Senja Sepeda Noni


Sepeda yang saya kendarai sebagaimana nampak pada gambar di bawah ini sejatinya memang milik salah seorang sedulur sealumni. Sebelum melihat dengan mata dan kepala sendiri, sebenarnya melalui berbagai postingan gambar, sedulur sealumni saya sudah seringkali memperlihatkannya. Sehingga ketika pertama kali datang ke rumahnya dan sedikit kerepotan menemukan nomor rumahnya, begitu ada penampakan sepeda sebagaimana gambar di bawah, saya langsung meyakini bahwa rumah dengan sepeda terparkir di teras itulah rumah teman saya. Dan ternyata dugaan saya tepat 100%.

Sepeda di atas memang sebuah sepeda bergaya klasik. Sekilas penampakannya tidak berbeda dengan sepeda Jengki sebagaimana yang pernah dimiliki orang tua saya di kampung halaman. Keklasikan wujud dan bentuk sepeda bergaya klasik, angan saya langsung melayang ke kaleng biskuit wafer ala jadul. Pada permukaan luar kaleng yang saya maksudkan tergambar beberapa noni-noni sedang mengendarai sepeda. Meski hingga kini tidak bisa paham hubungan antara noni bersepeda dengan biskuit, namun gambar itu sedemikian melekat di ingatan.

Tidak hanya terhenti mencermati melalui gambar postingan, senja di saat kami berkumpul sedulur sealumni pekan lalu memberikan kesempatan untuk mencoba mengendarai sepeda yang kita perbincangkan ini. Tidak ketinggalan, si Noni Nadya turut mbonceng di sadel belakang yang memang dilengkapi dengan dudukan untuk penumpang bocah. Tentu saja si Noni, terlebih saya sangat menikmati momen yang berlangsung tidak terlalu lama tersebut.

Berbeda dengan sepeda Jengki orang tua saya yang tersusun dari kerangka besi berat, sepeda yang satu ini terasa sangat enteng. Juga berbeda dengan kebanyakan sepeda Jengki jadul yang berpresneling dan sebagian diantaranya merupakan sepeda torpedo yang tidak memiliki rem tangan, sepeda teman saya ini sama sekali bukan model sepeda torpedo.

Sepeda Jengki ala noni, ini semakin terasa spesial dikendarai dan sangat memanjakan kenyamanan pengendaranya dikarenakan dilengkapi dengan shockbreaker yang akan membuat kita turut mentul-mentul ketika melintasi polisi tidur atau bahkan lubang menganga. Tidak hanya sistem shockbreaker di as roda belakang, bahkan shockbreaker sejenis juga dipasang pada dudukan sedel pengendara. Walhasil, sepanjang jalan kita mengayuh sepeda tersebut seolah jalanan senantiasa terasa mulus.

Angan dan bayangan saya mengenai sepeda noni ala gambar di kaleng biskuit ternyata tidak berlebihan. Usut punya usut, si empunya sepeda menceritakan asal-usul sepeda istimewa tersebut. Sepeda tersebut ternyata dibawanya langsung dari Negeri Kincir Angin, negeri dimana suaminya berasal dan pada saat ini bermukim. Meski tanpa harus dipreteli satu per satu komponen, sepeda tersebut dapat dibawa dengan pesawat dan lolos tanpa masalah berarti di kepabeanan. Rupanya sepeda yang satu ini benar-benar memiliki romansa kisah yang cukup panjang dan menghadirkan sisi kenyamanan dalam berkendara yang teramat langka ditemukan pada sepeda-sepeda yang lainnya. Jadilah sore menjelang senja itu, saya memboncengkan si Noni Nadya yang cengar-cengir sepanjang jalan.

Kring….kring….naik sepeda. Monggo!

Foto biskuit kaleng Noni dari sini.

Ngisor Blimbing, 15 Oktober 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Senja Sepeda Noni

  1. kusumah wijaya berkata:

    sdh lama omjay tdk naik sepeda

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s