Dilema Fullday School SD Panglima


Sudah sejak tiga tahun silam si Ponang duduk di bangku SD Panunggangan 5, Ya, saat ini ia berada di kelas 4. SD Panunggangan 5 biasa disingkat sebagai SD Panglima. SD ini berada satu halaman dengan SD 11 dan berlokasi di belakang Kantor Kelurahan Panunggangan, Kota Tangerang. Dengan demikian, secara geografis, SD ini masih berada di pinggiran ibukota Jakarta.

Letak SD Panglima yang masih sangat dekat dengan ibukota negara ternyata tidak secara otomatis menjadikannya sebagai sekolah dasar yang memiliki infrastruktur bangunan yang memadai. Pada saat ini SD Panglima memiliki enam ruang kelas. Namun demikian jumlah siswa di SD tersebut tercatat 12 kelas, masing-masing kelas 1 hingga kelas 6 secara paralel. Dengan keterbatasan ruang kelas tersebut, maka siswa masuk sekolah dibagi ke dalam tiga shift waktu. Ada yang masuk pukul 07.00 pagi, ada yang jam 10.00, dan shift terakhir masuk pada jam 13.00.

Pada jam tertentu, khusus untuk jam pelajaran olah raga maupun kegiatan Pramuka dan ekstrakulikuler, anak-anak terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Kadang di teras kelas, kadang di tengah lapangan, bahkan kadang di bawah pohon beringin. Tentu saja jika cuaca sedang tidak mendukung, seperti hujan lebat yang turun, maka aktivitas itupun bubar seketika, dan masing-masing siswa pontang-panting menyelamatkan diri.

SD di pinggiran ibukota kekurangan ruang kelas? Anak SD harus bergiliran menggunakan ruang kelas? Anak SD sudah harus masuk sekolah selayaknya buruh pabrik yang masuk kerja secara shift-shiftan? Inilah fakta di depan mata para petinggi negara yang ditugaskan memikirkan dunia pendidikan bagi anak-anak kita. Tentu ini bukan bahan lelucon maupun olok-olokan. Ini fakta!

Jika kondisi sekolah yang ada di pinggiran ibukota negara saja kondisinya demikian, tentu kita yakin bahwa kondisi yang jauh lebih tidak kondusif ada di pelosok-pelosok daerah yang terpencil. Saya yang dulu sekolah di SD pucuk gunung saja, siswa dapat bersekolah mulai pagi semua. Tidak ada istilah anak masuk sekolah pagi, setengah siang, dan waktu siang. Lha ini anak kami sudah punya pengalaman menjalani sekolah dari yang model masuk pagi jam 07.00 di kelas 1, masuk jam 10 di kelas 2, dan masuk jam 13 di kelas 3 dan kelas 4 sekarang ini.

Dengan kondisi sebagaimana yang terjadi di SD Panglima tersebut di atas, pendekatan logika seperti apakah yang paling logis sehingga kebijakan pelaksanaan sekolah satu hari penuh, alias Full Day School, dapat diterapkan. Kami hanya melihat dukungan kecukupan infrastruktur ruang kelas saja. Belum lagi dilematika bakal terlantarnya metode pendidikan tiga pilar yang meliputi pendidikan di sekolah, di keluarga dan di tengah masyarakat. Belum lagi soal bakal terlantarnya sekolah madrasah ataupun TPA yang biasanya berlangsung di waktu sore hari.

Sebagaimana fakta kurangnya ruang kelas di SD Panglima, bayangkan jika siswa harus belajar seharian penuh! Dimana mereka dapat belajar dengan baik jika ruang kelas tidak mencukupi. Apakah dari pagi hingga sore hari mereka harus berpanas-panas ria ataupun berhujan-hujanan di tengah lapangan? Akh, saya benar-benar menjadi gagal paham dengan kebijakan Mendikbud yang sekarang menjadi pro-kontra berkepanjangan ini.

Kalau berbicara tekad dan niat untuk mengembangkan sistem pendidikan yang memperkuat budi pekerti dan karakter siswa, apakah memang sistem fullday school satu-satunya pilihan untuk diterapkan? Semoga para penentu kebijakan itu bisa bersikap lebih arif lagi dalam menetapkan aturan dan pastinya harus didukung dengan suatu kajian yang seksama serta konprehensif. Bagaimana pendapat Sampeyan mengenai hal ini?

Lor Kedhaton, 11 Agustus 2017

Gambar dipinjam dari sini, dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s