Sang Maha Pencipta. Wallahuálam.

Lalu jika asumsi atau anggapan di atas kita anggap benar, apakah yang kita lakukan pada saat-saat yang sangat dekat dengan-Nya tersebut? Perkembangan layanan kenyamanan bagi penumpang pesawat tentu saja kini semakin canggih dan modern. Dengan berbagai fasilitas, salah satu media hiburan dan relaksasi dihadirkan melalui layar tivi kecil di setiap kursi penumpang. Melalui tivi tersebut kita bias mengisi sepanjang perjalanan terbang dengan mendengarkan musik, menonton film box office, main game, atau membaca berbagai informasi yang tersedia.

Diantara sekian pilihan yang ada pada saat berperjalanan udara pada pesawat yang dilengkapi sarana tivi tersebut, saya sendiri lebih sering memilih untuk mendengarkan musik. Musik klasik ataupun tembang kenangan sering menjadi pilihan utama. Sekali-kali jika terbang melintasi angkasa Timur Tengah, ya menikmati musik gambusan ala padang pasir dari Ummi Kulsumt atau Fairus. Kalau pilihan tembang dalam negeri, ya lagunya Ebit G. Ade, Bimbo, atau KLa Project.

Ada satu peristiwa yang saya anggap masih baru tatkala beberapa waktu lalu terbang dari ibukota. Di tengah pencarian beberapa menu pilihan lagu atau penyanyi yang sebagaimana biasanya, kok tiba-tiba nongol ada pilihan “sholawatan”. Terus terang saya sedemikian surprise dengan menu yang satu ini. Setelah saya klik tombol pilihan, terarahkanlah saya pada foto sesosok pelantun sholawat berpeci putih bulat. Ya, sosok yang tidak asing bagi masyarakat pedesaan dalam turut menggali dan mempopulerkan kembali musik sholawatan, dialah Kiai Mbeling Emha Ainun Nadjib.

Ada 12 menu sholawatan yang dihadirkan. Mulai dari Astaghfirullah, Ilir-ilir Sholawat Badar, Doa Bencana, Tholaál Badru, Zaman Edan, dll. Ah, sungguh luar biasa damainya hati. Sambil memandang keluar jendela. Awan-awan putih suci nan mengambang. Puncak-puncak gunung nan gagah perkasa di kejauhan. Sungai-sungai berkelok laksana naga taksaka di bawah. Birunya lautan nan luas terbentang. Hijaunya daun dan rerimbunan hutan. Semua membawa nuansa kekerdilan yang luar biasa di hadapan Tuhan. Kita manusia hanyalah setitik debu dan partikel yang sangat kecil nan tiada arti di dalam keluasan jagas kosmos planet-planet tata surya, Bimasakti, Andromeda dan alam semesta raya.

Sholawat di dalam pesawat, sungguh luar biasa. Beragam angan, berjuta rasa dapat kita hayati tatkala dengan tulus ikhlas turut mbatin bahkan berbisik, astaghfirullah rabbal barayyi,….astaghfirullah minal khataya.

Tepi Merapi, 19 Oktober 2017

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s