Relativitas Susah dan Bahagia


Urip kuwi ayang-ayang lan wewayangan. Hidup adalah dunia bayang-bayang. Demikian beberapa ungkapan para winasis dari masa silam. Keinginan, rencana, cita-cita,  atau idealisme dalam hidup kita terkadang hanyalah sebuah bayang-bayang fatamorgana. Suatu keinginan yang seakan-akan benar-benar kita inginkan, benar-benar kita kejar-kejar untuk mewujudkannya, justru tidak pernah dapat kita kejar dan kita dapatkan. Ia seolah-olah bayangan hampa yang semakin kita kejar semakin menjauh dari kita. Begitu seolah sudah sangat dekat, bahkan sudah dapat kita pegang, namun bayangan itupun segera menjadi buyar.

Ga

Hidup dalam bayang-bayang adalah hidup dalam serba ketidakpastian. Ketidakpastian sebenarnya timbul karena adanya relativitas. Yang dikatakan sukses, belum tentu sukses dari suatu sudut pandang, jarak pandang, maupun cara pandang yang berbeda. Yang pandai belum tentu sebenar-benarnya pandai. Yang terhormat juga belu tentu benar-benar terhormat di hadapan manusia yang lain, terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Demikian halnya yang kaya, belum tentu menjadi manusia yang benar-benar bahagia seutuhnya jiwa dan raganya. Semua masih serba relatif, atau seolah-olah tampak mata.

Ada sebuah ungkapan lain yang menyindir perihal relativitas kehidupan manusia. Ono wong mikul dhawet ura-ura, ono wong numpak merci ngelus dhadha. Ada penjual minuman cendol meskipun berat menanggung beban di pikulannya tetapi menjalaninya sambaing berdendang riang. Namun sebaliknya, ada orang yang mengendarai kendaraan super mewah, tetapi hatinya penuh dengan kenelangsaan, ketidakbahagiaan, serta kepahitan hidup.

Orang kecil, sebagaimana tergambarkan pada sosok penjual cendol tadi, mungkin menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Ia tidak pernah neko-neko dengan keinginannya. Sekedar bisa makan dan memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya ia sudah sangat bersyukur. Ia tidak dipusingkan dengan ingin meraih jabatan apa, pangat apa, ingin memiliki rumah mewah dimana, ingin memiliki tanah luas, perusahaan besar, karir gemilang dan lain sebagainya. Ia jalani hidup dengan sebuah kesederhanaan.

Bagi si tukang cendol, hidup adalah sebuah pelayanan kepada sesamanya. Ia menjual es cendol bukan semata-mata ingin mencari keuntungan dan laba. Ia letakkan aktivitasnya menjual es cendol dalam kerangka menyediakan minuman bagi manusia lain yang tengah dilanda rasa dahaga. Ia mungkin sangat ingat dengan salah satu piwulang dari Kanjeng Sunang Ampel, “berilah minum kepada orang yang kehausan”. Menjual es cendol ditekuninya sebagai sebuah laku tirakat dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan dan semata-mata ingin mendapatkan keberkahan hidup. Biarpun laba dari berjualan es cendol tidak seberapa, tetapi kalau yang tidak seberapa itu dilihat sebagai karunia rejeki dan bentuk keberkahan, ia yakin Tuhan akan senantiasa hadir dalam setiap gerak dan langkah hidupnya.

Dalam kesederhaan hidup, si tukang cendol dikarunia istri yang sholihah dan anak-anak yang berbakti kepadanya. Dalam kesederhanaan ia memiliki cukup waktu untuk senantiasa menjalani kewajibannya selaku hamba dari Tuhannya. Ia luangkan sebagian waktunya juga untuk bergaul dengan tetangga, dengan kaum kerabat dan sanak saudaranya. Ia sangat menjaga tali silaturahmi kepada sesamanya. Lalu nikmat Tuhan yang manakah lagi yang masih harus dipertanyakan oleh tukang cendol tersebut? Maka hatinya menjadi luas nan lapang, sehingga hidupnya diliputi ketentraman dan kebahagiaan.

