Hari Pertama Masuk Sekolah


Sekian puluh tahun, saya termasuk orang yang mengamati fenomena di setiap pertengahan bulan Juli. Pertengahan Juli, senantiasa identik dengan permulaan tahun ajaran baru. Tentu saja rutinitas tahunan ini hanya berlaku untuk institusi pendidikan formal, mulai tingkat TK, SD, SLTP, hingga SLTA. Tahun ajaran baru tentu menjadi sesuatu yang cukup mendebarkan bagi siswa baru yang baru untuk pertama kalinya memasuki sekolah baru.

Terkait dengan sekolah baru, bagi anak-anak di jaman saya, meskipun cukup mendebarkan bagi diri kami mengenai seperti apa guru-guru kami nantinya, teman baru yang lain, bagaimana model dan pola pembelajarannya, dan lain sebagainya. Namun kami menjalaninya saja dan akhirnya mampu melaluinya. Di masa kami, peran orang tua di hari pertama masuk sekolah boleh dibilang tidaklah menonjol. Kami pergi sekolah sendiri, atau kalau yang memiliki teman satu sekolah di jenjang sebelumnya, ya bersama teman-teman. Tidak ada pemandangan orang tua mengantarkan anak di hari pertama masuk sekolah.

Ya, sudah pasti. Anak-anak pada era dua atau tiga dekade yang lalu memang bisa dibilang jauh lebih mandiri dibandingkan anak jaman sekarang. Tentu saja hal ini tidak bisa dilepaskan dengan situasi dan kondisi jaman yang memang sudah berubah. Untuk anak di era tersebut, keterlibatan orang tua secara intens terkait pendidikan anak-anaknya biasanya terbatas pada saat-saat pencarian atau pendaftaran saja. Selepas penerimaan, proses daftar ualang dan selanjutnya, biasanya anak-anak sudah berani jalan sendiri. Demikian halnya pada hari pertama masuk sekolah, mereka tidak perlu lagi diantar-antar oleh orang tua.

Tentu saja kebiasaan di jaman itu jika dikaitkan anjuran yang pernah dicanangkan oleh Mendikbud (Anies Baswedan) beberapa tahun silam agar orang tua dapat mengantarkan anak-anaknya di hari pertama mereka memulai tahun ajaran baru, bukan berarti tidak tepat untuk mengajarkan kemandirian kepada anak. Satu hal yang paling mendasar bahwa jaman sudah berubah. Orang tua mengantar anak sekolah di masa sekarang merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Orang tua -orang tua jaman sekarang sudah sedemikain sibuk dengan pekerjaan dan urusan lainnya. Mengantar anak ke sekolah memang menjadi sebuah bentuk perhatian yang khusus untuk anak-anak saat ini.

Sekedar berbagi kisah pada saat saya pertama kali masuk di hari pertama bangku SMP. Saya pada waktu itu sama sekali belum memiliki teman baru. Tidak satupun teman satu SD yang bersekolah di sekolah yang saya masuki. Pada hari-hari saat proses pendaftaranpun belum ada calon teman yang saya kenal. Walhasil, pada hari pertama sekolah tersebut terus terang saya dirasuki rasa minder yang luar biasa. Apakah anak desa di kaki Merapi ini nantinya dapat mengikuti pelajaran di sekolah yang katanya sekolahan paling favorit sekabupaten itu? Lalu apa pikiran atau motivasi yang saya lakukan untuk maju melangkah?

Sebelumnya saya pernah mendengar informasi bahwa studi tour untuk siswa kelas III dari sekolah yang saya masuki selalu ke Pulau Bali. Sesuatu yang masih sangat jarang untuk ukuran sekolah di masa itu. SMP kami barulah satu-satunya sekolah SMP yang studi tour ke Bali. Di hari pertama masuk sekolah, di tengah rasa minder yang mendera,  saya sudah berkhayal dan membayangkan pada hari itu kami akan berangkat studi tour ke Pulau Bali. Saya mencoba membayangkan hal yang paling menyenangkan yang kelak akan kami lalui bersama dengan teman-teman yang tentu saja baru akan mulai saya kenal pada hari itu.

Dan alhamdulilah, puji kepada Tuhan. Saat yang tidak mengenakkan itupun berlalu tanpa adanya kejadian yang saya khawatirkan sebelumnya. Satu tahun, dua tahun, bahkan akhirnya tiga tahun bangku SMP tersebut mampu saya lalui. Bangganya lagi ketika lulus dari sekolah tersebut nilai-nilai akhir yang saya dapatkan cukup memuaskan dan menjadi salah satu bukti sejarah hidup bahwasanya anak desa dari gunung belum tentu kalah encer otaknya dibandingkan dengan anak-anak dari lingkungan perkotaan.

Ngisor Blimbing, 16 Juli 2017

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s