Rangga ala Dapure Gus Mul


Coba Sampeyan cermati baik-baik gambar di bawah ini. Dari mana ceritanya dapur alias wajah bocah ndeso seperti itu bernama Rangga! Saya yakin simboknya tidak pernah menerima wangsit untuk menamakannya sebagai Rangga. Demikian halnya Pak Trimo, sang bapak, boro-boro kepikiran ngimpipun pasti tidak pernah untuk mereka anaknya sebagai Rangga. Maka nama yang dipilih ya Agus itu tadi. Bukan karena apa-apa, pastinya karena lahir di bulan Agustus. Sederhana to! Lha kok ini tiba-tiba saja ngaku sebagai Rangga? Ketemu pirang perkoro coba?

Sore menjelang senja kemarin memang redup bin mendung selepas hujan. Sekian minggu atau bulan tanpa tetesan curah hujan telah menjadikan insan manusia sedemikian kangen menunggu hujan. Dan hujan di beberapa hari terkahir di bulan September akhir ini benar-benar menghadirkan kelegaan tersendiri hampir bagi setiap orang yang menantinya. September seolah menjadi ceria se-ceria-cerianya dunia. September ceria!

Nah, sembari sedikit merasakan hawa dingin kabut yang turun sehabis hujan di senja kemarin, sambil leyeh-leyeh merilekskan badan, ndlosorlah saya menggelar tikar di depan layar tivi. Dalam suasana yang redup nan syahdu, saya pilih channel TVRI Jogja Istimewa. Jujur, saya termasuk penonton yang menyimpan kenangan banyak dengan channel tv-nya orang Mataraman ini. Lha kok ndilalah, tepat pukul lima petang muncul dapure kawan gojek sebagaimana tertampil dalam gambar di atas. Spontan saja, saya langsung ngakak seketia itu juga. Ini sebuah lelucon yang sangat luar biasa untuk ditertawakan. Nek Rangga-nya seperti itu, njuk gek seperti apa wajah Cinta-nya coba. Bayangkan Pren!

Adalah Rangga, si keponakan dari Lik Slenco. Sebagaimana sang paman yang selalu berpikir slenco alias kacau, Ranggapun sebagai seorang keonakan tidak mau ketinggalan untuk mem-fotokopi sifat pamannya tersebut.

Dalam sebuah perbincangan kecil, terpercik pikiran dari Lik Slenco untuk mengusir Jayus secara halus dari kampungnya. Entah latar belakang permasalahannya seperti apa, saya sendiri sebagai penonton tidak tahu persis. Dan mengenai siapa orang yang bernama Jayus, dalam adegan selanjutnya baru ditampilkan Jayus yang berbincang dengan Mas Damar. Terlihat Jayus sebagai sosok yang berbicara “pelo”, mungkin ia pernah mengalami serangn stroke beberapa kali sehingga beberapa syaraf (termasuk syaraf otak dan bicaranya) sedikit owah.

Melihat pamannya memiliki pemikiran untuk mengusir Jayus. Rangga malah ikut-ikutan memanasi pikiran pamannya yang sedang kemrupuk itu. Ketika Lik Slenco meminta Rangga turut memikirkan taktik bagaimana menghalau Jayus dari kampung mereka, si Rangga malah mringis sambil tepuk jidat. “Bagaimana disuruh mikir Lik, lha sing nggo mikir saja tidak ada, “seloroh Rangga.

Tak pikir yang dimaksud ÿang untuk mikir tidak ada sambil nepok jidat itu, maksudnya si Rangga merasa tidak memiliki otak di kepalanya sehingga kalau disuruh mikir, mesti mikir pakai apaan? Tetapi ternyata itu hanya kode, agar pamannya ucul duit untuk dikasih ke Rangga. Ranggapun akhirnya mendapatkan selembar uang warna biru dari Lik Slenco. Lik Slenco sengaja tidak memberinya duit warna merah dengan kekhawatiran si Rangga tidak kuat menahan panasnya duit warna merah.

