Asian Youth Day


Hari itu saya memang kangsenan dengan Pakdhe Blontank untuk sekalian nyangking pesenan Blontea dari beberapa kolega di ibukota. Sehubungan Pakdhe ada acara di Jogja Expo Center, alias JEC, maka sayapun memerlukan diri untuk menyamperinya di sana.

Sedari pagi hari Jogja memang terlindung awan. Hal itu justru menjadikan cuaca tidak begitu terik. Ketika menjelang tengah hari saya tiba di kawasan JEC, nampang puluhan bus pariwisata tengah memasuki depan pintu utama JEC. Dari bus tersebut kemudian turun ratusan penumpang yang rata-rata terdiri anak remaja dan muda-mudi. Sedari baliho raksasa di pintu pagar hingga lobbi utama memang terpampang tulisan besar Asian Youth Day.

Asian Youth Day? Ha? Apa ada to Asian Youth Day. Saya sendiri cukup surprise ketika pertama kali mendapati tulisan di berbagai baliho, umbul-umbul dan spanduk yang tersebar di area JEC mengabarkan gelaran Asian Youth Day. Kita memang memiliki Hari Sumpah Pemuda yang dapat diidentikkan sebagai Indonesian Youth Day. Namun Asian Youth Day, sepertinya sebagian diantara kita belum pernah mendengarnya. Hari Pemuda Asia.

Terkait tematiknya adalah Hari Pemuda Asia, saya menyangka bahwa acara tersebut sengaja dihelat oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga untuk mempertemukan para pemuda perwakilan dari negara-negara Asia. Mungkin dalam rangka memperkenalkan keragaman Indonesia. Mungkin dalam rangka mempererat persahabatan. Mungkin dalam rangka promosi pariwisata. Beberapa staf Kemenpora sempat berbisik-bisik melakukan koordinasi di salah satu sudut teras lobi utama. Ditambah lagi pada baliho yang paling besar terlihat wajah Menpora yang tersenyum lebar seolah menyambut semua delegasi pemuda yang datang.

Teka-teki itu baru sedikit tercerahkan setelah dalam kesempatan yang sempit sempat terlibat obrolan dengan beberapa panitia. Meski tidak sepenuhnya meleset, ternyata yang punya gawe melaksanakan Asian Youth Day (AYD) adalah Keuskupan Agung Semarang. Rupa-rupanya rangkaian acara AYD yang berlangsung dari 2-6 Agustus 2017 ini merupakan pertemuan antar pemuda Katholik se-kawasan Asia yang telah terselenggara untuk yang ke-7 kalinya. Tidak mengherankan jika di masing-masing ujung depan rombongan yang mengalir deras turun dari bus berkibar beragam bendera negara-negara Asia. Ada India, Vietnam, Kamboja, Korea, Nepal, Malaysia, Filipina, Taiwan, dlsb.

Mereka sebelumnya telah menjalani keseharian di beberapa keuskupan atau paroki yang tersebar di tanah air untuk dapat secara langsung berinteraksi dengan masyarakat luas. Di samping mengetahui kehidupan keparokian dalam pelayanan jemaat sehari-harinya, mereka sekaligus mengamati dan mempelajari kerukunan antar ummat beragama di tanah air. Keragaman agama di Indonesia dengan sikap saling menghormati dan rasa toleransi yang tinggi sebenarnya mengundang kekaguman banyak negara. Bagaimana mungkin di negara yang terdiri atas beragam suku, beragam agama, beragam budaya dan adat istiadat, bangsa kita telah mencatatkan sejarah sebagai bangsa yang rukun dan damai. Hal ini tentu saja merupakan aset kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat bernilai.

Menunggu pembukaan puncak acara AYD, para pemuda saling berbaur satu sama lain. Di panggung ruang utama ditampilkan berbagai tarian maupun seni dari berbagai negara yang dibawakan secara apik oleh masing-masing delegasi. Untuk lebih memperkenalkan ragam budaya milik kita, di teras depan ruang utama juga digelar  karya seni instalasi yang sungguh menawan. Ada keset sabut kepala bertuliskan WELCOME yang dirangkai menjadi dinding pintu masuk yang sangat mengesankan. Ada pertunjukan gamelan campur sari yang mendayu. Ada tampilan wayang beber yang mengisahkan perjamuan terakhir bersama sang Kristus. Dan ada pula othok-othok raksasa!

Meskipun dari segi kepesertaan delegasi pemuda yang hadir adalah para Pemuda Katholik se-Asia, namun secara konsep acara tersebut tidak secara eksklusif hanya ditujukan untuk ummat Katholik. Dalam beberapa sesi, bahkan digelar diskusi antar ummat beragama. Nampak hadir dalam sesi-sesi tersebut perwakilan dari beberapa kalangan komunitas lintas agama, seperti Kelompok Gusdurian.

Meskipun bukan menjadi pihak yang secara langsung terlibat dalam perhelatan AYD, namun tidak berlebihan kiranya jika saya turut berharap semoga dengan pergelaran tersebut, para pemuda Katholik se-Asia bisa lebih memahami fakta kerukunan dan toleransi antar ummat beraga yang ada di negara kita. Dengan pemahaman tersebut tentunya masa depan Asia dan dunia padanya umumnya akan semakin diliputi kerukunan yang membawas kepada kedamaian dan kesejahteraan abadi. Biarpun kita berbeda agama dan keyakinan satu sama lain, namun kita adalah sesama ummat manusia. Mari rukun dengan siapapun.

Lor Kedhaton, 4 Agustus 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s