Angon Bocah ke Candi Gedong Songo


Mudik ke Magelang via Semarang pada Lebaran kemarin memang bukan hanya sebuah kebetulan. Dikarenakan setiap musim mudik Lebaran selalu susah mendapatkan tiket kereta api arah Jogja,  maka pilihan kami selalu mudik lewat Semarang. Dengan demikian, sekaligus mendayung satu-dua pulau terlampaui, maka kamipun sekaligus membuat rencana perjalanan. Salah satunya adalah menyambangi komplek percandian Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran.

Demi efektivitas perjalanan bersama keluarga, maka untuk perjalanan lanjutan dari Semarang ke Magelang kami memilih menggunakan mobil sewaan. Berkenaan dengan mobil yang kami sewa sistemnya sewa harian, sekaliguslah sambil menuju arah Magelang kami meminta mampir ke Gedong Songo. Bukan tanpa sebuah alasan kenapa Gedong Songo. Meskipun saya pernah mengunjunginya, namun kami sekeluarga belum berkunjung secara bersama-sama.

Lha bagaimana dengan puasa kami? Kok malah mendaki lereng gunung yang membuat nafas ngos-ngosan, kerongkongan kehausan, badan keletihan, dan pastinya perut pastinya keroncongan abis. Ya, puasa ya tetap puasa! Jalan-jalan ya tetap jalan-jalan. Tentu rumusan ini hanya berlaku untuk kami yang dewasa. Noni Nadya yang masih balita tentu belum puasa. Adapun bagi si Ponang,  dikarenakan karena status kami sebagai musafir ya sekuatnya saja. Jika dirasa lelah, capek, haus dan lapar ya ia kami persilakan untuk medhot puasanya.

Situs candi merupakan sebuah saya Tarik tersendiri bagi anak-anak. Meskipu telah berkali-kali mengunjungi banyak candi di daerah Magelang dan Jogjakarta, namun kunjungan kami ke Gedong Songo tidak sama sekali mengurangi minat kedua bocah kami untuk bersemangat menyambanginya. Nama candi yang berbeda, lingkungan dan tempat yang berbeda mungkin senantiasa menjadi daya tarik baru bagi setiap manusia tak terkecuali yang masih usia anak-anak sekalipun.

 

Jadilah begitu kendaraan parker, kedua bocah kami langsung ngeloyor turun dan menuju loket tiket masuk. Setelah kami memegang tiket, mereka berdua segera menghambur sambal setengah berlarian menuju gerbang utama area Candi Gedong Songo. Menikmati kesejukan hawa pegunungan yang segar, melihat hamparan perbukitan dan hutan-hutan yang menghijau senantiasa membangkitkan energi tersendiri untuk memulai suatu petualangan.

Bangunan Candi Gedong Songo, sebagaimana namanya memang secara lengkap terdiri atas Sembilan buah bangunan yang candi yang terpisah satu sama lain. Demikian menemukan candi yang pertama, si Ponang dan Noni segera menghamburkan diri di area pelatarannya dan minta difoto berkali-kali. Mereka juga sangat antusia untuk menjelajah satu per satu sisi candi dan relung ruang yang ada. Setelah sebelumnya kami kasih tahu bahwa Candi Gedong Songo terdiri atas sembilan bangunan candi, setelah puas dengan candi pertama merekapun dengan semangat 45 ingin segera menemukan candi berikutnya. Walhasil mereka segera setengah berlari menyusuri jalanan setapak sebagaimana panduan arah yang ada.

Jalur jalan setapak penghubung candi pertama dan kedua adalah jalur yang menurut saya paling berat sekaligus menantang. Jalanan berbatu nan berkelok itu dibuat melingkar dan mendaki lereng terjal yang cukup curam. Namun entah dengan energi yang datangnya dari mana, justru si Noni Kecil terus setengah berlarian menapakinya. Kami, terutama ibunya dibuat ngos-ngosan untuk mengejar dan senantiasa menjaganya. Setelah berjalan lebih dari 20 menit dengan mendaki jalan berbatu terjal, jalananpun menurut diantara tanaman pinus yang dipagari perdu rapat di kanan-kirinya. Sejenak kemudian tibalah kami di candi ke dua.

Sebagaimana di candi pertama, kedua bocah kami kembali menampakkan rasa kegembiraannya. Mereka seolah-olah benar-benar tenggelam dalam keasyikan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka sendiri. Berlarian, naik turun tangga candi, keluar masuk ruang relung candi, bahkan sambil sesekali bersenandung dan bernyanyi.

Tantangan selanjutnya menuju candi ke tiga dan ke empat yang berada pada satu pelataran. Meskipun jalanan kembali menanjak, namun si Noni masih terus bersemangat. Tanpa menampakkan rasa lelah dan nafas yang normal, ia berjalan cepat pada barisan terdepan. Ia bahkan jauh meninggalkan saya, ibunya, dan juga kakaknya. Candi yang dituju kali ini memang memiliki sedikit keistimewaan berkenaan tepat di sisi belakangnya terkepul asap putih dengan bau khas belerang. Memang kedua candi ini terletak di atas sebuah lembah yang memancarkan air hangat sebagai sisa aktivitas gunung berapi.

Maksud hati memang ingin menungunjungi hingga lokasi candi ke sembilan sebagaimana namanya komplek Candi Gedong Songo. Namun berkenaan dengan jalur menuju candi-candi berikutnya relatif memutar dan cukup jauh, bahkan naik turun lembah yang curam, kamipun memutuskan untuk menyudahi petualangan kami hanya sampai di candi ke tiga dan ke empat saja. Selain hal itu, tentu saja pertimbangan puasa kamii yang menuntutkan kami harus bisa mengukur diri dan tahu batas kemampuan tubuh-tubuh lemah kami.

Petualang ke Candi Gedong Songo tersebut tentu sangat bermakna bagi keluarga kami. Setelah pada kesempatan liburan Lebaran tahun sebelumnya kami menyambangi Candi Sambisari, Candi Gunung Ijo, dan Candi Barong yang kesemuanya berada di selingkaran Candi Prambanan, kali ini kami diperjalankan menyambangi candi di lereng Gunung Uangaran. Mudah-mudahan di kesempatan selanjutnya kami dapat pula mengunjungi candi-candi di dataran Dieng ataupun yang ada di lereng Gunung Lawu. Bravo!

Bulaksumur, 24 Agustus 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s