Alumni Kebun Kacang II-70


Jakarta. Siapa suruh datang ke Jakarta? Ibu kota negara yang konon bagaikan rimba raya yang lebih kejam daripada ibu tiri sekalipun. Tapi begitulah suratan takdir telah memperjalankan banyak orang untuk mengadu nasib ke Jakarta. Termasuk saya dan beberapa teman.

Lima belas tahun hampir lewat, ketika pertama kali memasuki gerbang ibukota. Tak tanggung-tanggung kami langsung merambah jantung pusat ibukota. Kebetulan sebuah kantor di bilangan salah satu jalan protokol yang hanya hitungan puluhan langkah dari Bunderan Hotel Indonesia, menerima saya sebagai karyawannya. Dengan pertimbangan masih sendiri dan belum berkeluarga pada saat itu,  tentu saja dengan segala kepraktisan dan efisiensi ibukota Jakarta yang minta ampun super macetnya, saya dan beberapa teman memilih untuk tinggal pada sebuah rumah kos. Ya, rumah kos tersebut beralamat di Jalan Kebun Kacang II  sebagaimana judul tulisan di atas.

Jalan Kebun Kacang II No.70, itulah tepatnya alamat rumah kos yang kami tinggali. Sebuah rumah yang masih menyisakan pelataran halaman yang cukup luas di depannya. Ibu Keken, ibu kos kami yang sudah sepuh tinggal di rumah tersebut dengan dua anak perempuannya yang masing-masing sudah berkeluarga. Kebetulan salah seorang menantu ibu kos kami menjabat Ketua RW pada waktu itu. Jadilah rumah kos kami sering dijadikan tempat kegiatan RW, termasuk sebagai Posyandu.

Keberadaan saya di rumah kos tersebut kemudian disusul oleh beberapa teman lain, diantaranya Kusmanto, Saiful Bangsari dan Kang Bahtiar. Diantara kami bertiga, selain sama-sama pernah menuntut ilmu di Padhepokan mBulak Sumur, kami tentu saja sama-sama wong ndeso yang masih tergagap-gagap mengikuti ritme hidup Jakarta yang serba gemerlap. Di satu sisi kami adalah wong ndeso yang telah tertanam kuat akar-akar sesrawungan hidup ke-ndeso-an yang mengutamakan kebersamaan, keguyuban, persaudaraan, dan seabrek nilai-nilai pergaulan ala manusia biasa. Sementara di sisi yang lain, kami terlanjur kecemplung di rimba raya ibukota.

Dalam perkembangannya, kos kami menjadi persinggahan banyak teman yang sekedar ada keperluan dan mampir di Jakarta, sampai pada teman-teman yang menyusul untuk mengadu nasib dan mencari penghidupan di ibukota. Ada sederet nama-nama teman yang kemudian sering merapat ke kosan kami. Ada Fuad, Topik, Herman, Harvit, Wan Abid, dan lainnya. Intinya pelan-pelan dan lambat laun kami bisa menemukan sebuah lingkungan pergaulan dengan teman-teman lama maupun kenalan baru yang kami temui.

Segemerlap dan wahnya kehidupan ibukota, ternyata justru semakin membangkitkan kerinduan kami kepada semangat dan nilai-nilai ke-ndeso-an yang telah tertanam sangat kuat di lubuk bawah sadar alam pikiran kami. Kebetulan posisi tempat tinggal kami hanya hitungan berapa jengkal dari Bunderan Hotel Indonesia (BHI). Kebetulan pula pada saat itu tengah berlangsung proyek pembangunan di kawasan tersebut yang notabene mempekerjakan para karyawan bangunan yang rata-rata berasal daerah. Tentu saja rata-rata diantara mereka adalah wong ndeso sebagaimana kami. Dari sinilah kami kemudian kerasan nongkrong berlama-lama di sepuataran air mancur BHI.

Sebagai bagian dari wong cilik di pusaran ibukota, di BHI kami dapat ngumpul dan nongkrong sambil ngobrol ringan ngalor-ngidul dengan sesama wong ndeso. Rata-rata diantara mereka ya tentu saja para pekerja proyek yang di waktu malam mengisi waktu dengan duduk-duduk bersama di seputaran air mancur BHI. Di sinilah kerinduan suasana dan nuansa kehidupan ndeso sedikit dapat kami temukan atmosfirnya.