Di sudut kampung lain terjadi kisah yang lain. Semenjak di pagi hari Mas Manto, suaminya Yu Tutik, tidak habisnya menyanyi-menyonyo menyebut nama Monika. Tentu saya rerengenan suaminya itu membuat Yu Tutik ngambek menahan rasa cemburu. Ia mengira suaminya memiliki gebetan baru. Ia sangat takut dimadu, diduakan oleh suaminya. Namun ketika ia mendesak agar suaminya berterus terang, ia hanya mendapatkan jawaban rahasia dari Mas Manto. “Kalau mau tahu, tunggu saja sampai nanti sore”, demikian jawaban Mas Manto masih sambil terus ngongoti blarak untuk dibuat sapu lidi.

Hari-hari akhir di kampung Rangga memang sedang heboh dengan isu Monika. Monika menjadi buah bibir dimana-mana. Monika senantiasa dinanti oleh orang-orang kampung hampir di setiap sore pada hari akhir pekan. Konon Monika selalu datang di Sabtu sore di RTH alias taman yang ada di sudut kampung. Jadilah orang-orang kampung, tua-muda, bocah, anak-anak, remaja-remaji, pemuda-pemudi, bapak-bapak, ibu-ibu hingga simbah-simbah berkumpul ria bersama Monika.

Menuggu hingga di sore hari semakin membuat hati Yu Tutik kemropok tidak karuan. Ia cemburu. Ia mangkel. Ia marah. Ia ingin bertemu dengan Monika yang didendangkan Mas Manto seharian penuh itu. Ia ingin melabrak. Ia akan ngruwe-uwes wajah dan rambut si Monika kurang ajar itu.

Tepat sore hari yang telah dijadwalkan beberapa orang kampung berkumpul di RTH. Tentu saja Mas Manto paling nomor satu datang di tempat tersebut. Tidak lama kemudian datanglah sebuah mobil yang membawa buku dan majalah bacaan yang tertata rapi pada rak-rak mobil. Beberapa petugas segara menata beberapa meja dan kursi. Di meja yang menempel pada bak mobil itu kemudian dipersiapkan beberapa laptop. Konon laptop itu dipersiapkan untuk pengunjung yang ingin mengakses internet.

Pak Jayus dengan dibarengi Mas Damar juga datang ke RTH sore itu. Sebelumnya Pak Jayus sudah wanti-wanti ke Mas Damar untuk dicarikan pinjaman buku. Mas Damar memberitahukan tentang Monika. Pak Jayus malah ngekek pada awalnya. Dengan suaranya yang pelo tidak begitu jelas Pak Jyus berucap, “Lha Sampeyan itu aneh Mas Damar. Saya itu mintanya dipinjamkan buku, lha kok malah dikenalkan dengan Monika. Saya kan sudah tua Mas Damar.”

“Pak Jayus, ini yang namanya Monika,” terang Mas Damar pada saat mereka menyambangi RTH sewaktu mobil yang membawa buku dan laptoo internet datang di kampung mereka.

“Monika itu Mobil Internet dan Perpustakaan Kewilayahan,” Mas Damar memberitahukan Pak Jayus tentang Monika. Monika digagas oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta. Seiring dengan era kemajuan teknologi informasi, masyarakat membutuhkan informasi untuk memperluas wawasan dan pengetahuannya. Dalam era informasi, masyarakat yang maju adlaah masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang tinggi. Ya membaca buku, malajah, surat kabar, ataupun berbagai informasi yang tersedia di internet.

Monika-monika yang digemparkan orang-orang kampung tersebut ternyata adalah mobil internet dan perpustakaan kewilayahan. Dan Rangga malah memelintir-lintir berita hoaxx tentang Monika. Untungya ketika Yu Tutik mau melabrak Mas Manto yang sedang nonton tivi di pantat mobil Monika, ia segera diberitahu dan dikenalkan dengan Monika-nya sendiri. Jadilah ia malah pojok mesra dengan Mas Manto sambil menikmati Monika bersama.

Demikian ulah Rangga dalam episode Mbangun Kampung edisi MONIKA.

Tepi Merapi, 26 September 2017

Foto mobil Monika dipinjam dari sini.

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s