Dunia Terbalik Bendera Terbalik


Sehari dua hari ini, sebagaian dari masyarakat kita terlibat diskusi bahkan perdebatan yang seru mengenai merah-putih yang terbalik putih-merah dalam even pesta olah raga persabahatan di negara tetangga, SEA Games XIX. Ada yang bersikap moderat dengan memakluminya sebagai sebuah kekhilafan yang tidak disengaja. Namun ada meresponnya dengan membawa harga diri yang tinggi. Untuk yang kedua ini ada yang dilandasi rasa kecintaan dan nasionalisme yang menggelora, tetapi tidak sedikit diantaranya yang terbawa arus emosi sesaat.

Secarik bendera memang hanyalah sebuah kain. Secarik kain itupun kebetulan memiliki warna merah dan putih. Namun terlepas dari hanya sekedar secarik kain, sekedar warna merah dan putih, kitapun tentu paham akan makna sebuah simbol. Sebagai human symbolicum, manusia memaknai benda maupun karakteristik yang melekat kepadanya lebih dalam daripada sekedar perwujudan atau penampakan fisiknya. Sebagaimana manusia yang memiliki dimensi jiwa dan raga, fisik dan psikis, demikian halnya sebuah benda sebagai simbol. Demikian halnya dengan Sang Merah Putih kita!

Merah putih adalah perlambang kemerdekaan sekaligus kedaulatan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Dalam genggaman alam penjajahan, merah putih adalah simbol perlawanan dan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Keberanian mengibarkan merah putih adalah keberanian untuk mati. Betapa untuk sekedar mengibarkan merah putih, jiwa dan raga ribuan pejuang menjadi taruhannya. Dalam masa seperti itu pilihannya mungkin hanyalah tetap hidup dengan memendam semua cita-cita dan keinginan untuk dapat mengibarkan merah putih, atau berani mengibarkan merah putih dengan risiko kematian. Merah putih adalah simbol perlawanan.

Merah adalah darah. Putih adalah tulang. Merah adalah berani. Putih adalah kesucian. Merah putih bermakna keberanian untuk membela kesucian, membela kebenaran, membela keadilan, membela semua tata nilai dan norma kebajikan yang diyakini dalam setiap nurani manusia. Merah putih harga mati!

Ketika kemerdekaan berada di genggaman kita, kitapun memiliki kemerdekaan untuk mengibarkan merah putih. Merah Putih tidak terhenti sebagai sekedar selembar kain bendera. Merah Putih tidak lagi sekedar paduan dua warna merah dan putih. Merah Putih sudah menjadi harga diri, dengan demikian juga merupakan harkat dan martabat kita sebagai bangsa Indonesia.

Menyikapi kekeliruan yang dilakukan saudara serumpun negara kita, alangkah bijak jika kita menaati titah dan arahan pemimpin kita untuk tidak terlalu membesar-besarkannya. Tentu sikap tersebut bukan berarti bahwa kita rela dihina, diinjak, bahkan dilecehkan oleh bangsa lain. Namun jika upaya diplomasi dan komunikasi sudah dilakukan, apabila mereka sudah menyatakan penyesalan atas kekhilafannya serta sudah meminta maaf secara terbuka, sudah berkomitmen untuk melakukan segala tindakan koreksi, saya rasa baiknya permasalahan yang terjadi tidak perlu diperpanjang-lebarkan.

Seandainya sepakat mengambil sikap secara ber-khusnudzan, dan menganggap peristiwa tersebut sekedar sebagai sebuah kekhilafan yang hadir secara manusiawi, saya rasa tidak akan mengurangi sama sekali harga diri serta harkat-martabat bangsa kita. Bangsa lain justru akan melihatnya sebagai sebuah kebesaran jiwa bangsa Indonesia. Bukankah banyak pula kejadian pengibaran bendera oleh putra-putri bangsa sendiri yang tanpa sengaja terbalik warnanya menjadi putih merah dan kita anggap sebagai sebuah ketidaksemataan semata? Bukankah dalam peristiwa seperti itu kitapun kemudian tidak serta merta menyimpulkan bahkan menghakimi bahwa pengibarnya telah menghina dan melecehkan bendera dan bangsa kita?

Dengan berefleksi diri bahwasanya banyak fakta dan keadaan di negara kita yang justru terbolak-balik, sebagaimana sinetron Dunia Terbalik, tiba saatnya untuk memperbaiki diri..

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kebesaran bangsa Indonesia tidak akan pernah dinodai oleh bangsa lain sepanjang kita selaku bangsa sendiri masih senantiasa menjunjung tinggi harkat dan martabat kebangsaan kita sendiri. Ketika seseorang atau suatu kaum yang mulia di hadpaan Tuhan diperhinakan, direndahkan, bahkan dilecehkan, maka tidak berkurang sesuatu apapun pada bangsa besar tersebut kecuali justru bertambahnya derajat kemuliaannya. Sebaliknya bangsa yang menghinakan bangsa lain tidak akan bertambah kemuliaannya, kecuali justru bertambah hina derajat dan mertabatkan dalam percaturan pergaulan bangsa-bangsa di duna, terlebih lagi di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Saya yakin kita semua sangat tahu perihal ini. Semoga.

Ngisor Bimbing, 20 Agustus 2017

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Dunia Terbalik Bendera Terbalik

  1. kusumah wijaya berkata:

    sungguh sangat disayangkan kalau malaysia teledor

    Suka

    • sang nanang berkata:

      bener Om Jay, sepertinya di Sea Games kali ini banyak trick dan rekayasa yang digencarkan tuan rumah untuk meraih juara secara tidak elegan

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s