Seni “Campur” Bocah Dusun Sumber


Saya sengaja memberi penekanan “campur” dalam tanda kutip untuk memulai tulisan mengenai seni campur. Tentu saja maksudnya agar tidak terjadi campur-aduk pengertian antara kata campur dengan sebuah kesenian tradisional yang bernama Campur.

Matahari sudah semakin condong ke ufuk barat, tatkala giliran anak-anak dari SD Kanisius Sumber menampilkan diri di atas panggung Festival Tlatah Bocah XI, pada Sabtu, 9 September 2017 lalu. Dua baris prajurit wanita bersenjata tombak yang dipimpin oleh masing-masing panglimanya segera memasuki arena pentas. Barisan prajurit bertombak tersebut melambangkan para pejuang yang siap berlaga di medan perang.

Selepas memperagakan beberapa formasi gerak dalam baris yang sungguh elok, giliran para buto dan cakil memasuki arena. Mereka adalah simbol dari para hewan atau binatang yang menjadi satu-kesatuan tak terpisahkan dalam lingkungan hidup manusia. Meskipun dibawakan oleh anak-anak SD yang masih polos nan lugu, namun gerak, formasi, dan ekspresi para bocah dari lereng Merapi ini sungguh menghadirkan sebuah penampilan yang sangat khas. Meski sedikit malu, belum sepenuhnya percaya diri untuk senyum dan berekspresi muka, namun anak-anak itu telah berhasil menundukkan rasa tidak percaya dirinya sendiri. Hal inilah yang paling utama, kenapa anak-anak diajari untuk berseni dan mementaskannya.

Jika manusia memiliki akal dan pikiran sebagai landasan bertindak, maka binatang-binatang buto-cakil sebagaimana tampil pada seni Campur hanya melandaskan diri pada hawa nafsu pada setiap tindakannya. Demikian halya dengan suatu peperangan. Peperangan timbul karena adanya pihak-pihak yang bertindak berdasarkan pelampiasan nafsu, Segala norma, aturan, dan hukum sengaja dilanggar untuk memuluskan setiap keinginannya. Yang terjadi kemudian adalah adanya kesewenang-wenangan. Yang kuat menindas yang lemah. Yang besar memangsa yang kecil. Dunia seketika berubah menjadi rimba raya dengan hukum rimba yang mengerikan. Siapa yang kuat, dialah yang akan menang. Dan sebaliknya, siapa yang lemah, bodoh, terbelakang, akan menjadi jarahan pihak yang kuat. Inilah barangkali sebagai sebuah simbolisasi pertempuran diantara dua pasukan bertombak dalam pentas seni Campur.

Lalu kenapa kesenian tari tradisional yang satu ini dinamakan Campur? Saya sendiri tidak tahu pasti bagaimana akar sejarah dan asal-usul kesenian Campur ini. Dari corak pasukan perang dan hewan-hewan yang berada di sekelilingnya, kesenian ini sebenarnya sangat identikan dengan seni jathilan, kuda lumping, kuda kepang, atau dikenal juga sebagai ebleg. Perbedaan paling mencolok adalah jenis pasukan perangnya. Jika pada seni jathilan, pasukan perangnya adalah prajurit berkuda. Pada seni Campur pasukannya adalah pasukan infanteri bersenjata tombak yang mengibarkan bendera. Selebihnyanya pada alunan musik juga terdapat sedikit perbedaan dikarenakan musik pengiring Campur didominasi ketukan dari bedug berukuran kecil.

Seni adalah ekspresi budaya dan peradaban suatu masyarakat. Bagi anak-anak dan para bocah, seni sekaligus bisa menjadi ajang dan wahana permainan. Seni juga dolanan. Maka doronglah anak-anak kita bermain dalam sebuah seni. Melalui seni kita semua yakin bahwa anak-anak dapat meresapi dan menghayati sebuah nilai yang akan memupuk rasa percaya diri, rasa cinta tanah air, rasa memiliki budaya sendiri dan sebagainya yang pada akhirnya akan menguatkan jati diri dan karakternya sebagai tunas anak bangsa. Seni menanamkan keindahan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kita. Anda sependapat dengan saya?

Bulaksumur, 11 September 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s