Lelaki Enam Jaman di Masjid Kauman


Sebut saja lelaki yang akan kita bicarakan sebagai Mbah Dinomo. Kakek kelahiran 90 tahun yang silam itu masih tampak segar bugar. Khusus hari-hari dan malam-malam di sepanjang Ramadhan lalu, ia sengaja turun gunung dari kampungnya di Gunung Kidul untuk ber-ramadhan di Masjid Gede Keraton Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat. Saya berkesempatan berbincang panjang lebar dengannya, selepas sholat Maghrib di serambi masjid yang sangat bersejarah di jantung Kota Jogja itu.

Bukan sekedar sebuah kebetulan jika Mbah Dinomo ingin ber-ramadhan secara penuh di Masjid Gede Kasultanan. Sembilan puluh tahun silam, ia dilahirkan di lingkungan kampung Kauman, sebuah kawasan yang tepat berada di sisi barat Masjid Gede yang disebut pula sebagai Masjid Kauman. Ia lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Kedua orang tuanya konon para pekerja pembatik yang menumpang hidup pada seorang juragan yang terpandang di masa itu. Ia adalah generasi yang dilahirkan pada masa paruh akhir pemerintahan kolonial di tanah air.

Meski hidup berprihatin ala kadarnya, Dinomo Kecil adalah bocah yang periang. Selazimnya anak-anak yang belum mengerti banyak persoalan, ia mengisi hari-harinya bermain bersama teman-teman sebayanya. Ia termasuk anak-anak yang gemar berolah raga di Alun-alun Utara, tepat di depan Masjid Gede. Berawal dari sekedar menonton para prajurit keraton gladhen olah kanuragan, Dinomo Kecil terbentuk menjadi bocah yang kuat berlarian keliling lapangan Alun-alun. Serba-serbi ketangkasan atletik sangat ia kuasai. Lari dan lompat kemudian menjadi dasar baginya untuk turut bermain sepak bola dan bela diri. Ia di masa itu juga aktif sebagai salah seorang anggota HW alias Hisbul Wathoni, sebuah organisasi kepanduan di bawah Persyarikatan Muhammadiyah.

Bagi Dinomo, adalah sebuah kebanggaan tersendiri dapat menjadi bagian dari warga Kampung Kauman. Baginya, para bocah, remaja, dan pemuda-pemudi Kauman memiliki kedudukan tersendiri di mata Ngarsa Dalem Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX. Meskipun kepunyaan keraton dan difungsikan untuk kegiatan keraton, namun di pagi dan petang anak-anak Kauman bebas menggunakan lapangan Alun-alun untuk berbagai aktivitasnya. Bahkan apabila ada kelompok pemuda kampung lain akan bermain sepak bola atau menyelenggarakan kegiatan lain di Alun-alun, Ngarsa Dalem senantiasa berpesan untuk taren terlebih dahulu kepada pemuda Kauman.

Industri batik mengalami krisis yang luar biasa seiring kedatangan penjajah Jepang. Perusahaan batik yang ditumpangi orang tuanya gulung tikar. Para pekerja dan buruh yang sebelumnya dapat turut menumpang hidup, harus terusir dan tidak sedikit diantaranya yang menjadi gelandangan di berbagai penjuru kota. Sebagai anak yang sudah beranjak remaja, Dinomo sangat merasakan masa-masa itu sebagai masa terpahit dalam perjalanan hidupnya. Sehari-hari ia hanya mengenakan selembar goni untuk melindungi tubuhnya yang semakin kurus kering. Badannya gatal-gatal penuh dengan penyakit kulit. Untung masa itu tidak terlalu lama berlangsung.

Setelah Indonesia merdeka, Belanda ingin kembali dan menjajah lagi tanah air kita. Pemuda Dinomo turut menjadi bagian dari barisan laskar perjuangan. Bersama dengan beberapa temannya, ia menjadi kurir, pembawa pesan rahasia sekaligus petugas mata-mata. Meskipun badan bahkan nyawa menjadi taruhan dalam menjalankan tugasnya, namun Pemuda Dinomo sangat bangga menjadi bagian dari para pejuang. Ia nampak sangat bersemangat ketika menceritakan penggalan kisah heroiknya menjadi kurir di masa revolusi fisik hingga ke pedalaman Wonogiri, Bantul, Bagelen, bahkan Kedu.

Selepas Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dan hengkang kembali ke negara asalnya, Dinomo yang pernah mengenyam pendidikan dasar itu melamar menjadi guru Sekolah Rakyat. Nasib kemudian membawanya menapaki ladang pengabdian untuk mencerdaskan anak bangsa di kawasan kapur Gunung Kidul. Semenjak pertengahan masa Pemerintahan Soekarno itulah, Mbah Dinomo menetap dan menjadi bagian dari masyarakat Gunung Kidul. Ia menapaki pengabdian dari jaman Soekarno hingga jamannya Soeharto.

Menjelang masa akhir pemerintahan orde baru, Mbah Dinomo memasuki masa purna bakti. Keras dan kering kerontangnya alam Gunung Kidul telah menempa Mbah Dinomo senantiasa lekat dengan kegiatan fisik. Ya jalan kaki kemana-mana, ya nyangkul di ladang, nggaplek ubi kayu, nyabit rumput untuk ternaknya, menimba air dari telaga, dan lain sebagainya. Pada gilirannya, semua aktivitas fisik tersebut telah menempa jiwa dan raganya sehingga sampai di umurnya yang kini menginjak 90 tahun ia masih senantiasa segar bugar. Sebuah hikmah yang senantiasa ia syukuri.

Lebih dari 30 tahun menjalani masa pensiun, Mbah Dinomo semakin bersyukur masih bisa bekerja serabutan. Meskipun sebagai seorang pensiunan guru negeri ia selalu mendapatkan gaji pensiunan, namun ia tidak pernah mau berpangku tangan. Bahkan ia tidak mau merepoti anak-anak maupun para cucunya yang kini semuanya sudah berumah tangga masing-masing. Ia sangat berterima kasih kepada Gusti Allah, meskipun kelihatannya ia hanya lontang-lantung ngalor-ngidul, tetapi setiap bulan ia masih menikmati jatah uang pensiunannya. Ia merasakan pilihannya untuk bersekolah di jaman susah dahulu membawa berkah dan hikmah di sepanjang masa hidupnya.

Kepada saya dan beberapa jamaah lain yang turut larut dalam obrolan dengan Mbah Dinomo, lelaki 90 tahun yang telah menapaki enam jaman itu berpesan untuk baik-baik dalam membina dan mendidik anak-anak. Agama dan ilmu adalah dua kombinasi bekal hidup yang paling utama bagi manusia. Ia dengan kisah romantika hidupnya adalah sekedar salah seorang yang meskipun tidak kaya secara materi, namun ia sangat kaya dengan kekayaan jiwa yang tidak akan pernah ternilai harganya. Obrolan kami segera berakhir seiring berkumandangnya adzan Isya’. Kamipun bergegas untuk berwudlu dan bersiap untuk bertarawih di Masjid Gede yang menorehkan kisah berharga pada salah satu malam Ramadhan lalu.

Lor Kedhaton, 19 Juli 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s