Saudara Saudari se Alumni


Saudara atau kerabat. Pengertian saudara yang paling khusus tentu ya kakak, adik, paman, pakdhe, sepupu, keponakan, dan seterusnya. Ya, pengertian saudara mengacu kepada nasab atau hubungan darah antar manusia. Saudara adalah bagian dari keluarga kita, bahkan dari keluarga besar kita.

Dalam perkembangan pengetahuan dan pengalaman hidup kita selanjutnya, ternyata pengertian saudara tadi tidak hanya terhenti pada pengertian khusus sebagaimana saya singgung di awal tulisan ini. Saudara meluas kepada kalangan di luar keluarga dan keluarga besar kita. Kita kemudian mengenal saudara sekampung tempat tinggal. Ada saudara sekampung halaman. Ada saudara sebangsa se-tanah air. Ada saudara seiman seagama. Saudara seperguruan, dan lain sebagainaya.

Nah kali ini, saya ingin sedikit berbagi kisah mengenai pertemua beberapa diantara saudara seperguruan kami. Mungkin lebih kerennya kita sering menyebutnya sebagai teman alumni sekolah ataupun kuliah. Dalam sebuah tulisan di pengujung Juli lalu saya mengisahkan tentang reuni kecil-kecilan dari beberapa teman Alumni Kampus Ledok mBulak Sumur.

Berlanjut dan sebagai kelanjutan dari pertemua pertama tersebut, kami kembali berkumpul di salah satu rumah teman alumni di seputaran wilayah Bintaro. Berbeda dengan format dan konsep pertemuan sebelumnya yang digelar di sebuah mall, maka pertemuan kami kali ini justru ingin lebih mengangkat keakraban yang lebih hommy. Maka meskipun hanya beberapa yang hadir, namun masing-masing membawa anak-anak dan pasangannya.

Sudah pasti Fendra dan Jayden sebagai tuan rumah. Ada saya dengan istri dan si Noni Nadya. Ada Ipul, Cik Mita, plus Ken dan Bre. Ada Harvit, dan nyonya, dan dua putra-putrinya. Ada Idah, ada Mas Bah juga. Jadilah memang yang terjadi adalah acara kumpul keluarga.

Dalam berbagai tema diskusi dan pembicaraan yang mengalirpun banyak yang berkaitan dengan tema keluarga. Cerita tentang anak! Bagaimana sekolah mereka. Bedanya sekolah anak jaman sekarang dan dulu. Pola pertemanan diantara anak sekarang, khususnya di Jakarta, yang tidak begitu mengenal keluarga teman karena ketemuan dan dolannya yang lebih sering di mall.

Khusus tematik yang satu ini, Fendra antusias membahas. “Dulu kalau kita berteman dengan teman sekolah, saking akrabnya sampai sering main bahkan nginap di rumahnya. Kita bisa kenal kakak-adik dari teman. Bisa kenal dengan orang tua dan saudaranya. Pertemanannya sangat dalam dan tidak pernah hilang sampai sekarang. Kalau anak Jakarta, ketemu teman di mall. Jarang main ke rumah teman, sehingga tidak mengenal keluarganya. Kita juga menjadi tidak mengenal siapa-siapa saja teman dari anak-anak kita,” kilahnya nerocos panjang lebar.

Pembicaraan mengenai sekolah jaman sekarang dengan berbagai model dan metodenya. Sekolah yang sedemikian tidak murah dan memusingkan orang tua. Sekolah alam, sekolah terpadu, sekolah internasional, sekolah agama, bahkan home schooling. Bagaimana orang tua jaman sekarang tidak pusing, sekedar untuk memilih sekolah yang terbaik untuk anak saja dihadapkan dengan banyak ragam pilihan jenis sekolah. Kalau jaman dulu, cukup milih sekolah negeri, selesai urusan. Lha jaman sekarang?

Sempat juga terangkat obrolan mengenai pembiasaan atau pengajaran anak dengan bahasa asing. Ada yang karena memang keluarganya campuran antar bangsa. Ada yang karena keterbiasaan main game atau nonton tivi. Apakah tidak menjadi masalah mengajarkan anak kecil dengan berbagai bahasa dan tidak terikat hanya cukup satu bahasa ibu saja? Ternyata dari sharing diantara teman-teman, anak kecil sangat peka terhadap bahasa. Dalam masa usia golden age, justru malah sangat efektif untuk mengajarkan berbagai bahasa kepada anak-anak kita.

Nah dari tematik pembicaraannya saja sangat bernuansa keluarga kan. Tentu sangat lain dengan pertemua sebelumnya yang lebih benyak mengulas sejarah pertemanan kami dan beberapa lontaran ide untuk menjalin bisnis di masa depan. Mungkin ini perbedaan aura anatar mall dan rumah. Rumah menghadirkan suasana yang lebih akrab, santai, cair, dan pastinya lebih kekeluargaan itu tadi. Hingga tidak terasa setengah harian penuh kami menghabiska kebersamaan. Matahari yang pulang ke peraduaannya yang menjadi pengingat dan batas bagi kami untuk menyudahi perjumpaan dengan itikad di hati untuk melanjutkannya pada suatu saat ke depan.

Inilah sedikit cerita yang mendorong saya melihat sisi-sisi persaudaraan yang lebih dalam dari pertemuan kami. Jadi Anda semua semoga bisa menemukan benang merah dari judul saudara-saudari se-alumni di atas.

Ngisor Blimbing, 12 Oktober 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s