Tlatah Bocah Tepa Salira


Tepa salira, ungkapan inilah yang diangkat menjadi tema besar Festival Tlatah Bocah ke-XI pada tahun 2017 ini. Tentu bukan tanpa sebab atau alasan kenapa tema yang diangkat mengenai tepa salira. Tulisan ini hanya sekedar sebuah ungkapan sudut dari pandang dari penulis sendiri dan bukan merupakan gagasan besar yang dirumuskan oleh panitia festival. Hanya sekedar ingin turut memaknai keterkaitan antara Tlatah Bocah dan tepa slira itu sendiri.

Di dalam ungkapan singkat tepa salira sebenarnya terkandung mutiara makna, hikmah, dan nasehat yang sangat mulia dari para leluhur kita. Tepa salira merupakan salah satu karya agung nilai kearifan local yang kita miliki. Sebagaimana secara eksplisit kita tuliskan, ungkapan tepa salira berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa.

Tepa, kurang lebih dapat kita pahami sebagai tindakan mengukur, merefleksi, ataupun merasakan. Adapun salira, berarti badan, raga, atau tubuh. Selain itu  salira atau slira, sangat dekat dengan kata sira. Sira dipergunakan sebagai kata ganti orang kedua. Dalam Bahasa Indonesia tentu kata sira semakna dengan kata Anda, kau, kamu, yang lebih merupakan ungkapan untuk menyebut orang lain.

Maka makna yang sering ditanamkan berkenaan dengan kata tepa slira adalah kesediaan seseorang untuk mengukur, merefleksikan, ataupun merasakan apa yang dialami oleh orang lain sebagaimana kalau kita sendiri yang mengalami hal yang sama. Seandainya kita dicubit oleh orang lain dan merasakan sakitnya sebuah cubitan, maka sebaiknya kita jangan mencubit orang lain. Andai kata kita merasa tidak nyaman ketika dibohongi oleh orang lain, ya sebaiknya kita jangan pernah melalukan kebohongan. Kita harus jujur, terus terang, dan menjauhkan diri dari kebohongan.

Demikian hal yang sebaliknya. Apabila kita bersikap sopan kepada orang lain, orang lainpun cenderung akan bersikap sopan pula kepada kita. Jika kepada orang lain kita sering berderma, dalam kesempatan lain orang juga tidak akan pelit-pelit untuk berbagi sesuatu dengan kita. Tepa salira adalah sikap timbal-balik dalam hubungan pergaulan sosial kemasyarakatan yang mendasarkan pertimbangan  sikap adil. Tepa salira senafas dengan ungkapan saling tenggang rasa, saling menghormati, saling mencintai, yang pada garis besar merupakan sikap ngewongke atau memanusiakan manusia itu sendiri.

Intinya daripada sikap tepa salira bahwa segala perbuatan yang berdampak atau berkaitan dengan orang lain harus benar-benar kita pertimbangkan secara masak apakah nantinya akan menyakiti orang lain atau tidak, akan menyenangkan orang lain atau justru membuat orang lain bersusah hati. Dengan senantiasa berpikir jernih dan positif dalam setiap aspek interaksi dengan orang lain, maka pelan namun pasti yang berkembang budaya tepa salira yang kemudian menumbuhkan sikap saling tenggang rasa, saling toleransi, saling menghargai, saling menghormati, saling mencintai, saling asah-asih dan asuh dalam pergaulan.

Dewasa ini masyarakat kita seringkali terpecah belah dan sangat mudah diadu domba. Kalau seseorang atau pihak lain berbeda pendapat atau pandangan dengan kita, kita tidak jarang langsung menghakiminya sebagai musuh kita. Hal semacam ini tentu saja sangat bertentangan dengan cita-cita membina masyarakat yang rukun, bersatu, berkesamaan antara hak dan kewajiban di depan hokum dalam semangat kebersamaan. Apapun agama, keyakinan, suku, ras, partai, pilihan politik, strata sosial kita, semua itu hanyalah atribut sementara dan janganlah hal tersebut memecah belah rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai anak bangsa.

Arus globalisasi yang sangat deras melalui ruang-ruang diskusi di media social kini seolah menggulir liar, menggerus, dan mengkandaskan rasa saling menghargai di antara kita. Perbedanaan dan keragaman yang semestinya menjadi anugerah indah, justru diarahka oleh pihak-pihak tertentu untuk mengail di air yang keruh. Maka tidak berlebihan jika Komunitas Tlatah Bocah yang sangat peduli dengan perkembangan dan pendidikan untuk anak-anak ingin mengingatkan kita bersama untuk kembali menggali nilai-nilai tepa salira, saling bertoleransi, saling menghargai dan menghormati diantara sesame anak bangsa, bahkan kepada sesame manusia sekalipun. Dan tidak bias tidak, rasa tepa salira harus ditanamkan semenjak dini kepada anak-anak kita. Salam tepa salira.

Bulaksumur, 7 September 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s