Dinamika roda kehidupan di dunia nyata pada saat itu mulai diikuti pula dengan perkembangan dunia maya yang riuh-rendah. Salah satu produk dunia maya yang mulai menarik minat kami adalah media blog. Atas sumbang sarang pengalaman Kang Bahtiar yang telah terlebih dahulu mengenal blog dan dari perkenalan dengan beberapa teman, akhirnya kamipun rata-rata kecemplung menjadi blogger.

Blog kemudian menjadi sarana bagi kami untuk berbagi cerita. Cerita-cerita ringan ala pengalaman sehari-hari yang kami jumpai di berbagai sudut ibukota kami bagi lewat blog. Blog kemudian menjadi semacam pengobat rindu untuk tetap mengekspresikan spirit ke-ndeso-an kami. Dan rupa-rupanya dunia blog sedemikan cepat berkembang dan mentautkan anak manusia sesama blogger dari berbagai wilayah tanah air.

Dari berbagai cerita yang kami postingkan lewat blog masing-masing, kemudian banyak blogger-blogger Jakarta yang penasaran dengan aktivitas nongkrong kami di BHI, dan tentu saja dengan markas Kebun Kacang II-70. Satu per satu teman nongkrong kami semakin bertambah banyak. Kemudian teragendakanlah nongkrong di setiap Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Ya, kami benar-benar ngumpul, reriungan, bercanda tertawa, gegojekan, tentu ala wong ndeso. Adalah sebuah kemewahan tersendiri dapat nongkrong dalam suasana ke-ndeso-an langsung berpayung gemerlap bintang dan pekatnya malam Jakarta. Tidak di kafe, di mall, tetapi di pinggiran air mancur BHI.

Dalam perkembangannya, para blogger rombongan nongkrong semakin bertambah banyak. Semarak perkembangan media blog pada masa itu memang sungguh luar biasa. Dari perkenalan dan pertemanan di dunia maya, hubungan itu terus berlanjut dengan perjumpaan secara langsung di darat. Kopdar, alias kopi darat. Itulah istilah yang kemudian sangat populer di kalangan blogger. Dan kegiatan nongkrong kami pada Jumat malam Sabtu menjadi ajang kopdarannya para blogger. Dari sinilah kemudian terlahir Komunitas Blogger BHI.

Tidak tanggung-tanggung nama-nama besar blogger pioner semacam Paman Tyo, Ndoro Kakung, Mas Iman, sering turut nongkrong kopdar. Kopdar nongkrongnya BHI bahkan mengundang teman-teman blogger dari kota lain yang kebetulan singgah di ibukota senantiasa turut mampir dan merapat menikmati kopdarann bersama. Ada yang dari Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, bahkan dari luar Jawa juga sering.

Sekian lama saya memang tidak berkisah tentang salah satu penggal sejarah hidup pada saat awal menapaki nasib di ibukota. Tulisan ini terpicu pertemuan kami beberapa hari yang lalu di bilangan Bintaro, Tangsel. Kebetulan selain saya, ada Kang Bahtiar, Ndoro Ipul Bangsari, dan Harvit. Kami hingga hari ini masih terikat dalam paseduluran Alumni Kebun Kaang II-70. Semoga masing-masing dari kami diberikan kelancaran dalam kiprah masing-masing dan tetap dipertautkan dalam tali persaudaraan yang kekal, bahkan hingga terwariskan kepada anak cucu kami.

Ngisor Blimbing, 9 Oktober 2017

Foto dari FB Kang Bahtiar.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Alumni Kebun Kacang II-70

  1. Bahtiar berkata:

    raga fisik terpisah jarak & pekerjaan
    batin pertemanan tetap beresonansi . . . 🙂

    Suka

  2. Ikhsan berkata:

    Alhamdulillah, sudah pernah ketemu dengan sesepuh BHI mas Bahtiar dan mas Saeful bangsari 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s