Pengalaman Menonton Film G30S/PKI


Dalam beberapa pekan terakhir, salah satu tema diskusi publik yang semarak berkenaan dengan peristiwa G30S/PKI. Kita tentu sangat mafhum karena memang hari-hari ini menjelang peringatan sebuah peristiwa sejarah nan tragis diantara sesama anak bangsa. Peristiwa yang dipuncaki dengan gugurnya beberapa perwira tinggi TNI AD. Salah satu isu sentral diskusi yang saya maksudnya terkait dengan “semangat” untuk kembali menonton, bahkan menonton bareng, film garapan sutradara Arifin C. Noor mengenai peristiwa naas G30S/PKI.

Saya tidak ingin turut hanyut dalam pro-kontra mengenai pemutaran ulang film G30S/PKI. Pada kesempatan ini justru saya ingin mengungkapkan kembali kesan yang terekam di ingatan saya mengenai film tersebut. Tentu kita sangat paham bahwa di masa pemerintahan Orde Baru yang lahir dari titik kemelut yang timbul pasca peristiwa G30S/PKI, film tersebut menjadi semacam alat propaganda untuk semakin meneguhkan pemerintahan saat itu. Tidak mengherankan jika film tersebut menjadi menu wajib yang diputar melalui layar tivi nasional (pemerintah), pada setiap tanggal 30 September.

Sebelum diputar secara rutin di layar tivi keluarg kita, tentu saja film layar lebar tersebut telah terlebih dahulu diputar melalui bioskop-bioskop di seluruh penjuru tanah air. Saya masih sangat ingat, pada sekitar tahun 1985 kedua orang tua saya mengajak saya menonton film tersebut di Kartika Teather. Sebuah bioskop kenamaan di kota kecil yang berdekatan dengan kampung halaman kami.

Jujur saya katakan, bahwa sebelum menonton film tersebut saya sama sekali belum pernah menonton film layar lebar langsung pada sebuah bioskop. Kalaupun nonton film layar lebar yang tidak melalui layar kaca televise, ya nonton film yang diputar melalui layar tancep. Waktu itu kami lebih akrab dengan istilah nonton di bioskop misbar alias “gerimis bubar”. Tentu saja, layar tancep yang ditonton secara masala itu memang biasa digelar di lapangan kecamatan dengan beratapkan langit pekat dan berpayungkan bintang-gemintang. Sudahlah dapat dipastikan jika di tengah pertunjukan film, gerimis datang maka pertunjukan tidak dapat dilanjutkan alias dibubarkan. Dan jika demikian yang terjadi sudah pasti para penontonpun harus bijak dan membubarkan diri.

Jadi pengalaman menonton Film G30S/PKI adalah pengalaman saya bersinggungan langsung dengan gedung hiburan yang bernama bioskop! Akh sebuah pencapaian rekor yang barangkali tidak ada anak sekarang yang mau melakoninya. Meskipun tidak keren, tetapi itulah fakta sejarah hidup saya!

Lalu apa yang diingat dengan Film G30S/PKI yang ditonton? Jujur, saya malah sama sekali tidak mudeng dengan film yang kami tonton waktu itu. Bagaimana bisa mudeng, pengalaman pertama nonton di bioskop membuat pikiran saya lebih terfokus kepada kekaguman saya dengan berbagai kondisi dan suasana yang ada. Bagaimana antri membeli tiket, bagaimana berjajar memasuki ruang tonton, bagaimana menyesuaikan diri dengan gelap hitamnya ruangan yang sebelumnya belum pernah saya masuki, bagaimana rasa kagum melihat sorot sinar yang memancar dari sisi belakang tempat duduk, bagaimana membayangkan sinar itu kemudian tertangkap oleh layar putih dan memantulkan gambar warna-warni, bergerak, dan bisa berbincang-bincang. Itulah sisi keluguan saya atas teknologi yang bernama bioskop kala itu. Bayangkan, saya sekiranya tidak salah masih usia anak kelas satu sekolah dasar pada waktu itu.

Pengalaman diajak menonton film G30S/PKI di bioskop adalah satu-satunya pengalaman diajak ataupun menonton bareng orang tua, Bapak dan Ibu. Setelah peristiwa itu, hingga hari ini kami belum pernah diperjalankan bersama lagi untuk menonton film di bioskop.

