Pasar Malam Alam Sutera Lake Festival


Malam Minggu memang telah berlalu. Baru pada kesempatan kali ini terluang sedikit waktu untuk bertutur tentang Malam Minggu. Bagi keluarga kecil kami, Malam Minggu seperti Malam MInggu kemarin adalah malam keluarga. Dengan sebuah aktivitas kecil nan sederhana, kami menikmati sebuah momentum kebersamaan yang amat berarti, meskipun hanya sebuah petualangan kecil di sebuah pasar malam. Ya, kami menikmati kesederhanaan sebuah pasar malam.

Pasar malam sudah menapaki rentang waktu sejarah yang cukup panjang. Semenjak jaman “kemajuan” belum kita tapaki, pasar malam telah hadir terlebih dahulu. Setidaknya dalam tradisi Grebeg Maulud atau Sekatenan semenjak jaman keemasan Kerajaan Demak, pasar malam selalu menjadi rangkaian tidak terpisahkan dari hajatan tahunan itu sendiri. Pasar malam sengaja dihadirkan selain sebagai media hiburan rakyat dan sarana untuk mengumpulkan massa, pasar malam yang terlebih penting adalah sebagai sebuah ruang publik.

Sebagai sebuah ruang publik, sebuah pasar malam senantiasa terbuka untuk semua kalangan. Tidak memandang orang kaya, sederhana, pejabat, anak-anak, remaja, dewasa, hingga para manulapun tidak dilarang menyambangi sebuah pasar malam. Pasar malam hadir menjadi sebuah muara kehangatan tata pergaulan sosial yang demikian elegan. Pasar malam adalah sebuah kemeriahan. Pasar malam adalah sebuah kemewahan bagi kalangan papa yang jarang dapat menyambangi sebuah pesta kemeriahan. Pasar malam hadir bagi siapapun.

Diantara pengunjung yang paling menikmati sebuah gelaran pasar malam, tentu saja adalah anak-anak. Anak-anak dengan segala kepolosan dan rasa keingintahuannya yang tinggi tentu memendam sejuta rasa perihal sebuah pasar malam. Hadirnya berbagai wahana permaian yang mengudang decak kagum di benak seorang bocah adalah keistimewaan tersendiri pada sebuah pasar malam. Bianglala, komidi putar, perhau kora-kora, trampolin, sepeda air, tong stand, rumah hantu, sepeda air, dan lainnya adalah daya tarik bagi anak-anak kita. Belum lagi aneka jajanan khas, semisal arum manis, aneka balon, es cream, dan masih banyak  lagi yang lainnya.

Adalah Alam Sutera Lake Festival di sebelah kampung tempat tinggal kami kini tengah digelar. Tidak tanggung-tanggug, katanya akan berlangsung selama sebulan penuh. Meskipun berdampingan langsung dengan mall megah dan permukiman kaum elit, masyarakat kampung seperti kami tentu jarang memiliki kesempatan untuk menyambangi pusat-pusat kemewahan bagi kaum jetset tersebut. Walhasil secara psiko sosial terbentang jurang pergaulan yang cukup lebar diantara kami dengan tetangga kampung kami tersebut. Mungkin, atau bisa jadi kehadiran pasar malam kali ini sebagai salah satu rangkaian Alam Sutera Lake Festival sedikit banyak dapat menjembatani ataupun mengurangi jurang yang terbentang tadi.

 

Lah, mungkin saya terlampau abstrak bercerita tentang sebuah pasar malam. Pada intinya pasar malam dengan segala kesederhanaannya telah mampu menghadirkan sejuta warna rasa bahagia bagi para pengunjungnya. Bahagia tidak harus mewah. Bahagia bisa hadir dalam balutan kesederhanaan. Bahagia itu sederhana. Sesederhana ketika kita mengunjungi sebuah pasar malam. Monggo.

Ngisor Blimbing, 18 September 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s