Reuni Sastrawan-Sastrawati Nuklir Indonesia


Dua puluh tahun bukanlah masa yang pendek untuk suatu perkenalan. Ya, di pertengahan tahun 1996 kami ber-kurang-lebih 40 pemuda-pemudi dipersatukan dalam satu lembaga pendidikan yang berada di sisi utara RSUP Sardjito, hanya beberapa penggal tombak dari bibir Kali Code. Sehubungan dengan posisi padhepokan kami yang berada pada kontur permukaan tanah yang lebih rendah daripada bangunan lain di sekitarnya, maka beberapa almamater menyebutnya sebagai Kampus Ledhok. Di sanalah para cantrik maupun santri calon sastrawan-sastrawati nuklir tanah air menjalani masa penempaan.

Kumpulan kami cukup merepresentasikan warna-warni pelangi Nusantara yang menciptakan mozaik keindahan hidup, bahkan hingga di masa kini setelah sekian lama kami lulus nyantrik. Untuk menyebut beberapa nama daerah asal-usul diantara kami seperguruan ada yang dari Aceh, Medan, Padang, Bangka, Lampung, Tangerang, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Kuningan, Cilacap, Kebumen, Magelang, Semarang, Pati, Salatiga, Wonogiri, Kulon Progo, Gunung Kidul, Jogja, Surabaya, Gresik, Malang, Kediri, Banjarmasin, Manado, Ambon, hingga Tanah Papua.

Perjumpaan, perkenalan, kebersamaan, hingga kemudian perpisahan seiring ladang pengabdian kami masing-masing benar-benar sebuah pengalaman dan nilai perjalanan hidup yang sangat berarti. Memang ada persaingan dan perlombaan dalam arti positif untuk belajar menjadi sosok-sosok pribadi yang lebih baik. Namun diantara semua hal yang kami rasakan, yang paling mengharu biru adalah kekekalan dalam pertemanan, persahabatan, dan pastinya persaudaraan. Ya, kami mungkin di masa itu hanya teman sesama cantrik, namun hari ini, waktu ini, masa ini, kami menemukan semua kawan-kawan kami tersebut adalah saudara-saudara kami.

Sekian lama terpisah jarak ruang dan waktu, beberapa diantara kami yang berdomisili di seputaran Jabodetabek sempat bertatap muka dan berkumpul kembali beberapa hari yang lalu. Tentu pertemuan itu membawa rasa bahagia tersendiri. Ada Ipul Pati, Ipul Cilacap, Harvit, Bagus, Cahya, serta Duo Jelita Fendra dan Donna. Selayaknya sebuah reuni, tentu saja cerita lama sejuta rasa kembali dikisahkan dari ingatan kami. Kisah tentang masa ospek, soal dosen favorit hingga dosen yang paling kontroversial, soal kelucuan dan keluguan yang terjadi, soal contek dan kerja sama, soal masa demo menumbangkan orde baru, soal seorang teman yang selalu jadi langganan digoda bencong, soal tugas akhir dan lain sebagainya.

Pada intinya pertemuan setelah sekian lama tidak bersua itu semakin meneguhkan bahwa kami satu, bahwa kami teman sejati, dan yang pasti bahwa kami adalah kita. Dan kita torang tentu selalu basodara to? Kami yakin bahkan saudara-saudara kami yang tidak turut hadir pada pertemuan kemarin tentu mengaminkan bahwa kita adalah saudara. Saudara abadi yang tak akan lekang oleh waktu. Semoga.

Lor Kedhaton, 25 Juli 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Raya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s