Seni Cakalele Persembahan Anak-anak Dusun Ngandong


Satu lagi nama kesenian yang mungkin masih asing bagi pembaca semua, cakalele. Bukan cakarlele lho ya! Cakalele! Kan lele juga tidak punya cakar! (punyanya kan patil). Mungkin dalam khasanah tarian tradisional Nusantara, kita kenal Tari Cakalele sebagai tarian perang dari wilayah Maluku. Namun yang saya ingin bicarakan kali ini bukan Tari Cakalele yang dari Maluku, tetapi tarian Cakalele dari Dusun Ngandong yang dibawakan secara apik oleh para bocah pada Festival Tlatah Bocah XI beberapa hari lalu.

Tari Cakalele sebagaimana ditampilkan acara festival di atas sebenarnya adalah kreasi baru dan endemik tarian di wilayah Magelang, khususnya di lereng Merapi dan Merbabu. Dengan tetabuhan gendang yang dikombinasikan dengan bende dan bonang, para bocah yang terbagi dalam dua kelompok besar yang masing-masing dipimpim oleh lelaki besar dengan perawakan gagah perkasa berwibawa lengkap dengan brewok nan lebat. Lelaki tersebut bersenjatakan nenggala pendek sebagaimana Prabu Baladewa dalam kisah pewayangan. Merekalah sang manggala pasukan.

Sebagaimana Tari Cakalele dari Maluku, semangat tarian Cakalele yang dibawakan oleh para bocah dari Ngandong inipun juga semangat perang. Namun demikian prajurit yang mengiringkan dua pendekar gagah berbrewok tadi adalah campuran pasukan lelaki dan perempuan. Mereka adalah para prajurit bersenjatakan tangan kosong. Meskipun tanpa senjata, justru para prajurit itu menampilkan keprigelan alias ketangkasan olah kanuragan tanpa senjata. Mereka adalah jawara sejati yang sudah tidak memerlukan senjata fisik lagi. Di dalam jiwa dan raga mereka telah tertanam kasekten atau kesaktian yang justru tidak pernah bias diperkirakan.

Adalah Dusun Ngandong yang sekaligus bertindak sebagai tuan rumah dalam pagelaran Festival Tlatah Bocah XI kali ini mendapatkan kesempatan pertama kali untuk menyuguhkan kesenian khasnya. Setelah alunan gamelan ditabuh, naiklah ke atas pentas dua manggala pemimpin pasukan. Setelah melakukan beberapa formasi gerakan dan mengitari medan perang, barulah pasukan pengikutnya satu per satu turut memasuki arena pertunjukan.

Di samping pasukan dengan manggalanya masing-masing, setelah beberapa formasi gerakan berlalu, naik pula ke atas panggung dua orang prajurit berkuda. Mereka adalah prajurit yang bukan sembarang prajurit. Mereka adalah ksatria wanita. Mereka segera mengambil alih pasukan.

Tak berselang berapa lama, bergabunglah seorang ksatria bertopeng yang tampil lengkap dengan mahkotanya. Ia mirip dengan sosok Klanasewandana dalam tradisi tarian reog. Dengan rona muka topeng berwarna merah yang dipadu dengan selendang sampur yang juga berwarna merah, ia seolah hadir untuk mengobarkan api kemarahan. Dan memang dalam kesempatan gerak dan formasi tari selanjutnya ia menjadi titik pusat bergerakan dua pasukan. Ia seolah mengendalikan dua pasukan untuk terus beradu, berperang bagaikan domba atau jago yang sedang disabung. Ia Nampak sangat menikmati perannya sebagai pengadu domba. Inilah gambaran kehidupa dunia yang senantiasa penuh dengan tipu daya dan taktik muslihat.

Dikarenakan grup Cakalele yang tampil kali adalah anak-anak, maka segeralah berjajar anak-anak lereng Merapi dari Ngandong tersebut membentuk formasi barisan dua pasukan yang terkadang berjalan beriringan, membentuk lingkaran, namun juga tak jarang saling berhadapan dalam sikap perang masing-masing. Mereka sungguh tampil secara totalitas. Ada anak yang sudah remaja, usia SD, bahkan Nampak pula anak-anak yang masih balita. Tentu saja dalam hal kekompakan, untuk bias menata dan mengkombinasikan anak-anak dalam rentang usia yang terlampau lebar tidaklah mudah. Itulah sebabnya dalam beberapa kesempatan nampak formasi barisan tidak dapat tampil seutuhnya. Selalu ada saja ada anak yang ketinggalan gerakan, atau bahkan salah gerak. Tapi itulah seni para bocah, dan justru hal itu mengundang keasyikan tersendiri bagi para penonton.

Sebagaimana tagline Tlatah Bocah dimana Bocah Dudu Dolanan lan Bocah Kudu Dolanan, maka mereka sejatinya tidak saja hanya sedang mementaskan tarian tetapi lebih daripada segalanya mereka sedang bermain. Dan keindahan apakah yang melebihi keceriaan anak-anak yang tengah menikmati permainanya? Dunia dan segalanya seakan tidak ada nilai dibandingkan rasa bahagia mereka yang sedang bermain. Dan bukanlah hidup di dunia inipun hanya sekedar menjalani sebuah permainan? Monggo merenung kembali.

Bulaksumur, 12 September 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s