Mimpi Malaikat Maut


Mimpi. Mimpi, bukan impian. Mimpi yang katakana saja hanya sekedar bunga tidur. Ya, beberapa malam silam saya mengalami mimpi yang membuat merinding sekujur tubuh. Butuh beberapa hari untuk mengendapkan dan kembali mengingat rangkain mimpi mencekam tersebut.

Alkisah dari dunia mimpi. Pada suatu hari yang sedemikian cerah, seorang yang kini menjadi orang terpenting di negeri ini menggelar pesta hajatan pernikahan anaknya yang ke dua. Karena sang shohibul hajat merupakan tokoh penting, so pasti banyak tamu yang menghadiri resepsi. Mulai dari sanak kerabat dan handai taulan, para pejabat, tokoh masyarakat, orang-orang terkenal, pun orang-orang biasa semacam saya.

Saya sendiri tidak tahu persis darimana asal-usul ceritanya saya bisa turut hadir di perhelatan hajatannya tokoh maha penting tersebut. Yang jelas dalam mimpi yag saya alami itu tidak terkisahkan sama sekali mengenai hal tersebut. Tetapi yang mungkin begitulah yang namanya dunia mimpi. Segala seolah mudah saja terjadi, meskipun dalam kenyataan di dunia nyata hal yang kita alami dalam mimpi belum tentu dapat benar-benar kita alami. Namanya juga alam mimpi. Demikian barangkali suratan takdir-Nya.

Kisah inti dari mimpi saya tersebut justru terjadi pada saat momentum saya menyalami kedua orang tua salah satu pasangan pengantin yang merupakan orang penting tersebut. Sebelum bersalaman dengan sang orang penting, kebetulan karena urutan antrian, saya terlebih dahulu menyalami istrinya. Ketika saya mendekat dan menghampirinya, secara sepontan dan mendadak ia terperangah. Ada sebuah keterkejutan yang sangat luar biasa tersirat pada raut wajahnya. Dari raut muka seorang yang sedang berbahagia kerena memang sedang menggelar hari bahagia untuk anaknya, wajah tersebut seketika menjadi pucat pasi bercampur kerut-merut yang menandakan sebuah kesedihan yang teramat sangat dalam.

Dalam kesempatan andrawina beramah tamah, ibu tuan rumah tersebut sengaja menyempatkan diri untuk mendekati dan mengajak saya berbincang. “Saya tidak menyangka Anda akan datang pada hari ini. Pada hari dimana keluarga kami menapaki puncak kebahagiaan bagi putra-putri penganten kami. Sebagai seorang perempuan sekaligus istri saya sangat mengenali perasaan yang saya rasakan pada saat ini, “ sang ibu mengucapkan kalimat dengan sedikit terbata.

Sudah pasti saya tidak menduka mendapati perkataan yang sangat tajam seperti itu. “Apa yang ibu maksudkan dengan kedatangan saya?” saya balik bertanya kepada perempuan istri orang terpenting tersebut.

Setelah sempat menghela nafas dalam ia berkata, “Saya mengenali Anda sebagai malaikat maut yang akan segera menjemput suami saya. Saya sangat tahu akan hal itu. Bagaimanapun kami tentu tiada akan pernah dapat menolak sebuah kepastian takdir yang telah digariskan Tuhan. Meskipun tentu akan sangat berat bagi kami untuk melepaskan suami justru pada saat-saat yang sangat membahagiakan ini, tetapi yakinlah kami dapat mengikhlaskannya. Silakan laksanakan tugas Anda dengan penuh rasa amanah.”

Kata-kata itu demikian tajam. Kata-kata itu sungguh menghunjam. Kata-kata yang sangat berbobot dan tidak terelakkan. Saya merasa terpojok dan tidak bisa mengelak. Justru perkataan itu menjadi beban maha berat yang menjelma sebagai batu sandungan bagi tugas yang semestinya saya tunaikan dengan tuntas. Tapi tugas adalah tugas. Suka atau tidak suka, berat atau ringan untuk dijalankan, saya tidak bisa dihentikan. Jika di hari tersebut seorang terpenting di negeri ini harus meninggalkan dunia fana dan menanggalkan segala jabatan serta tugas kepemimpinannya, maka saya tidak mungkin mundur untuk menundanya. Bagaimanapun maut adalah sebuah kepastian. Siapapun tidak akan pernah bisa untuk menunda dan menolak kehadirannya. Siap ataupun tidak siap, maut tidak akan pernah bisa diajak untuk berkompromi. Semau sudah tergariskan sebagaimana titah-Nya.

Gubrak gedubrak! Saya segera tergagap dan bangun dari mimpi saya. Rupanya dalam mimpi saya tersebut, diperjalankan untuk memerankan diri sebagai tokoh malaikat pencabut nyawa. Saya menjadi bagian dari kabinetnya Izrail, bukan sekedar dokter pencabut gigi. Dan pada hari itu, tepat di hari perhelatan pesta pernikahan orang terpenting yang sedang ngundhuh mantu itu, saya ditugaskan untuk menjemputnya kembali ke haribaan Ilahi Rabbi.

Demikian terbangun dari alam mimpi, saya hanya ngungun dan termenung. Untung hanya mimpi. Untung tidak sebenar-benarnya menjadi malaikat pencabut nyawa. Bagaimanapun saya sangat menyadari untuk menjadi sekedar manusia biasa saja saya belum selesai untuk terus belajar dan berproses, terlebih menjalani diri sebagai makhluk Tuhan yang senantiasa taat dan tidak pernah mengelak dari tugas dan kewajiban yang digariskan kepadanya. Para malaikat yang suci. Terlebih menjadi malaikat maut.

Akh, barangkali memang setan sedang meniupkan godaan dan rayuan sesatnya kepada saya di malam menjelang pagi hari itu. Untungnya, sekali lagi, ini hanya mimpi. Ya, hanya sekedar mimpi! Adapun makna ataupun tafsir hikmah yang tersirat dari kisah mimpi tersebut, hingga saat ini saya juga tidak bisa memahaminya. Hanya kepasrahan dan permohonan perlindungan total kepada pangkuan Tuhan yang kini dapat saya lakukan. Mimpi moga memang hanya sekedar sebagai sebuah mimpi. Mimpi yang sekedar bunga tidur itu. Semoga.

Ngisor Blimbing, 7 Oktober 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Mimpi Malaikat Maut

  1. Mydaypack berkata:

    done followed blog mas, jangan lupa folbek hihii salam kenal

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s