Kemegahan Payung Agung di Masjid Agung Jateng


Sejarah awal mula Kota Semarang tidak terlepas dari Kerajaan Demak maupun Kanjeng Sunan Kalijaga. Adipati Pandanaran yang merupakan salah seorang murid Kanjeng Sunan Kalijaga, di samping mendapat tugas untuk membangun Semarang sebagai kota pelabuhan utama untuk mendukung Demak, juga mengemban misi untuk menyebarkan agama Islam di wilayah yang dulunya bernama Bergota. Dengan demikian ajaran Islam tentu sudah mengakar kuat dalam adat maupun tradisi masyarakat Semarang hingga saat ini. Kita bisa menyebut dugderan, kisah Cheng Ho, hingga beberapa masjid bersejarah.

Akar dan tradisi pengaruh Islam yang kuat di Semarang salah satunya ditandai dengan keberadaan beberapa masjid yang bersejarah. Masjid Agung Semarang, atau dikenal pula sebagai Masjid Kauman Semarang, konon merupakan masjid tertua di Kota Atlas tersebut. Selanjutnya di masa pemerintahan Gubernur Soepardjo Roestam, di lingkar Simpang Lima berdiri pula Masjid Agung Baiturahman. Kini, seiring perkembangan Islam yang juga semakin marak di Semarang, masyarakat Semarang memiliki Masjid Agung Jawa Tengah di daerah Gayamsari.

Dari segi arsitektur dan luas bangunan, tentu saja masjid yang tersebut terakhir paling mewakili entitas modernitas suatu jaman. Masjid Agung Jateng kini menjadi masjid termegah, terbesar, tercanggih, dan termodern, tidak saja hanya di Kota Semarang, bahkan di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang terdiri atas 35 kabupaten/kota. Dari arsitektural bangunan, Masjid Agung Jateng merupakan perpaduan dari berbagai pengaruh budaya, mulai Jawa, Timur Tengah, hingga Romawi.

Memasuki gerbang pintu utama area Masjid Agung Jateng, jamaah akan menjumpai sebuah menara gagah perkasa yang berdiri tinggi menjulang seolah menembus langit hingga ke tingkat tujuh. Menara tersebut dinamakan Menara Al Husna. Dengan ketinggian 99 meter, menara tersebut merupakan simbolisasi asmaul husna yang merupakan nama-nama indah milik Allah SWT. Menara tersebut sekaligus difungsikan sebagai studio radio, stasiun tivi, museum, restoran, dan manara pandang.

Untuk menuju bangunan masjid utama, jamaah dapat terus lurus mengikuti jalur utama dengan menaiki tangga berundak-undak. Sebelum tiba di bangunan utama, pengunjung terlebih dahulu melewati pilar-pilar kokoh berjumlah dua puluh lima. Pilar dengan gaya arsitektural Romawi-Yunani tersebut merupakan perlambang jumlah nabi dan rasul sebagaimana tersebut di dalam kitab suci Al Qur’an. Nuansa arsitektural bergaya romantik-klasik ini menghadirkan gaya bangunan Eropa klasik.

Selepas melintasi pilar dua puluh lima rasul, jamaah akan menapaki sebuah pelataran luas yang sekaligus difungsikan oleh menambah area sholat, khusus pada saat pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Hal yang paling menakjubkan di area pelataran ini adalah keberadaan enam buah payung hidrolik raksasa sebagaimana yang terdapat di Masjid Nabawi Kota Madinah Al Munawwaroh. Payung raksasa dengan tinggi 20 m ini dapat dikembangkan dengan panjang bentangan mencapai 14 m. Payung agung ini khusus hanya dibentangkan pada saat sholat Idul Fitri dan Idul Adha saja. Enam payung ini tentu saja melambangkan rukun iman yang berjumlah enam, meliputi iman kepada Allah, kitab Allah, rasul Allah, malaikat Allah, hari akhir, serta Qodza dan Qodar-Nya.

Menurut pengamatan saya yang sudah dua kali berkesempatan mengunjungi Masjid Agung Jateng, payung agung ini merupakan simbol modernitas masjid yang masih sangat langka, bahkan satu-satunya di tanah air. Meskipun belum pernah menyaksikan proses mekarnya payung agung yang lebih sering dalam posisi sebagai kuncup tombak raksasa, namun sebagai orang Jateng tentu saja dapat merasakan rasa kebanggaan yang membuncah memiliki masjid dengan payung canggih sebagaimana yang ada di Kota Madinah.

Setelah melintasi pelataran yang tentu saja menghadirkan permukaan lantai yang panas di tengah terik sinar matahari, jamaah dihantarkan memasuki bangunan utama masjid. Dengan menapaki anak tangga, kita memasuki pintu utama masjid dalam posisi yang lebih tinggi dibandingkan pelataran di depannya. Bangunan utama masjid merupakan bangunan dengan atap berbentuk limas yang menghadirkan kekhasan bangunan gaya joglo yang merupakan rumah adat masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Berbeda dengan atap limas bersusun tiga sebagaimana terdapat di Masjid Agung Demak, atap di Masjid Agung Jateng sama sekali tidak bersusun. Di bagian atas limas tunggal yang ada justru terpasang sebuah kubah raksasa berwarna putih dengan diameter lebih dari 20 meter. Bentuk kubah sangat khas dengan gaya kubah di India maupun Timur Tengah. Di empat penjuru sudut kubah hadir empat buah manara kecil dengan tinggi kurang lebih 62 meter.

Kemegahan, keunikan, serta modernitas Masjid Agung Jateng yang berdiri indah di atas lahan luas terbentang lebih dari 10 hektar kini menjadi ikon tersendiri bagi masyarakat muslim di Jawa Tengah. Selain memiliki fungsi utama untuk tempat peribadahan, Masjid Agung Jateng kini menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kota Semarang. Para wisatawan religi, khususnya ummat Islam dapat menjadikan masjid terbesar kebanggaan masyarakat Semarang dan Jawa Tengah ini sering menjadi tempat peziarahan baru. Bahkan untuk menunjang hal tersebut, di area masjid tersedia penginapan untuk para peziarah.

Belum pernah menyambangi Masjid Agung Jateng? Pasti menyesal jika ke Semarang tidak mampir ke sini. Monggo!

Lor Kedhaton, 27 Juli 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s