Dilema Sepeda Motor untuk Sekolah Anak


Sebut saja tetangga samping rumah kami tersebut Pakde dan Bude. Mereka tinggal pada salah satu rumah petak yang ada di kampung kediaman kami. Tentu saja kondisi tersebut sangat berkaitan dengan mata pencarian keduanya di sektor informal dengan pendapatan yang hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari.

Dari ketiga putra-putrinya, dua diantara yang terbesar sudah berumah tangga dan memiliki pekerjaan masing-masing. Adapun si Ragil, pada saat ini baru memulai pendidikan di bangku SLTA. Berkenaan dengan nilai kelulusan pada saat SMP serba pas-pasan, maka sekolah negeri yang semula diincar tidak dapat dimasukinya. Jadilah ia kemudian sekolah pada sebuah sekolah swasta.

Dari sisi lokasi, sekolah si Ragil tersebut sebenarnya hanya berada di kecamatan sebelah. Dari segi jarak tempuhpun sebenarnya juga tidak sebegitu jauh, mungkin tidak lebih dari jarak 5 km. Meskipun tidak berada tepat di pinggiran jalan, namun ada satu jalur angkot yang dapat mengakses mulut gang dari sekolah tersebut. Namun demikian, keluarga kecil tersebut pada saat ini tengah menghadapi dilema berkaitan pulang-perginya si Ragil ke sekolah.

Semenjak awal permulaan tahun ajaran baru beberapa waktu lalu, si Ragil senantiasa diantar-jemput oleh ayahnya dengan sepeda motor tua “bodhong“. Ya, sepeda motor bodhong karena memang surat-suratnya sudah lama mati dan tidak pernah lagi dibayarkan pajaknya. Namun ya sepeda motor itulah yang menjadi tulang punggung mobilitas keluarga kecil tersebut. Hanya saja untuk hari-hari tertentu, berkaitan dengan kerja paruh waktu si Ayah, maka ia tidak dapat selalu mengantar-jemput si Ragil. Berawal dari hal inilah, si Ragil kemudian merengek untuk minta dibelikan sepeda motor sendiri saja! What? Anda percaya dengan hal ini?

Dan yang membuat kami heran tidak habis pikir, kedua orang tuanyapun seolah membenarkan dan kemudian menyetujui keinginan si Ragil. Maka sejak beberapa waktu, mereka tanya sana-sini soal motor sekenan. Selain itu, tentu saja mulai gerilya kian kemari untuk mencari pinjaman uang untuk membeli motor tersebut. Bagaimana menurut Anda semua? Apakah sewajarnya dalam kondisi yang sudah serba terbatas, keluarga kecil tersebut harus memaksakan diri untuk membeli sepeda motor untuk keperluan sekolah anaknya tersebut?

Saya pribadi berpikir alangkah kurang bijak apabila anak remaja sebagaimana si Ragil sudah dipegangi sepeda motor tersendiri. Di samping kondisi ekonomi kedua orang tua yang serba pas-pasan dan pastinya lebih memiliki kebutuhan lain yang lebih prioritas, adalah kurang bijak memberikan sepeda motor untuk anak remaja yang relatif masih labil dan belum bisa sepenuhnya memegang tanggung jawab. Di sisi lain, alangkah tidak etisnya mengajarkan kepada anak dalam kondisi kehidupan yang penuh keprihatinan justru menurutkan egonya sendiri.

Kami, beberapa tetangga, lebih menyarankan agar si Ragil naik angkot saja ke sekolah. Tokh meskipun naik angkota, jarak tempuh, waktu, maupun jalan kakinya untuk sampai ke sekolah yang tidak begitu lama. Masih sangat terjangkau untuk mebilitas sekolah. Mendengar pendapat yang kami utarakan, si Bude malah berargumen bahwasanya anak tidak tahu dimana harus naik-turun angkot di lokasi dekat sekolahannya. What? Wuaaduh? Terus gimana para sedulur sekalian?

Apakah kalau belum tahu arah dan titik naik-turun angkot meneju sekolahnya, si Ragil yang sudah remaja tidak dapat mencari tahu dan jalan sendiri? Kalaupun belum berani pergi sekolah naik angkot, apakah tidak bisa orang tuanya mengantarkannya pada saat-saat awal misalnya? Heran juga kan mendengar alasan seperti dari seorang anak remaja dan kok ndilalahnya orang tuanyapun tidak kalah tidak kreatifnya. Dimanakah letak kemandirian seorang anak dan bagaimanakah sikap orang tua untuk menanamkan kemandirian itu dalam kasus seperti ini.

Kalaupun naik angkot dirasa boros angkos, saya malah lebih berpikir untuk membelikan sepeda biasa untuk si Ragil. Tokh jarang 4-5 km pada jalanan datar tidak akan terlalu jauh dan lama untuk ditempuh. Mungkin kalau pilihan ini yang dipilih, si Ragil akan dapat lebih mandiri, berlatih untuk berprihatin dalam hidup. Di samping itu, dengan sepeda juga akan menjadikan tubuh sehat karena setiap hari sekaligus berolah raga.

Namun nampaknya soal pilihan sepeda motor, naik angkot, ataupun sepeda biasa adalah bukan semata-mata soal kebutuhan yang harus berkompromi dengan keadaan. Saya melihatkan justru bergeser ke persoalan gengsi dan harga diri. Duh, Gusti jaman memang sudah edan. Bagaimana mungkin semakin banyak orang tidak mau bercermin pada kemampuan diri sendiri. Gaya hidup dan previlage serba wah lah yang dikejar-kejar orang untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Biarpun miskin tetapi kalau tidak sombong kayaknya ketinggalam jaman! Benarkah demikian yang berlaku di jaman ini?

Melihat hal demikian, kami dan beberapa tetangga lain sempat merasakan rasa heran. Kamipun kemudian seolah bersepakat, kalaupun kami memiliki sedikit simpanan kami tidak dakan mengulurkan tangan untuk meminjami keluarga tersebut dalam membeli motor untuk si Ragil. Kalaupun kami harus saling bantu untuk biaya kebutuhan sekolah si Ragil yang urgen dan penting, kami tidak merasa keberatan. Namun kalau untuk membelikan motor di tengah serba keterbatasan keluarga dan tetangga sekitarnya, nampaknya kami menjadi tidak bijak untuk membantunya.

Anak polah, bapa memang harus pradhah. Anak memiliki keinginan memang sudah sewajarnya jika kedua orang tuanya kemudian harus bersusah payah untuk mewujudkannya. Namun satu kunci yang tidak boleh ditinggalkan adalah bersikat bijaksana untuk menuruti keinginan anak sesuai dengan kadar kebutuhan dan kesesuaian usianya. Perwujudan rasa sayang bukan berarti harus memenuhi setiap keinginan anak yang memang belum benar-benar menjadi kebutuhannya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka justru kita sebagai orang tua telah menjerumuskan anak kepada kemalangan di masa depannya.

Mrican Baru, 23 Agustus 2017

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s