Sebaliknya bagi si pengendara merci, mungkin saja ia menjalani hidup dengan berbagai ambisi dan keinginan. Ia ingin sukses dalam berkarir, ingin mencapai pangkat yang tinggi dalam pekerjaannya, ingin memangku jabatan dan kekuasaan, ingin kaya, ingin super, dan berbagai keinginan yang timbul dari hawa nafsunya terhadap dunia. Ia bekerja mati-matian siang dan malam. Ia kejar terus keinginannya yang semakin hari semakin menambahkan rasa ketidakpuasannya. Ia sangat dimungkinkan kemudian menjadi alpa dan kurang dapat menysukuri dengan apa yang telah didapatkannya.

Saking sibuknya si pengendara merci mengejar mimpi-mimpi dan ambisi hidupnya, ia tidak bisa senantiasa hadir di tengah-tengah keluarganya. Dari pagi hingga petang, bahkan larut malam, ia sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak bisa lagi bebas berbincang dengan istrinya, dengan anak-anaknya, apalagi berinteraksi dengan tetangga di kanan-kiri tempat tinggalnya. Dalam kondisi yang demikian, ada hal-hal bahkan mungkin banyak hal yang kemudian berkembang menjadi masalah dan persoalan yang cukup serius.

Karena kurangnya waktu dan pastinya perhatian dari orang tua, tentu ada sisi-sisi yang kurang terisi bagi perkembangan jiwa dan ruhani anak-anaknya. Dalam iklim keluarga yang serba terbatas interaksinya, bisa jadi anak-anak kemudian berkembang menjadi sosok-sosok individualis. Hari-hari dilalui dengan foya-foya dan berpesta pora. Segala fasilitas dan uang yang berlimpah dari orang tuanya dihambur-hamburkan untuk memenuhi kesenangannya sendiri. Tidak jarang bahkan anak-anak tersebut terjebak dalam penyalahgunaan narkoba. Hidupnya menjadi berantakan. Kehidupan anak-anak yang berantakan akhirnya menimbulkan ketidakbahagiaan. Ya ketidakbahagiaan bagi dirinya sendiri, bagi ayahnya, bagi ibunya, bagi keluarganya dan bahkan masyarakat secara umum.

Tentu lukisan kisah di atas tidak sepenuhnya benar dan hanya merupakan salah satu dari kemungkinan-kemungkinan kisah kehidupan. Namun pada intinya bahwa kita seringkali melihat sesuatu hanya sampai titik hal yang kasat mata semata. Kita menjadi tidak terbiasa untuk melihat sesuatu secara lebih mendalam dan menggali hikmah di baliknya. Kita seringkali menyimpulkan bahwa orang yang bergelimang dengan kemewahan pasti orang yang bahagia dan orang yang bekerja keras secara fisik dalam pekerjaannya adalah orang yang tidak bahagia. Kita terjebak dalam frame materialism dalam menjalani hidup.

Jika hidup adalah dunia bayang-bayang, lalu sikap seperti apakah yang semestinya kita lakukan dalam menjalani hidup kita? Bayang-bayang timbul karena adanya sumber cahaya, ada benda yang atau cermin yang merefleksikan cahaya, dan ada mata kita yang mengamati dari berbagai sudut pandang. Sumber dari segala sumber cahaya adalah Tuhan Yang Maha Cahaya. Maka agar hidup kita menjadi terang benderang kita harus memiliki sumber cahaya, sumber inspirasi, dan pegangan hidup yang sejatinya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Refleksi dari cahaya Tuhan telah maujud dalam sosok Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Jadikanlah ia suri teladan bagi setiap pikiran, perkataan, dan tindakan hidup kita. Dan terakhir, senantiasalah cari sudut pandang, jarak pandang, dan cara pandang yang positif terhadap setiap hal yang kita jumpai atau jalani dalam meniti kehidupan kita. Semoga.

Ngisor Blimbing, 19 September 2017

Gambar penjual cendol dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s