Masa Film G30S/PKI diputar di bioskop-bioskop adalah era perdana pasca film tersebut diproduksi. Setelah masa-masa itu berlalu, film tersebut kemudian diputar secara rutin pada setiap tanggal 30 September melalui televise nasional kita yang pada saat itu juga baru menjadi satu-satunya stasiun tivi yang ada.

Berkenaan dengan nonton Film G30S/PKI di layar tivi, juga ada penggal pengalaman yang tidak pernah bisa terlupakan hingga saat kini. Sebagaimana pada umumnya di masa itu, bagi kami masyarakat pedesaaan, tivi adalah sebuah simbol kemewahan dan modernitas jaman. Masih sangat jarang warga desa yang bisa memiliki televisi. Televisi seolah menjelma menjadi simbol kekayaan dan status sosial. Orang yang memiliki televise tentu saja hanyalah orang kaya dan terpandang di suatu wilayah desa. Kondisi ini mengharuskan kami menikmati tontonan televise dengan menumpang di rumah warga yang memiliki barang “ajaib” tersebut.

Malam 30 September, Film G30S/PKI diputar sebagai menu acara paling akhir. Biasanya selepas siaran Dunia Dalam Berita, film tersebut mulai diputar. Bagi warga yang memang ingin melihatnya, tentu saja seawall mungkin sudah berkumpul di keluarga yang memiliki tivi. Biasanya yang masih mau menonton film tersebut sebagian dari kalangan remaja, pemuda dan para orang tua. Anak-anak kecil biasanya sudah lelap tidur. Di samping itu, Film G30S/PKI dipandang sebagai film yang hanya “layak” ditonton oleh kalangan remaja ke atas. Kita tahu bahwa dalam film tersebut dipertunjukkan beberapa adekan kekerasan dan penyiksaan fisik, bahkan ada ceceran darah yang tertumpah di lantai. Seingat saya di era itu memang sangat jarang ada film yang menampilkan darah. Betapa sangat ketatnya sensor film pada waktu itu.

Dari uraian terakhir, di benak kami pada saat itu tertanam bahwa Film G30S/PKI adalah film yang mengerikan, sebuah film yang termasuk kategori film horor. Jikapun kami yang masih seusia anak-anak sekolah dasar menonton film tersebut berjamaah, namun pada adegan-adegan penembakan, penculikan, penyiksaan, kami selalu menyembunyikan mata, bahkan muka kami di balik kain sarung kami masing-masing. Gawatnya lagi, setelah film tersebut usai kami menjadi takut untuk pulang ke rumah masing-masing. Yang sering kami lakukan kemudian adalah tidur menginap di rumah pemilik televise dan baru pulang pada saat Subuh atau bahkan hingga menunggu matahari terbit.

Namun pernah ada satu peristiwa aneh yang yang saya alami pada suatu saat selepas menonton film tersebut. Saya tidak sepenuhnya menonton keseluruhan cerita. Saya tertidur lelap di tengah kisah film. Begitu film usai dan penonton bubar, tanpa terlebih dahulu bangun dari tidur, saya ikutan pulang dan melanjutkan tidur di rumah. Ketika saya bangun tidur di pagi hari, saya baru teringat bahwa semalam saya ikut menonton Film G30S/PKI yang tertidur. Sungguh heran tidak ada yang membangunkan, tidak ada yang menggendong saya, saya konon nglindur dan berjalan seperti biasa sambil tertidur. Yang lebih saya herankan, saya kok tetap bisa menemukan sandal di teras pemiliki tivi. Kok saya pulang tidak kesasar ke rumah tetangga yang lain ataupun tersesat ke kuburan ya? Ah, entahlah. Saya hanya senantiasa tersenyum sendiri jika mengenang peristiwa tersebut.

Ngisor Blimbing, 24 September 2017

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pengalaman Menonton Film G30S/PKI

  1. Mata yang teduh berkata:

    mungkin pas pulang dituntun arwah pak jendral jadi masih bisa nemu sendalnya. dulu nonton film ini serius bukan kepalang. tetapi sekarang susah mau nontonnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s