Tahun Baru Tumbuh Tunas Generasi Baru


Gebyar Tahun Baru Hijriyah kali ini nampak jauh lebih semarak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun Baru Hijriyah yang juga bersamaan dengan Tahun Baru Jawa, pada umumnya lebih kental dengan acara yang bernuansa adat dan tradisi. Mulai dari tradisi mubeng beteng, kirab kebo Kyai Slamet, jamasan pusaka, tirakatan, hingga ruwatan. Namun semenjak beberapa tahun terakhir, dari sisi ummat Islam mulai muncul agenda-agenda dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah.

Tahun Baru Hijriyah ditetapkan berdasarkan momentum hijrah atau kepindahan Baginda Kanjeng Nabi Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah. Hijrah kemudian secara lebih luas kita maknai sebagai upaya untuk berubah dari suatu keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik, dari kekufuran menuju ke keimanan, dari kemunafikan menuju kejujuran, dari kemusyrikan menuju kepada ketauhidan, dari kesesatan menuju jalan yang lurus, dan segala manifestasi perubahan ke arah yang lebih baik lainnya.

Umur manusia seolah sebuah perjalanan yang lurus nan datar. Dari waktu ke waktu umur seolah kian bertambah dengan  bergantinya hari, minggu, bulan, dan tahun. Dalam perjalanan kehidupan, sesungguhnya manusia berada dalam sebuah kerangka siklus waktu. Dari suatu awal tahun, menuju akhir tahun, untuk kemudian berganti dengan tahun baru berikutnya. Siklus tersebut seolah sengaja diputarkan oleh Tuhan untuk menjadi wahana manusia agar senantiasa mau berkaca diri, serta berrefleksi atas segala perbuatannya yang sudah-sudah.

Pergantian tahun senantiasa menerbitkan sebuah harapan baru. Kehidupan yang lebih baik, ketaatan yang lebih kuat, ketaqwaan yang lebih meningkat, dan lain sebagainya. Bagi selapis generasi tua yang sudah cukup banyak bergeliman dengan dosa, momentum Tahun Baru ada baiknya dijadikan titik untuk menimbang-nimbang kembali antara berat timbangan amalan kebaikan dengan lumuran dosa yang pernah diperbuat. Tahun baru adalah titik untuk melakukan perbaikan diri.

Dunia sudah demikian ternoda oleh dosa-dosa manusia. Semakin diberikan kesempatan dan umur panjang, manusia justru semakin menambah dosa dan kesalahan. Dari sudut pandang generasi tua, dunia seolah-olah semakin habis dan menuju kepada titik penghabisannya. Ibarat perjalanan sebuah hari, maka usia tua adalah usia senja. Usia dimana tidak lama kemudian kehidupan harus segera berakhir. Siang sudah bergeser menuju senja, dan kemudian tibalah malam hari. Betapa sangat tidak mudah untuk memberikan nasehat, terlebih lagi mengubah tabiat generasi tua untuk melakukan perbaikan diri. Dengan demikian, generasi tua dalam carut-marutnya dunia yang semakin bubrah justru  menjadi pralambang keterputus-asaan. Seolah tidak ada harapan lagi akan adanya suatu era pencerahan jiwa, batin, atau ruhaniah.

Lain generasi tua, tentu lain pula dengan generasi anak-anak kita. Anak-anak dalam sorot mata kepolosannya adalah perlambang kebeningan jiwa. Mereka masih sangat suci dari berbagai noda dan dosa. Mereka seolah memantulkan cahaya Ilahi yang senantiasa memancarkan kepercayaan diri serta rasa optimisme untuk menjalani hari-hari dalam kehidupan dunia. Mereka adalah tunas-tunas muda yang siap tumbuh dan berkembang untuk menantang badai kehidupan. Lihatlah kejernihan sorot mata anak-anak kita yang bening. Rasakan detak nadinya yang menghentak. Selamilah harapan dan cita-citanya. Tidak mengheranan jika tonggak perubahan sebuah peradaban senantiasa ditanggungkan di pundak anak-anak muda.

Semoga momentum Tahun Baru sebagaimana yang sekarang tengah kita selami ini merupakan saat-saat persemaian anak-anak kita untuk melanjutkan tongkat estafet kehidupan masa depan yang lebih gemilang. Tahun Baru semoga menerbitkan tunas-tunas muda generasi penerus kebajikan dan peradaban yang lebih nyata lagi.

Ngisor Blimbing, 21 September 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s