Kebersamaan Karnaval dan Jalan Santai Desa Polengan


Puncak Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72 Desa Polengan MAGELANG

Bagi kami masyarakat dusun, peringatan Hari Kemerdekaan negara kita pada setiap 17 Agustus adalah hari raya. Bahkan untuk setiap kegiatan keramaian yang ditujukan untuk peringatan tersebut kami biasa menyebutnya sebagai “perayaan”. Berbeda dengan hari raya keagamaan sebagaimana Idul Fitri ataupun Idul Adha, perayaan tersebut adalah bukti kecintaan kami terhadap Republik Indonesia. Tanpa hari menjagorkan NKRI harga mati, kami sebenarnya sudah sangat paham arti mencintai Republik ini sepenuh jiwa dan raga kami.

Di masa kecil kami, perayaan senantiasa berpusat di pusat kecamatan. Tentu saja acara inti dari Perayaan Agustusan adalah upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Pak Camat. Upacara bukan semata-mata urusan anak sekolah, pegawai pemerintah, para pramuka, para polisi, para tentara, para pamong, ataupun guru-guru. Upacara adalah milik kami semua. Maka pada upacara bendera tersebut berbondong-bondonglah warga masyarakat dari segenap kampung dan dusun memenuhi lapangan kecamatan.

Beberapa hari menjelang Agustusan, biasanya warga masyarakat pada setiap dusun sibuk mempercantik lingkungannya masing-masing. Jalan-jalan desa diperbaiki. Pagar-pagar dicat kembali atau bahkan diperbarui. Bendera dan umbul-umbul mulai dikibarkan. Termasuk di setiap mulut desa atau dusun didirikan gapura istimewa. Intinya semua menyambut Agustusan dengan antusias. Istimewanya lagi sebuah hajat bersama tersebut ditanggung secara bersama dalam nafas gotong royong yang sangat kental. Guyup rukun. Gugur gunung. Itulah spirit yang benar-benar kami rasakan.

Kembali ke upacara bendera tadi, selepas upacara bendera selesai dilaksanakan biasanya digelarlah acara pentas seni dan eksposisi. Berbagai kesenian tradisional tampil memeriahkan acara. Ada lutungan, ada janthilan, campur, reog, dan lain sebagainya. Adapun yang kami istilahkan sebagai eksposisi adalah gelaran pameran produk kerajinan prakarya dari sekolah-sekolah, maupun kelompok pengrajin yang disajikan dalam suatu bazar atau pasar murah. Pada saat-saat seperti inilah para warga membeli sapu lidi, bakul, keranjang, irus, centhong, sampai dengan othok-othok, pot bunga, hiasan dinding dan aneka rupa produk kerajinan sebagai alat rumah tangga lainnya.

Meskipun tradisi “perayaan” sebagaimana kami uraikan di atas tidak sepenuhnya tergerus jaman, namun Perayaan Agustusan beberaoa tahun terakhir di daerah kami tidak hanya dipusatkan di lingkungan kecamatan, namu di masing-masing desa juga digelar berbagai acara peringatan Agustusan. Untuk upacaranya sendiri mungkin memang jarang digelar di tingkat desa. Namun sebagaimana di desa kami, bulan Agustus menjadi bulan yang super sibuk dengan agenda sosial kemasyarakatan.

Mulai dari kegiatan menghias dan mempercantik tampilan desa kami masing-masing, ada berbagai kegiatan lomba yang dihelat. Ada lomba olah raga, lomba kuliner, menghias tumpeng, hingga pentas seni dan TPA. Jika dahulu acara pawai atau karnaval menjadi acara khas Agustusan di kota dan kami warga desa senantiasa berbondong-bondong pergi ke kota untuk menjadi penonton, kini hampir setiap desa juga menyelenggarakan karnaval kebudayaan dan pembangunan. Biarpun warga desa, tetapi di era ini kamipun juga adalah para peserta arak-arakan karnaval Agustuan. Jaman telah mengantarkan kami hanya sekedar menjadi penonton saja. Kami kinipun adalah subyek pembangunan itu sendiri.

Sebagaimana desa kami Desa Polengan. Meskipun letak dusun kami di kaki Gunung Merapi yang jauh dari pusat kota, namun masyarakat sudah semakin maju dan memiliki kesadaran tinggi untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan bangsa kita. Salah satu agenda yang kami gelar adalah karnaval budaya dan jalan santai. Acara tersebut tepatnya digelar pada Ahad, 27 Agustus 2017 yang lalu.

Desa kami yang terdiri atas enam dusun, masing-masing dusun menampilkan atraksi karya pembangunan di dusun masing-masing. Dusun Polengan misalnya, untuk karnaval tahun ini menampilkan atraksi utama berupa patung onta dan replica Al Qurán raksasa. Dusun Gowok dengan boneka ogoh-ogoh salah seorang tokoh dunia pewayangan. Dusun Lembar menampilkan patung kerbau raksasa hitam dan grup brodut alias kobra dangdut. Dusun Babadan menyuguhkan beberapa mobil hias yang menampilkan hasil produk pertanian unggulan, seperti ketela mukibat, gunungan buah-buahan, juga lutungan grasak. Dusun Gejayan tampil meriah dengan musikalitas angklungnya. Adapun dusun kami, Kronggahan, turut menyemarakkan dengan barisan tank, tentara pejuang, kupu-kupu kertas, ndayakan anak-anak.

Di luar warga yang tampil dari kelompok-kelompok kesenian dan berbagai kostum karnaval, warga masyarakat yang lain turut mengiringi rombongan dengan berjalan santai. Jadilah acara kali ini merupakan perpaduan antara karnaval dan jalan santai.

Untuk menyemangati dan mengapresiasi semangat warga yang antusias untuk turut berpartisipasi memeriahkan pawai karnaval dan jalan santai, dari pemerintah desa dan beberapa sponsor telah menyediakan berbagai hadiah dan doorprize. Setiap peserta kegiatan mendapatkan kupon undian yang diundi pada akhir acara berbarengan dengan pentas seni. Ada berbagai hadiah yang tersedia, mulai dari handuk, panci, ember, kaos, bakul, panci, sabit, cangkup, alat semprot, garbu, hingga yang cukup bernilai seperti kompor gas, angkong, dan mesin cuci.

Kebersamaan, keguyuban, dan nilai gotong royong adalah spirit yang senantiasa ingin kami amalkan dan tingkatkan sebagai kunci utama tujuan karnaval budaya dan jalan santai setiap tahunnya. Kemerdekaan adalah karunia Tuhan yang sangat berharga bagi bangsa kita. Adalah sudah sewajarkan jika kita mensyukuri nikmat tiada tara tersebut dengan terus menggelorakan semangat nasionalisme, sifat welas asih dan tepa slira dalam keberagaman yang kita miliki untuk turut mendukung serta mensukseskan program-program pembanguan di lingkungan kita masing-masing. Tentu saja ujung dari semua hal tersebut adalah terwujudnya masyarakat yang tentram dan damai, adil dan sejahtera dalam kehidupan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ini kisa Perayaan Agustusan di desa kami. Bagaimana di lingkungan tempat tinggal Anda? Salam Merdeka dan salam Merdesa!

Tepi Merapi, 27 Agustus 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s